Wawasan Dari Para Dosen

Anda bertanggungjawab atas setiap huruf yang anda tulis. Ini adalah bagian dari amanat ilmiah.

Ambillah rujukan dari rujukan yang otentik klasik.

Jika engkau mengambil pendapat orang lain cantumkanlah dalam footnote.

Jangan bersandar kepada sanad yang lemah dalam periwayatan.

Bicaralah dengan lantang dan tegas, sehingga mampu meyakinkan pendengar.*

Omar Buhail (24), peserta MTQ Internasional asal Belanda, mengatakan, “Untuk menjadi muslim yang baik, harusnya bisa mengatur waktu.” (Republika, 08 Sep 15) hal. 24

*Pak Kyai, Selasa 8 Sep 15


Jika ingin memahami Quran-hadis secara tekstual saja pergilah ke tempat dimana Qur’an dan hadis itu diturunkan. Sebuah Teks harus dikawinkan dengan budaya yang berlaku dimana kita hidup. (Syarif Rahmat)

Imam Ghazali mengatakan, “Belajar ilmu agama itu wajib ain sedang belajar ilmu dunia (Semisal ilmu kedokteran dan lain sebagainya) adalah wajib kifayah.” Imam Ghazali memang mengatakan demikian, namun mari pahami konteks yang melatarbelakangi beliau mengatakan demikian.

Hal itu diucapkan lantaran Imam Ghazali merasa khawatir lantaran ilmu agam tidak lagi diindahkan, orang mulai sibuk dnegan penemuan-penemuan ilmiah yang memukau sejarah. Maka, Ihya Ulumu ad-Din, yang artinya menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama, datang sebagai obat atas merebaknya penyakit berikut.

Adapun sekarang, maka umat Islam hukumnya wajib untuk mendalami keduanya. Hal ini karena kita menyaksikan bahwa baik ilmu agama maupun dunia, keduanya sudah tidak lagi diindahkan oleh umat Islam. Lanjut bu Nur Rofi’ah, seorang dosen mata kuliah “Qur’an & Sains” di PTIQ semester 5.
Teori Latahisme : Yakni umat Islam saat mendapati temuan-temuan orang Barat dalam bidang ilmiah, responnya hanya dengan mengatakan “Itu kan sudah ada di Qur’an.” Sudah begitu saja, tanpa harus terlibat menemukan ayat-ayat Tuhan yang dibentangkan Tuhan di alam raya.


*Bu Nur Rofiah, Selasa 8 Sep 15

Komentar

Google + Follower's