Dzikir Itu Menenangkan

Berdzikir, mengingat Sang Pencipta adalah aktivitas yang diegalkan Tuhan dalam meraih ketentraman. Hati, segumpal darah yang melekat dalam diri manusia adalah ketidakpastian keadaan. Di satu saat kita senang dan gembira, di saat yang lain hati berubah warna menjadi luka dan duka. Padahal, hatilah yang menjadi barometer ketenangan hidup seseorang. Jika hati telah baik maka semua akan baik. Jika hati berwarna kelabu, maka tindak-tanduk kepribadian seseorang bisa dipastikan keruh.

Dinamika kehidupan yang selalu berubah tiap waktunya juga kerap mempengaruhi stabilitas hati. di saat kita memenangi perlombaan, berhasil menggapai harapan, atau berjumpa dengan belahan jiwa, maka hal demikian akan mempermanis kondisi hati. juga sebaliknya, di saat apa yang telah kita canangkan menemui kegagalan, alam seakan berkonspirasi untuk memupuskan harapan yang kita tanam, maka saat itu juga hati akan menyusut perlahan menuju keburaman.

Firman Allah yang mengurai prinsip mengapai kebahagiaan (Q. 13:28) merupakan hadiah terbesar yang bisa kita dekap. Tuhan Maha Mengerti tentang kejungkir-balikkan perasaan yang dirasai oleh semua makhluk yang mengandung jiwa. Seperti sebuah kodrat Tuhan yang mutlak tak bisa dtumbangkan, demikian ayat ini memberi pencerahan kepada manusia bagaimana kiat menandaskan kegundahan.

Mengingat Allah yakni mensyukuri penganugerahannya dalam bentuk mengejawantahkan nikmat-nikmat yang Allah curahkan sesuai dengan kehendak sang pemberi nikmat. Menaruh kepercayaan dengan penuh bahwa Allah tak akan menelantarkan hamba-Nya. Serta membubuhkan keyakinan dalam hati bahwa Allah tidak akan menghendaki sesuatupun kepada manusia melainkan tersimpan hikmah kemasalahatan.

Wahai, bukankah hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang?

Kalau sudah demikian apalagi yang mesti dikhawatirkan. Deru kehidupan yang tak menentu. Yang bahagia dan sembilu bersatu padu di dalamnya. Jika dikembalikan kepada koridor pemahaman yang sehat, ditalikan dengan dzikir kepada Allah, maka akan melahirkan ketenangan tiada tara.

Bersyukur mengubah orang yang miskin menjadi kaya, membuat kekurangan menjadi kecukupan. Di saat yang lain gagah mengendarai lamborghini dia masih bersyukur menunggangi motor Legenda tahun 96. Pikirnya sederhana, yang penting adalah kita sama-sama bisa tiba ke lokasi tujuan dengan selamat, apalagi perjumpaanya dengan orang yang lumpuh kakinya membuat dia semakin kencang mengucap terima kasih kepada Tuhan karena kedua kakinya masih sempurna. Tak harus tertatih-tatih atau bahkan terhuyung dalam berjalan itu saja merupakan surga yang dihadiahkan kepadanya dengan harga cuma-cuma.

Lagi, kondisi Jakarta yang mengharuskan kendaraan besar mendapat giliran terakhir menerobos kemacetan pun adalah nilai plus tersendiri. Alhasil, dalam realitanya seorang pengendara Legenda mampu lebih cepat tiba di lokasi lantaran tubuh ringkihnya yang memudahkan ia menyibak desak kendaraan, ketimbang Lamborghini, yang justru dengan tubuh perkasanya, ia malah tersendat untuk sekedar menerabas kerumunan roda empat yang mengular tiada akhir.

Berprasangka baik kepada Allah, meyakini betul bahwa Allah tak akan menyepelekan pengadian dan kebaikan yang dilakukan seorang hamba kepada-Nya, juga merupakan kiat jitu menyonsgong ketenteraman. Selalu tersirat hikmah atas apa yang Dia kehendaki.

Berbuat baik kepada sesama, menghormati yang lebih tua dan mengasihi yang lebih muda, membahagiakan anak yatim, mensejahterakan tetangga, serta menghiasi wajah dengan senyuman kepada siapapun ia berjumpa. Dihargai atau tidak, ditanggapi atau tidak, dipuji atau bahkan dicela sekalipun, hati yang ikhlas tak akan memusingkannya. Hemat kata, kita bekerja untuk Allah dan hanya Dia yang memiliki otoritas menilai amal kita.  

Sekali lagi, melanggengkan dzikrulllah, mensyukuri nikmat-Nya, dan memupuk prasangka baik atas kehendak-Nya adalah sasmita paling sah yang mampu mengundang ketenteraman dalam berkehidupan.


Ciputat, 29 Oktober 2015

Komentar

Google + Follower's