Pak Sinaga

Hari Jum’at katanya adalah sebaik-baiknya hari. Hari dimana didalamnya ditabur kebaikan melebihi hari-hari lain. Waktu dimana tesurat dalam sabda Nabi bahwa mengucapkan shalawat pada beliau pada hari Jum’at merupakan sebuah kesitimewaan yang lebih dibanding waktu-waktu lain.

Begitu dengan saya. Jum’at adalah waktu yang ditenggatkan oleh pihak kampus untuk mahasiswanya agar menyetor hafalan kepada instruktur tahfizh. Karena Jum’at, sebagian besar mahasiswa bekerja lebih keras untuk membaca sekaligus menghafal ayat suci al-Qur’an. Memantapkan hafalan sebelum berhadapan dengan sang guru yang akan dengan sigap menyimak tuangan memori hafalan. Siapa yang lalai maka akan mendapat buruk nilai. Siapa yang berbekal maka akan mendapat pujian tebal. Begitulah. Selalu ada ganjaran untuk mereka yang berjuang hingga berpeluh keringat.

Sungguh amat disayangkan. Instruktur tahfizh saya, Pak Hasanuddin Sinaga, Imam Istiqlal, Kubah Mas, dan lain-lain, berhalangan untuk hadir lantaran sehabis berobat. Dengan hati kecewa yang dipaksa untuk berlapang dada, saya pulang ke asrama tanpa penyetoran hafalan satu huruf pun. Ini sudah minggu ke 3, belum satu ayatpun saya setor ke isntruktur, khawatir terbengkalai dan tidak tercapai target semesteran.

Kitaran jam setengah sebelas, saya dan kawan saya, Hasbi, pergi berangkat menuju Masjid Kubah Mas, untuk menyampaikan proposal permohonan distribusi Qurban untuk pesantren Darus-Sunnah, yang kebetulan pada Idul Adha 1437 H ini angkatan kami bertindak sebagai panitia penyelenggara.

Tiba disana sebelum shalat Jum’at tiba. Dan memang, kami sengaja ingin menunaikan ibdadah mingguan tersebut di masjid yang kubahnya konon terbuat dari lapisan emas murni. Dibawah terik matahari yang menyengat, kami masuk ke dalam, disambut dengan aroma sejuk ruang masjid yang sudah diteduhi dengan atap megah, karpet beludru yang sejuk, serta Air Conditioner yang berembus perlahan. Mendingingkan suasana.

Kira-kira lima belas menit sebelum adzan dikumandangkan. Muncul dari ruang takmir menuju mimbar seorang berpakaian gamis dengan kepala dibungkus kain putih seperti kerudung, lalu membaca sekian ayat pada permulaan surat al-Kahfi. Betapa terkejutnya saya tatkala mendapati bahwa yang bertindak sebagai pelantun kalam Ilahi tersebut adalah instruktur tahfizh yang saya tunggu di kampus barusan, Pak Sinaga. Sosok yang kerap menjadi imam di masjid Istiqlal saat penyelenggaraan Shalat Idul Adha dan Idul Fitri. Sosok yang dijuluki kembaran dari Imam Sudais al-Makki, imam besar shalat rawatib di masjidil Haram, Mekkah. Instuktur Tahfizh saya di kampus.

Seusai khutbah diperdengarkan, waktu shalat tiba. Pak Sinaga maju ke mihrab sebagai pemimpin barisan. Kita akan menuju Tuhan, maka khusyukkanlah jiwa, tundukkanlah segala macam sifat kecongkakan dalam hati. kira-kira demikian tafsiran bebas dari kalimat “luruskan shaf dan tenangkan suasana,” yang dihimbaukan.

Tidak usah menunggu lama. Seluruh jama’ah dibuat terlena dengan lantunan ayat suci yang dikumandangkan oleh Pak Sinaga. Dengan nada yang mendayu-dayu, disepak segala macam pikiran keduniaan dari kalbu. Kekhusyu’an memang sukar untuk didapat. Namun, kelembutan suara sang imam dalam mengepalai pasukan jama’ah adalah faktor pendukung pencapaian yang harus diperhitungkan.

Rampung dengan asyik-masyuk bersama ustadz Sinaga, kami menyampaikan proposal dan melanjutkan pengembaraan menuju masjid Raya Cinere. Usai dari sana, kami pulang ke tempat asal, Pisangan Barat, Ciputat.

Sore, saya kembali keluar menebar proposal ke masjid terdekat. Dalam satu perjalanan, kembali saya berpapasan dengan Pak Sinaga bersama istrinya, tengah berjalan di depan ASPI (Asrama Putri) Fak. Kedokteran. Dengan tangkas, saya yang tengah mengendarai Vixion membungkukkan badan sambil menyapa beliau. “Paak,?” sambil disuguhi senyum pemanis yang orisinil, bukan buatan.

Demikian. Saya tidak berjumpa dengan beliau di kampus. Namun Tuhan mempertemukan saya dengan beliau dua kali di tempat yang berbeda. Bertemu dengan orang yang hebat itu menghadirkan cita rasa unik tersendiri. Melihat wajah yang alim apalagi hafal al-Qur’an adalah kesempatan yang indah tak terlupakan.

Sekian.


Pos Jaga Darus-Sunnah, 18 September 2015

Komentar

Google + Follower's