Kubah!

Judul : Kubah
Penulis : Ahmad Tohari
Tebal : 79 Halaman
Penulis Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, sebelum menggubah novel eksotisnya itu, telah lebih dahulu membuat uraian kisah yang begitu menggugah, namanya Kubah.

Novel itu baru saja saya lumat bersama kenikmatan yang diurai di dalamnya. Novel Kubah sebuah novel berisi tentang perjalanan seorang bocah lugu asal Pegaten yang melanglangbuana dengan hebat.

Karman namanya. Lahir dari seorang beragama taat, besar di sebuah desa yang amat menjunjung asas kemanusiaan murni, serta tentram dalam naungan seorang tokoh agama bernama Haji Bakir. Hidpnya penuh estetika.

Masa kecil yang gembira, disusul dengan masa muda yang begitu mempesona, alamnya mendidik bahwa bersyukur adalah harta terbesar yang wajib dimiliki manusia yang hendak menajdi manusia terkaya dunia-akhirat.

Hidupnya hampir dikatakan akan berjalan sempurna bila Margo, kader partai komunis handal, tidak melirik kepada Karman sebagai harta berharga bagi partai besutan Karl Marx itu.

Dengan amat halus dan licin, disertai berbagai iming-iming yang gemerlapan, Karman dari seorang taat beragama, bahkan sampai dianggap sebagai anak oleh tokoh Agama terkenal di daerahnya, Haji Bakir, digriing perlahan menjadi penganut setia paham komunis. Kelak, agama disebut sebagai candu masyarakat yang hanya akan memicu mental keterbelakangan.

Meski tidak berhasil memperoleh Rif’ah, putri Haji Bakir yang sudah lama ia menaruh jiwa padanya, ia mendapatkan seorang Marni, perempuan terhormat dan taat memegang agamanya. Meski demikian, meski Marni adalah orang yang ketat beragama dan Karman sebagai sosok yang telah jauh berpaham ateis, sejauh kita memandang biduk rumah tangga mereka nyatanya masih baik-baik saja. Keduanya, meski berbeda paham, tetap berjalan harmonis. Keduanya sama-sama dewasa dan sama-sama arif memaknai perbedaan.

Hanya saja, pasca 30 September 65 meledak, keadaan Karman mulai goyang. Ketenangan menjadi barang langka yang bisa didapatkan. Pada 1 Oktober 65, Margo, Triman, Pria bergigi besi, sekawanan yang telah berhasil menggiring Karman mencicipi ideologi Komunis berhasil dilumpuhkan oleh pemerintah. Peristiwa berdarah yang menumbangkan pemerintah di Jakarta pada september 65 mengirim kawan-kawan Karman tersebut ke liang kubur dengan keadaan amat mengenaskan.

Karman lari dan mengasingkan diri. Ia diam di hutan, hidup terpecil di dalamnya. Makan-makanan tidak layak dikonsumsi akhirnya ia lahap. Kehausan adalah kawan pribadinya. Nyamuk dan lengangnya kehidupan adalah saudara yang ia jumpai pada masa-masa seperti itu.

Dalam perihal semacam itu, terjadi dialog internal antara dia dengan hatinya. Pada saat itu, tak akan ada yang berdusta, semua akan jujur merasa. Ia mengaku, bahwa ia ternyata telah jauh tersesat dari jalan yang direstui semesta. Terkenang dalam benaknya keluarga yang ia tinggalkan dibiarkan kespeian. Pedesaan yang asri dan diisi oleh orang-orang lugu namun begitu menjunjung tinggi asas kemanusiaan.

Hidup terlunta-lunta. Terjerang penyakit. Badanya ringkih keadaannya begitu memilukan. Saat dalam keadaan demikian ia mencba tampak ke permukaan. Amat disayangkan, bagai tengah menunggu santapan, pihak berwenang yang menyaksikan segera meringkusnya.

Karman, atas restu undang-undang pemerintahan yang sah saat itu, digelandang ke rumah tahanan demi menjadi pesakitan. Ulah yang digagas oleh Karman dan Margo serta beberapa karibnya telah memciu kegeraman yan sangat dalam benak pemerintah. Mereka menuntut. Karman harus membayar. Demikian pahitnya hidup sebagai pesakitan, ia terpaksa menahan sembilu sebagai tahanan selama 12 tahun.

Setelah bebas, ia kembali ke Pegaten. Istrinya, Marni, sudah bersama orang lain, Parta. Pegaten dengan hebatnya masih seperti sediakala. Lugu dan berwibawa. Karman bangga karena Pegaten masih seperti dulu, mudah memaafkan kesalahan orang lain dan tidak berbakat untuk memendam kesumat. Karman segera melebur dan warga Pegaten menyambutnya dengan lapang dada.

Anak keduanya, Tini, dilamar oleh Jabir, anak dari Syarifah binti Haj Bakir, sosok yang dahulu Karman pernah berjuang mati-matian merengkuh cintanya. Tak lama kemudian, hari pernikahan segera dirundingkan. Karman akan berbesan dengan Haji Bakir, yang dulu saat ia terbelenggu dengan paham komunis, Haji Karman adalah sosok nomor satu yang dimushinya.

Masjid Haji Bakir sudah mulai menua sebagaimana pemiliknya. Atas sasmita alam dan tanpa harus membentuk panitia, masjid segera diperbaiki oleh banyak orang. Semua bahu-membahu memperbaiki rumah ibadah yang juga merupakan lembaga penentram jiwa manusia. Semua sibuk dengan kecakapan masing-masing.

Dan Karman, ia mendapat tugas mulia sebagai pembuat Kubah Masjid. Berbekal hasil pelatihannya saat di rumah tahanan dalam membuat kubah, maka ia bergerak mewujudkan peneylesaian tugas.

Kesempurnaan teknik, keindahan estetika, pengelasan besi dengan saksama, ketekunan serta pencurahan jiwa yang berkumpul menjadi satu melahirkan kubah yang gagah nan mempesona. Pada leher kubah digurat teralis. Berisi empat ayat terakhir surat al-Fajr: Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridho, masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku, dan masuklah surgaku.

Kubah itu dihujani pujian. Kubah itu bukan sekedar benda mati yang terpancang di atap masjid. Kubah itu adalah perlambang bahwa Karman telah kembali ke jalan yang benar. Jalan yang senantiasa dicintai Tuhan. Kubah yang ia gubah akan terus menjadi saksi bahwa ternyata kehidupan yang meneteramkan dan menyuguhkan kebahagiaan abadi ternyata amat akrab dengan diri dan kampung halamannya.


Kubah! (Ciputat, 01 November 2015)

Komentar

Google + Follower's