Masa Muda, Masa Puncak Kreasi

Masa muda adalah masa yang berapi-api, demikian ungkap bung Roma dalam satu lagunya. Berikan aku sepuluh pemuda, akan aku guncangkan dunia! Demikian ungkap Bung Karno dalam lengking pidatonya. Memang benar demikian, masa muda adalah babak dimana seluruh raga berfungsi secara maksimal. Masa-masa segar yang tak tertandingi adalah masa muda.

Berbeda dengan pra-muda yang seluruh inderanya masih dalam tahap pertumbuhan, ataupun pasca-muda, masa dimana tubuh sudah mulai ringkih dan kerap terjangkit penyakit, masa muda hadir sebagai momen dimana kekuatan yang ada dalam tubuh benar-benar meletup begitu kencang. Seperti air yang mengalir di sungai-sungai pegunungan, masa muda adalah gambaran betapa tengah derasnya sungai mengalir.

Seseorang mempunyai harapan tentang pencapaian hidup. Anggap saja semua itu tengah ditaruh di balik dinding di hadapannya, tembok itu representasi dari onak yang wajib dilaluinya, untuk merengkuh cita-cita yang tertanam dalam jiwa ia harus meluluhlantakkan tembok di depan batang hidungnya.

Dan, masa muda adalah masa dimana ia tengah menggenggam palu godam nan kuat yang berfungsi untuk mendobrak sekat yang menghadang. Amat sayang jika saat kita tengah memilikinya, kita malah terlena pada hal lain yang menipu. Harapan yang gemilang dihadapannya, disertai sebuah alat untuk memudahkan ia mencapai harapan tersebut, disia-siakannya begitu saja. Bukankah ini tindakan yang amat merugikan? Tidak-kah dia telah meremehkan anugerah terbesar Tuhan yakni waktu dan kesempatan untuk menyongongsong harapan? Demikianlah potret anak muda masa kini.

Energi yang ekstra itu selayaknya didistribusikan untuk aktivitas bermanfaat. Jangan malah dibuang begitu saja, tanpa disaring saripati yang terkandung di dalamnya. Mensinergikan daya masa muda yang begitu besar dengan angan-angan yang menggiurkan adalah tindakan berani dan amat patriotis. Berani melawan menghentak pintu keraguan akan masa depan. Patriotis karena mampu menjadi pahlawan untuk diri sendiri. Menyelamatkan diri dari jurang kenestapaan masa senja yang akan menghempaskan ia dan harga dirinya.

Berjuang! Meski kita tidak segera menyaksikan buah hasil yang kita kerjakan. Yakinilah jika kita mengerjakan hal positif maka akan berbuah manis. Dan jika kita melakukan kegiatan yang bermakna negatif, maka kita tak akan mendapatkan apa-apa selain dari apa yang kita tanam, yakni keburukan. Yaknilah, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri. Allah menetapkan akibat setelah sebab. Ada hukum kausalitas yang berlaku. Ada sunnatullah yang terus mengawali gerak-gerik kehidupan manusia.

Sibukkan diri dengan belajar dan merenungi ayat-ayat semesta. Tangkap yang tersirat lalu patri di palung hati. Agar kelak menjadi sumbu cahaya yang menerangi setiap apa yang kelaur dari hati, yakni perasaan dan pikiran kita mengenai kehidupan. Camkan itu.

Kita hidup dimana paham materialistis telah mengendap kuat dalam doktrin pribadi. Kita bernafas dimana semangat spiritualitas telah mengalami dekadensi cukup parah. Ini bukan musibah yang harus kita sesali dan kita ratapi. Ini adlah tantangan untuk kita melibas paham-paham demikian dalam pola pikir kita. Paradigma yang sehat harus tetap terwujud dan terpelihara, Wahai Anak Muda!

Langkah terbaik untuk mewujudkannya adalah dengan mendalami agama secara teratur. Materialistis, yakni terlalu memandang semesta dari kulit luarnya saja adalah tindakan yang membahayakan, membuat kita buta akan makna dan pesan yang tersimpan di baliknya. Minimnya spiritual di hati, yakni berusaha memisahkan Tuhan dari khazanah kehidupan, tidak melibatkanNya pada setiap aktivitas adalah usaha bunuh diri. Dan agama lah yang mampu menjadi penawar atas kebobrokan tersebut.

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah Swt kebaikan, maka akan diberikannya pemahaman mendalam tentang agama.”


Darus-Sunnah, 18 September 2015

Komentar

Google + Follower's