Mengingat Tuhan Ciptakan Kedamaian


Alhamdulillah, segala pujian hanya untuk Allah Swt semata. Jika ada yang keluar konteks, maka manusia memang benar-benar bodoh adanya. Kita, selaku hamba yang ber-Tuhan, seyogyanya selalu melibatkan Tuhan dalam planning work kehidupan. Tidak boleh kita mengalpakan dalam setiap aktivitas, begitu seharusnya. Namun, demikianlah kita sering lalai. Padahal, jika kita melakoni hal tersebut, sejatinya kita telah berpegang teguh dengan pegangan yang teramat kuat, tak akan limbung dan tak mungkin tergoyahkan. Seandainya demikian. Yah, semoga saja. J

Melibatkan-Nya tidak hanya saat kita mengecap getir kehidupan, terlebih saat hati dan jiwa kita tengah bungahpun kita juga wajib mengikutcampurkan Tuhan. Intinya, intervensi Tuhan dalam semua sektor kehidupan itu seharusnya wajib. Allah Taala berfirman, “Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingat kalian.”

Dalam firman yang lain Allah berfirman, “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati akan tenteram.” Kalau ini perkataan bijak bestari, penulis handal, atau motivator kelas ulung sekalipun, meski terkesan hebat maka akan ada cacatnya. Namun, ini adalah kalamullah, Zat yang Menguasai Kehidupan. Zat yang arif betul akan tetek bengek, seluk beluk, kode etik yang berlaku di dalam kehidupan. Maka, tak usahlah ditanyakan kembali perihal keabsahannya. Kita percayai lalu kita aplikasikan dalam keseharian.

Dan, firman itu realistis adanya. Ia ungkapan berbentuk teori yang tak terbantahkan. Seorang yang selalu menghadirkan Tuhan di hati dan pikirannya akan mendapati bahwa hidup ini adalah karunia yang besar yang diberikan oleh-Nya. Tak banyak yang harus ia sesali, tak banyak yang ia gerutui, ia malah gemar untuk terus menysukuri. Karena bersyukur, baginya, akan melipatgandakan rasa ketenangan dalam dadanya. Perasaan akan semakin teduh dan menyenangkan.

Sebaliknya, seorang yang jauh dari Tuhan cenderung memiliki perasaan tidak tenang yang kerap mendatanginya. Perasaannya mudah resah, gundah dan gerah. Dinamika kehidupan yang dikombinasi oleh rahmat dan musibah disikiapinya dengan tidak meraup hikmah yang terbentang di dalamnya. Ia gagal menterjemahkan nikmat-nikmat Tuhan yang ditaburkan persis di depan batang hidungnya.

Berdzikir menyebutkan asma-Nya serta membaca kalam-Nya dengan khusyuk adalah langkah terbaik dan termudah untuk mewujudkan ketenteraman hati. Keduanya formulasi ampuh penghadir keteduhan di dalam jiwa yang seringkali timbul keresahan. Kita mengingat-Nya, maka Dia akan mengingat kita. Terciptanya kedamaian di jiwa adalah timbal balik kasih-sayang yang diberikan. Seperti bunyi hukum kausalitas, siapa yang menanam maka akan menuai. Siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil. Siapa yang mengingatKu maka Aku akan mengingatnya, demikian juga ungkap Tuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sungguh merupakan tindak kebaikan jika kita mampu melestarikannya. Tak akan terhitung kadar kebahagiaan yang akan kita raih. Hidup terasa indah dan berkah. Masalah yang ada rasanya mudah dihadapi jika kita telah berjalan di bawah bimbingan-Nya. Rezeki tak usah terlalu dipusingkan, intinya kita berusaha lalu tawakkal, Tuhan akan mencurahkan rahmat-Nya dengan melimpah. Pelajaran yang terhidangkan akan mudah dicerna. Dan, jodoh yang shalihah lagi jelita tak usah dibingungkan, asal kita sekarang serius menata masa depan, memapankan diri dengan sekuat tenaga, maka saat tiba waktunya nanti, akan Allah hadirkan sosok yang istimewa buat kita, buat hamba-Nya yang selalu mengingat-Nya.

Maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?


Darus-Sunnah, 10 September 2015 

Komentar

Google + Follower's