Temanmu Adalah Yang Membuatmu Melahirkan Derai Tawa

Pepatah mengatakan, “Temanmu adalah yang membuatmu berderai air mata, bukan yang memantik gelak tawa.” Pepatah bukan sekadar kembang gula susastra, butuh pengalaman pahit untuk memformulasikannya, demikian ungkap DEE, penulis Filosofi Kopi. Begitupun dengan ungkapan bernas yang saya kutip dimuka.

Hemat saya, kalimat tersebut dilontarkan oleh seorang yang mendalami ajaran Islam dengan semangat dan serius. Dalam al-Qur’an, disebutkan suatu ajaran yang menekankan kepada penganutnya agar menyedikitkan tertawa dan memperbanyak tangisan. Dalam sebuah hadis, dituturkan dari baginda Rasulullah Saw., bahwasanya beliau bersabda, “Dan janganlah kalian banyak tertawa, karena itu akan mematikan hati.” atau sebagaimana dikatakan.

Menyedikitkan tertawa artinya adalah jangan terlalu berasyik masyuk dengan dunia. Dunia tempat singgah kita yang fana janganlah melenakan kita, dengannya kita hanya bergumul dengan fatamorgana, meengabaikan hakikatnya. Kita bungah dengan dosa yang kita perbuat. Kita terus riang bergembira dengan keburukan moral yang kita lakukan, padahal murka Allah kepada kita semakin memuncak tingginya.

Memperbanyak air mata artinya agak kita selalu siap siaga. Meningkatkan kewaspadaan hidup agar tidak terlalu dalam terperosok ke dalam jurang yang mengancurkan.

Imam Sa’id bin Musayyab, yang juga bisa dipanggil bin Musayyib, yakni seorang tabi’in senior, matanya buta ketika tua akibat derasnya bulir air mata yang keluar membasahi pipi lantaran takut akan dosa-dosa yang ia perbuat. Bayangkan, betapa syahdunya apa yang ia perbuat. Jika kita tanyakan apa hal ekstase yang paling nikmat disesap dalam hidupnya, sosok Sa’id bin Musayyib mungkin akan dengan tugas akan berkata, “menangis karena Allah Swt., menumpahkan rasa kepada yang Maha Kuasa.” Semoga bisa meneladaninya.

Kembali ke awal, temanmu adalah yang mengingatkanmu pada Allah, bukan yang menenggelamkanmu pada lautan pesona dunia. Benar dan fakta, bahwa mengingat-Nya akan mendatangkan ketenangan. Melupakan-Nya, tidak melibatkan-Nya dalam rinci aktivitas yang kita lakukan akan hadirkan keresahan dan kegelisahan dalam jiwa. Mungkin demikian. Wallahu A’lam.

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’;’;’;’;’;’;’;’;’;’;’;’;’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’;’;’;’;’;’;’;’;’;’;’;’;’;’;’;’;’;’’’’’’’

Hamid Fahmy Zarkasyi, dalam Misykat hal 244, seorang penjaga benteng Islam anti liberal, mengatakan, “Dalam Islam, sejauh mana pemikiran kita berpetualang, wahyu tetap menjadi obornya.”

Sebelumnya saya sedikit membaca pendahuluan dari kitab Polemik Kitab Suci karya Mun’im Sirry, seorang yang dicap pengusung ide-ide liberal dan mengambil S3 di salah satu universitas di Chicago. Kitab tersebut berangkat dari pikiran beliau tentang fakta yang mengatakan bahwa kitab suci agama memiliki sejarah tersendiri. Mulai dari kitab milik Yahudi, Zabur dan Injil selalu terbuka dan segar untuk dikaji ulang. Dan dalam pengkajian ulang diterapkannya tafsir modern dan kekinian,  sehinggas akan didapati bahwa dalam kitab suci tersebut ditemukan keganjilan makna yang dikandung dengan realitias kehidupan.

Al-Qur’an, menurut penulis, yang diklaim sebagai kitab yang didalamnya dikandung doktrin tentang penganaktirian agama lain serta paradigma yang mengebiri kebenaran agama-agama lain telah meruntuhkan pondasi-pondasi kerukunan antarumat beragama. Mun’im Siiry, berusaha mengkaji ulang al-Qur’an dengan metode penafsiran yang modern disertai refrensi pustaka dan pola pikir yang terkesan didikte oleh sarjana dan kurikulum Barat hendak memadukan teks kitab suci al-Qur’an dengan realitas. Jika ditemukan titik perbedaan, maka dengan terpaksa al-Qur’an harus ditumbangkan keautentikannya.

Pengembaraan intelektual sosok Mun’im Sirry berbeda dari apa yang dipaparkan oleh Hamid Fahmi Zarkasy bahwa pemikiran akan diam tak bergerak, canggung untuk menagkah ke depan menyibak kegelapan, melainkan jika ada wahyu sebagai obor yang membimbingnya. J

Sekian, Wallahu A’lam


Darsun, 26 September 2015

Komentar

Google + Follower's