Makna di Balik Sabtu

Hari Sabtu hari yang amat berkesan pada setiap minggunya. Karena pada hari ini saya berkesempatan pulang ke rumah, bertemu dengan orang tua, bercanda dengan tetangga, menyapa sanak saudara, di saat saya tengah sibuk menjalankan aktivitas belajar di Pesantren Darus-Sunnah yang berlokasi di Ciputat. Kira-kira setengah jam dari rumah. J

Biasanya saya berangkat dari Pesantren menuju rumah tidak lama setelah halaqoh fajriyah di Pondok tuntas dilaksanakan, yakni sekitar jam 7 pagi-an saya cusss… go Bintaro. Dalam hitungan menit tampak seorang pengendara Legenda 96’an yang bertubuh agak kurus melesat bersama The Legend yang tengah ditungganginya di ruas jalan CIputat-Bintaro dengan kecepatan yang terkadang biasa terkadang cepat tak terbahasakan.

Tidak ada yang perlu dirisaukan dari seorang mahasiswa yang pada zaman sekarang (2015) masih berkendarakan Legenda. Tidak usah diperkarakan. Asal kita bersyukur atas apa yang kita miliki, Allah akan berikan ketenangan yang begitu berpengaruh pada kelanggengan hidup kita. Legenda, motor tua yang katanya sudah lapuk usang dibuat gaya, jika sang pengendara bersyukur, maka ia akan sejiwa dengan yang ditunggangi. Dan jika sudah sama sejiwa, seia-sekata, apalagi yang mesti digalaukan. Menaikinya dengan ikhlas melebihi nikmatnya naik Vixion namun diliput keresahan. Sekilas tentang Legenda.

Tiba di rumah memberi salam kepada keluarga, menyalami satu persatu orang di dalamnya, menciumi tangan sepuh, ambil minuman dingin nan segar yang tersuguh di kulkas, dan mari duduk bersama tuangkan kisah-kisah manis kehidupan. Saling berbagi cerita, saling berbagi pandangan hidup, yang tua memberi petuah bijak perihal kiat jitu menyikapi kehidupan, yang muda diam menyimak undang-undang serta kode etik yang mesti dicengkeram saat menapaki kehidupan. Indah, bukan?
Demikianlah rahasia-rahasia yang terkandung dalam suatu hari bernama Sabtu. Penat bergaul bersama teman di asrama, mari pulang jaga rumah dan hidupkan warung ala kadarnya. Pusing berkutat dengan tugas-tugas di Pondok maupun kampus, mari pulang ke rumah, mengais wejangan berenergi magis olahan orang tua. Kesulitan menjalani kehidupan, banyak rintangan yang mesti diusaikan namun otak serasa buntu tiada jalan, monggo pulang, cari ketenteraman dalam bilik-bilik do’a orang tua.
Mari, pulang!
Sebenarnya sungkan dan berat di perasaan jika pada saat orang tua sudah sepuh dan tengah mengurusi banyak hal dtinggal sendirian. Saya anak muda yang memiliki kebugaran berkerja. Saya anak muda yang memiliki nalar lebih tajam dari orang tua. Saya belum tua yang tubuh masih sempurna, daya masih raksasa dan pola pikir lebih menukik ke angkasa. Seharusnya saya membantu mereka, menemani masa senja dengan membantu atau sekadar menyimak kisah-kisah masa silamnya.
Tapi Tuhan berkehendak lain.
Diizinkannya saya oleh orang tua saya untuk menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya. Hidup ini keras dan penuh perjuangan yang berliku. Tak ada senjata yang lebih ampuh untuk mengatasi perihnya hidup melainkan dengan ilmu yang sudah kita dapatkan. Seorang ulama berkata, “Barangsiapa yang ingin bahagia di dunia maka harus dengan ilmu.” Kebodohan adalah puncak kenestapaan. Seorang yang tak berpengetahuan akan dihantui kemelaratan. Bukan hanya pada tataran material hidup, soal pandangan hidup, orang yang tak berilmu juga kerap dibalut keresahan sepanjang hidupnya.
“Belajarlah yang serius, pintarkan diri, reguk hikmah sebanyak mungkin, berguru kepada alam terkembang!” Sarannya kepada saya.
Sebagai konsukensi dari ini saya jadi jarang dirumah. Bapak yang tinggal dirumah ditemani ibu dan terkadang sanak saudara, namun lebih sering sendirianlant Menata galon, menggantang beras, belanja ke agen, mengajar anak-anak, dan lain sebagainya.
Hal ini kemudian yang membuat saya semangat belajar di Darus-Sunnah. Biar orang anggap saya keranjingan belajar, intinya hal itu belumlah mampu menyeimbangi perjuangan yang orangtua saya lakukan demi saya. Hal ini yang kemudian membakar ghirah  saya untuk terus belajar dan belajar, merajut karya dan meluluhlantakkan kemalasan.
Nah, Sabtu-lah yang menjadi ajang saya melampiaskan rasa keberatan saya meninggalkan orang tua karena belajar di pondok. Saat saya menginjakkan kaki di rumah, saya akan bekerja sekeras mungkin demi membantu orang tua menjaga warung dan lain sebagainya. Sekalian ini sebagai refreshing atas rutinitas yang membosankan. Sekaligus ini sebagai alat mempertajam nalar bisnis dalam jiwa saya.
“Hidup laksana melakoni perniagaan, untung rugi harus diperhitungkan dengan serinci-rincinya, pasak tidak boleh lebih unggul daripada tiang. Harus ada perkembangan pemasukan. Soal penghematan hidup, ia adalah kriterium yang wajib digenggam oleh bakal calon pengusaha sukses!”
Rumah, Sabtu, 10 Oktober 2015


Komentar

Google + Follower's