Catatan Anak PTIQ

Al-Qur’an sebagai kalamullah yang memiliki daya tarik yang begitu membesar mampu menciptakan banyak peradaban gemilang. Sekelompok masyarakat yang dahulu tidak dikenal oleh dunia, kerjaannya berdagang dan mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain, kaum nomaden yang tidak menetap beranjak dari satu gurun ke gurun yang lain, masyarakat yang tidak dilirik sama sekali oleh imperium Byzantium dan Persia saat itu lantaran status kemanusiaan mereka yang amat memiriskan ditambah lokasi geografis tempat tinggal mereka yang tak menjamin kesejahteraan sama sekali kini tenar dan bercahaya. Mereka adalah masyarakat Arab, masyarakat yang pada akhirnya diturunkan kepada salah seorang dari mereka seorang Nabi yang amat mulia, bersamaan dengannya diturunkan pula kitab suci terakhir al-Qur’an yang memiliki daya gugah begitu membahana.
Al-Qur’an yang mulia itu telah membuat semua mata terpesona, susunan kalimatnya yang begitu menggelora mampu mendongkrak semangat bangsa Arab memicu peradaban yang gilang gemilang, esensinya yang dikandungnya begitu bercahaya mampu membawa mereka yang mengkajinya merasa orang yang paling beruntung sedunia. Al-Qur’an kitab yang membuat jiwa terkesima melebihi roman jenis apapun, jauh melampaui syair gubahan Wiliam Shakespare, jauh melangkahi segala jenis seni apapun yang digagas oleh manusia. Di seluruh dunia di sepanjang peradaban sejarah membentang, al-Qur’an tetap tak tertandingi.
PTIQ merupakan salah satu perguruan tinggi yang berfokus melahirkan sarjana-sarjana al-Qur’an. Jika ditilik dari kurikulum yang dipakai serta warna silabus pengajaran yang diajarkan kepada mahasiswanya maka akan semakin kuat corak yang ditampilkan bahwa PTIQ memang memfokuskan diri melahirkan sarjana-sarjana penggelut kitab mulia yang saya sebut diatas. Sungguh amat memukau dan sebagai mahasiswa yang aktif di dalamnya saya jujur merasa bangga karena bisa berpartisipasi dan berkutat di dalamnya, menjadi bagian dari perluasan cvakrawala dan khazanah al-Qur’an yang amat tak terbatas itu.
Namun begitulah, dibalik langkah yang kita ayunkan menuju jalan terbaik selalu ada hambatan yang menghadang. Dunia tak pernah sepi dari gugatan. Dunia tak pernah sunyi dari masalah yang menjegal. Hiruk pikuk antara semangat yang membara dan rasa malas yang menyala akan selalu hadir mengisi dinamika kehidupan. Semua berintegrasi mewarnai jalan kehidupan.
Meski demikian, Tuhan memberi kekuatan lebih buat yang dikehendakinya menjadi orang sukses. Ia beajar dari kesalahan demi kesalahan yang diperbuat. Ia tobat dari kekhilafan sambil menancapkan tekad bahwa ia tak akan mengulngi kekeliruan yang sama. Ia tekuni jalan yang menyebabkan dirinya hancur sambil berusaha sekuat tenaga menghindarinya.
Saya yang tengah kehilangan spirit mencoba untuk menghimpun kembali serakan demi serakan semangat yang tercecer di berbagai tempat. Mau saya satukan lalu saya rekonstruksikan. Semoga berhasil, dan dengan demikian saya mampu mendapat percikan berkah dan manfaat dari kitab yang oleh Ahmad Deedat, seorang kristolog ternama, katakan “Kitab Perjanjian Terakhir.” Tidak ada kitab selainnya yang lebih bermakna. Kucuran Inspirasi yang mengalir deras ke dalam pikiran adalah salah satu tujuan yang saya harapkan. Yang kelak akan menuntun hidup saya sesuai dengan korido yang Tuhan gariskan. Kiranya Tuhan perkenankan. Amien. J
Keisbukan di organisasi harus diminimalisir. Keisbukan untuk bercanda bersama teman harus dikurangi, asal kita tahu porsi itu sudah bagus. Kesibukan untuk mengenyangkan perut harus disedikitkan, agar tidak mudah terkantuk saat baru saja menyentuh mushaf. Kebiasaan membaca agak dikurangi, karena dikhawatirkan membuat ekstase diri dan menyita jam mengkaji al-Qur’an. Menulis satu hari satu tulisan dengan standar 3000 karakter tanpa spasi setiap harinya harus selalu berjalan, karena menulis adalah soal keahlian yang jika tidak diiringi dengan latihan berksenimbangunan maka ia akan pudar dan lama-lama menghilang sama sekali dari peredaran. Dan tentunya, pengerahan pikiran dan perhatian kepada al-Qur’an harus ditingkatkan dengan optimal!

Perpus PTIQ, 14 September 2015

Komentar

Google + Follower's