Kajian Surat ad-Dhuha ayat 6-11 Dalam Tafsir al-Qur’anul Kariem Karya Aisyah bintu Syathi’


Aisyah bintu Syathi mengkritik dalam tafsirnya perihal kebanyakan ulama klasik yang menafsirkan ayat jauh dari konteks yang berlangung. Beliau lebih senang untuk memahami ayat sebagaimana harus dipahami, yang didukung oleh penalaran sehat dan data yang tersurat.

Dalam memahami kata yatim, dholal, a’ilan, para mufassir berbeda pendapat. Ada yang pendapatnya mudah dicerna akal, ada pula yang sukar untuk disatukan dengan nalar.

Ada yang mengtakan bahwa Rasulullah itu diberi kekayaan, maka itu tidak sejalan dengan sejarah. Nyatanya, Rasulullah Saw saat meninggal tidak mewariskan harta kepada sanak keluarganya. yang tetap dalam penafsiran ayat ini adalah, bahwa Rasulullah Saw diberikan kekayaan dengan ketenteraman hati.

“maka terhadap anak yatim janganglah engkau memaksa” sampai “dan terhadap rizki tuhan-Mu, bicarakanlah!” pada ayat terakhir adalah diperuntukkan Allah Swt, perintah untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan. Dan dua ayat sebelumnya adalah untuk diterapkan dalam sosialisasi bersama manusia.

Nikmat terbesar yang didapatkan manusia adalah iman dan agama. “Bukankah engkau kala itu tersesat namun sesudah itu kau kami beri hidayah?”


PTIQ, 19 Oktober 2015

Komentar

Google + Follower's