Logika dan Riuh Pembahasan Jenggot


Logika adalah kaidah-kaidah yang membantu kita menata aktivitas berpikir. Logika yang jika di-Arab-kan menjadi mantiq. Mantiq adalah masdar mim dari kata kerja natoqho-yanthiqu, yang bermakna berbicara.

Apa relasinya? Logika yakni keterapilan mengatur laju pembicaraan seseorang yang mana itu adalah representasi dari ide-ide yang menggumpal di alam pemikiran. Maka seorang yang logis adalah mereka yang mampu berpikir bagus serta mampu mneuangkan ide tersbeut ke dalam pembicaraan dengan runut dan teratur. Demikian ungkap Ust Rozi, salah seorang dosen Ilmu Logika di Institut PTIQ Jakarta.

Seorang yang bergelut dengan logika akan paham kemana konteks berjalan. Dengan self wisdom yang ia miliki ia bisa memahamkan kepada orang lain ide-ide pemikiran yang terbetik dalam benaknya. Dengan kata lain, seorang yang logis mampu untuk mengkontekstualisasikan ide dan buah pikirannya kepada khalayak dengan jelas dan terarah.

Termasuk di dalamnya mengurus masalah penulisan. Semua manusia, tanpa terkecuali, yang ingin menginginkan laju tulisannya mengalir dan terarah maka ia wajib untuk menguras lebih dalam khazanah logika, untuk kemudian disandingkan dengan ilmu menulis yang dia punya.

Diam-diam saya membaca beberapa tips dan kiat menulis dari para pakar, secara garis besar dan hampir mereka sepakat bahwa rukun yang harus dipenuhi dalam hal tulis menulis adalah terstruktunya uraian yang kita gubah dalam tulisan. Seorang penulis yang baik adalah yang mampu menata jalan (plot) penulisan, semisal jika ia berkutat dalam bidang karya ilmiah, maka alur tulisan yang dimulai melalui pembukaan, isi, kesimpulan lalu penutup adalah hal yang mutlak diperlukan. Dan lain sebagainya, disesuaikan dengan konteks bidang apa yang tengah ia geluti.

Masih berbicara tentang logika. Menanggapi peristiwa yang tengah merebak dewasa ini. Tentang pernyataan KH. Said Siradj yang dalam pidatonya mengungkapkan, “Semakin panjang jenggot seseorang, maka akan semakin goblok.” Ulil Abshar, salah seorang tokoh JIL, sampai-sampai membuat satu tulisan khusus di www.islamlib.com (14 Sep 15) dengan judul “Umat Islam, Jenggot dan Humor,” yang dalam isinya diuraikan bahwa kata-kata bernada pedas yang diungkapkan oleh ketua umum PBNU itu adalah guyonan semata.

Kenali dahulu bagaimana sosok Said Siradj jika sudah berbicara masalah Wahabi. Ghirahnya dalam membentengi akidah NU begitu kuat sehingga kerapkali hal itu tampil dala bentuk memerangi gerakan yang bersentral di Saudi Arabia lantaran praktik-praktik ibadah NU sering dijadikan bulan-bulanan oleh pihak Wahabi.

Pahami sebelumnya konteks yang melatarbelakangi perkataan Said Siradj tersebut. Hal ini, lanjut Cak Ulil, panggilan akrab Ulil Abshar Abdallah, adalah ungkap kegerahan Said Siradj dalam memandang kaum Wahabi. Nabi memang menganjurkan umatnya agar memanjangkan jenggot, tapi tidak sampai membuat kampanye bahwa seluruh dunia harus berjenggot. Jenggot adalah corak budaya Arab yang saat itu mungkin berfungsi membedakan mana orang Arab yang muslim dan mana orang kafir non-Arab yang tidak berjenggot. Tidak lebih.

Namun, ada hal yang lebih penting yang bahkan wajib diimiliki oleh umat Islam, yakni akhlaqul karimah. Dalam konteks kekinian, cukuplah seorang muslim itu adalah mereka yang memagang kuat-kuat ajaran agama serta berakhlaqul karimah. Tanpa perlu berjenggot panjang-panjang insya Allah kita pun mampu menjadi hamba-Nya yang berkualitas. Percuma pula, jika kita memanjangkan jenggot namun masih gemar untuk mengkafirkan sesama muslim bersikap ekslusif dalam menghadapi perbedaan pendapat di luar kelompoknya. J

Jadi, ungkapan yang dikeluarkan oleh Said Siradj memang tidak logis. Mana ada relevansi antara jenggot dan kadar kecerdasan seseorang. Dan, adakah data yang menguak fakta demikian. Logis? Tidak. Tapi mari resapi konteks yang melatarbelakanginya.

Ust. Razi, dosen ilmu Logika di PTIQ Jakarta mengutarakan, bahwa alasan Said Siradj mengapa begitu geramnya atas tingkah Wahabi dewasa ini, padahal ia adalah lulusan salah satu Universitas di Saudi Arabi, Ummul Qura, adalah sebagai bentuk pelampiasan dendam. Bertahun-tahun ia saat belajar di Saudi Arabia, meski berjenggot pula tentunya, ia harus menukar kepercayaan yang mendekam dalam hatinya demi sebuah beasiswa pendidikan yang ia nikmati. Ia memang menimba ilmu disana, namun dalam diamnya Said Siradj juga memupuk ketidaksependapatannya dengan otoritas pemikiran yang tangah berkembang disana. Pemahaman Wahabi.

Jadi, saat ini beliau bagai seorang yang bebas dari sebuah tekanan, merdeka dan balik menyerang apa yang dulu mengintimadisinya. Bagai burung lepas yang terbang sesuka hati di angkasa raya. Dia bebas berkicau sekehendak hati. Lanjut Ust. Razi.

Pak Anshor Bahari, dosen Studi Naskah Hadis di PTIQ Jakarta juga mengatakan, “Orang yang memiliki jenggot ada dua kemungkinan. Entah jenggot ia miliki itu hanya sebatas style semata, entah itu adalah identitas ideologis.” Nah, anda pilih yang mana? Lanjutnya.

Perpus PTIQ, 16 September 2015

Komentar

Google + Follower's