Listen Me, Sad!

Seorang teman mengeluh kepadaku bahwa menulis baginya amatlah berat. Menuangkan gagasan yang ada di kepala ke dalam guratan pena terasa sukar, seakan ada sempalan yang menyumbat jalur pendistribusian ide ke dalam bentuk tulisan.

So, listen me, As’ad. Ini bukanlah soal hasil yang langsung tiba begitu saja. Ini adalah keahlian yang untuk mewujudkannya membutuhkan waktu latihan yang konsisten dan semangat yang harus selalu dijaga. Tidak bisa instant untuk bisa melahirkan olah kata yang gegar membahana! Butuh perjuangan berdarah-darah untuk mampu mahir dalam menulis.

Menulislah minimal dalam sehari satu halaman word. Tidak usah melebihi itu, sedemikian cukup asal diiringi konsistensi yang tangguh. Asal istiqomah, perlahan-perlahan menyusuri khazanah jurnalistik dengan teliti dan saksama, pahami geliat dan kode etik yang terkandung di dalamnya, baca secara jeli, nanti lama-lama akan bisa.

Saya bukanlah penulis yang handal, yang karyanya mampu meledakkan emosi pembaca, yang gubahan tintanya bisa mengaduk rasa di batin penikmat kata. Saya bukan golongan mereka. Namun, karena saya mencintai mereka, maka saya mulai mengikuti jejak yang mereka torehkan sedikit demi sedikit. Saya mulai mencoba menuliskan apa yang tengah bergejolak di hati, apa yang saya dapati dari bacaan atau ceramah yang saya raih sedari pagi hingga malam menunjukkan batang hidungnya. Semua saya tulis. Semua coba saya abadikan ke dalam figura aksara.

Menjadi tenar seperti mereka bukanlah tujuan utama. Intinya saya bisa ikut menghadirkan jiwa saat menulis, sebagaimana tokoh-tokoh idaman saya rasakan, maka itu sudah menjadi bagian yang terindah dari potongan hidup yang tengah saya jalani.

Jadi menulis adalah soal kebahagiaan. Tanamkan komitmen ini kuat-kuat dalam hati. Hunjamkan prinsip ini ke dalam jiwa dengan erat, kemudian menulislah. Tak perlu dengan suasana berdiam di atas bebatuan di tengah sungai yang dikitari gemercik suara air jernih pegunungan dengan ditingkahi angin sepoi yang berhembus perlahan nan menyejukkan untuk bisa menulis. Jika kita sudah komitmen, maka menulis di kamar, di dapur, di tempat perbelanjaan, di perjalanan, bahkan di kamar mandi sekalipun kalau sempat, maka dengan sigap kita mampu mengerahkan pikiran untuk menulis.

Saat sedih atau senang. Saat disambar duka atau dipeluk bahagia. Kita akan tetap menulis. Menyajikan hidangan intelektual yang berharga kepda khalayak dunia. Dengannya kita telah menyumbang pundi-pundi yang bisa menjadi bagian konstruksi peradaban sejarah manusia.

Semuanya butuh pengorbanan. Semuanya butuh perjuangan. Semuanya butuh peluh dan penat yang berkepanjangan. Intinya tidak ada yang bisa diraih dengan segera tanpa melalui keringat yang diperas, tenaga yang digelontorkan, atau pikiran yang dikuras.

Ada tipe orang yang gemar membaca namun jarang memahat kata. Maka konsekuensinya adalah illmunya kelak akan mudah hilang saat ia menghilang dari kehidupan. Memang ia telah banyak mentrasfer ilmu kepada muridnya, namun saat murdnya telah tiada, ilmu itu akan melebur dan memudar seiring perkembangan zaman. Ia pula akan kelelahan untuk mengulang-ulang isi ceramah pengajaran kepada muridnya. Hal demikian tidak terjadi jika ia mensingkronkan keduanya. Ia rajin membaca, gemar meneguk makna dari peprustakaan, lalu ia representasikan ide pemikirannya ke dalam bentuk tulisan. Ia tuangkan menjadi ide yang akan dibaca khalayak luas, dan tidak terkubur bersamaan dengan dirinya yang hendak berkalang tanah.

Maka, baca dan menulislah. Belajar dan ajarilah manusia dengan tulisan yang anda telurkan! Anda akan bahagia!

Darus-Sunnah, 12 September 2015

Komentar

Google + Follower's