Sekularisasi Ilmu


Sekulerisasi Ilmu adalah penyingkiran segala unsur spirtual dari objek-objek ilmu  yang pada suatu masa merupakan bagian yang integral dari pandangan keilmuan.

Supremasi barat karena pengaruh sekulerisasi (?)

Banyak orang beranggapan bahwa barat maju karena sekulerisasi ilmu dan pengetahuan. Titik tolaknya adalah perisitiwa Renaissance, sebuah kejadian yang mengisyaratkan pemberontakan geliat keilmuan atas otoritas gereja. Salah satu yang melatarbelakangi perisitiwa ini adalah sosok ilmuwan Galileo yang dipasung gerak pemikirannya oleh pihak gereja.

Buku-bukunya dibumihanguskan, orangnya dijadikan pesakitan, disuruhnya Galileo melapor ke gereja dalam kadar yang amat memberatkan fisik ataupun non fiisk, yang atas demikian, maka Galileo akhirnya menutup nafas.

Pemandangan ini tentu amat memilukan, maka berangkat dari kasus demikian, maka mereka bangkit, berusaha untuk memperkaya khazanah keilmuan. Meski demikian, mereka beani untuk tidak mengaitkan unsur-unsur spiritual dalam pengembaraan keilmuan. Tuhan tidak diberikan intervensi dalam perkembangan intelektual.

Islam mundur karena karena tidak menerapkan sekulerisasi (?)

Lantas bagaimana dengan Islam? Apakah Islam mundur karena karena tidak menerapkan sekulerisasi? Jawabannya tentu tidak. Islam menjadi terbelakang, setidaknya demikian yang menjadi isu terkini, bukan karena lalai akan sekulerisasi ilmu pengetahuan.

Sebagaimana dituturkan oleh Dr. Nur Rofi’ah, Bil. Uzm, “Muslim mundur karena tidak menghayati ajaran agamanya sendiri,” dalam ruang lain, sebuah buku dengan judul Limadza Ta’akkhorol Muslimun Wa Taqoddama Ghairuhum mengungkapkan, “Bahwa diantara dua faktor yang menyebabkan umat Islam terbelakang adalah terlalu mencintai dunia dan takut untuk mati.”

Dalam suatu diskusi menyegarkan siang tadi, saat disinggung mengapa hubbud dunya menjadi alasan keterbelakangan umat Islam, padahal toh dalam realitanya orang-orang Barat disana lebih gagah dalam hal mencintai dunia, mereka bisa melangit mengapa kita malah menukik, maka dari kalimat hubbud dunya muncul dua pandangan.

Yang pertama dari seorang mahasiswa mengatakan bahwa kemajuan barat tidak ada hubungannya dengan mencintai dunia, pencapaian mereka dalam bidang sains, ekonomi, teknologi dan informatika semata-mata karena kerja keras mereka dalam meggapai semua itu.

Satu lagi, seorang dosen berpendapat bahwa kita dewasa ini memang terjangkit penyakit hubbud dunya, sama dengan yang dirasa oleh orang-orang Barat, hanya bedanya mereka lebih mampu untuk menghayati apa yang mereka lakukan, mereka mencintai dan menghasilkan, mereka mencintai dan produktif dalam menyongsong kegemilangan, berbeda dengan kita yang hanya sekadar mencintai lalu ikut terlena dan tenggelam di dalamnya.

Dari dua pendapat yang kita saksikan di atas maka tampak jelas, bahwa dengan tidak mengindahkan esensi dogma-dogma Islam dalam mengintervensi geliat kehidupan intelektual Islam, hakikatnya kita telah mempersilahkan bangsa-bangsa agama lain untuk maju memimpin peradaban.

Umat Islam dahulu pernah tumbuh menjadi sosok adigdaya. Itu dikarenakan mereka amat mengkhidmati setiap ajaran yang diusung oleh Islam, iman, islam dan Ihsan direnungkannya dalam-dalam lalu dipadukan dengan semangat keilmuan. Maka, lahirlah peradaban yang gemilang.

Namun, amat disayangkan, jika sekarang kita malah merasa sungkan untuk memupuk semangat dalam menyatukan agama dan pengetahuan. Unsur-unsur hedonis telah mewarnai laju pemikiran umat Islam. Materialistis sudah begitu mengakar dalam penghayatn kehidupan muslim dewasa ini. Kita sedang tertimpa bencana besar.

Umat Islam mampu bangkit dari keterpurukan jika berniat ingin bangkit dan bergegas mengkaji dalam ajaran-ajaran yang ada dalam agamanya. Setelah timbul kepercayaan yang teguh dalam hati bahwa Islam adalah sayriat paripurna yang diturunkan oleh Tuhan kepada manusia demi mencapai kejayaan, kemudian hal itu diejawantahkan ke dalam tindakan yang nyata dan berintegritas, maka terciptalah peradaban gemilang dibawah naungan ISLAM.


Jalan Batan, 27 Oktober 2015

Komentar

Google + Follower's