Yahya bin Ma'in Tidak Fair Ketika Men-dho'if-kan Imam Abu Hanifah (?)

Mendalami dunia hadis mempunyai keunikan tersendiri. Disamping signifikansi hadis itu sendiri sebagai sumber pengambilan hukum Islam, kejelimetan dan lika-liku yang terbentang didalamnya serta manisnya hasil yang didapat dari pengkajian bidang tersebut menjadikan keberkutatan kita di dalamnya adalah surga yang tak tertandingi.

Apakah sama pendebatan yang terjadi dalam jarh wa ta’dil dan gosip?

Pertama-tama kita harus melihat apa yang melatarbelakangi keduanya. Karena segala sesuatu dalam Islam itu dinilai dari niat yang melatarbelakanginya. Jarh wa ta’dil, meski keduanya memiliki kesamaan dengan gosip yakni dalam pengungkapan cacat kepribadian seseorang, namun jarh wa ta’dil diberlangsungkan demi mengkaji kualitas perawi hadis, yang mana hal demikian adalah fase penentuan apakah hadis yang sampai kepada kita melalui perawi-perawi itu otentik dan bisa diamalkan, atau ia bermasalah sehingga harus kita tinggalkan.

Berbeda dengan gosip, dimana mereka membicarakan cacat pada diri seseorang hanya untuk menjelek-jelekkan saja, dan pula, apa yang mereka perbincangkan tidak berbobot sama sekali serta tak memberikan sumbangsih sama sekali dalam hal perbaikan personal maupun dalam cakupan yang lebih luas.

Yahya bin Ma’in tidak fair ketika melemahkan Imam Abu Hanifah (?)

Yahya bin Mai’in, sebagaimana dituturkan oleh Dr. Anshor Bahari, melemahkan Abu Hanifah, salah satu alasannya adalah karena beliau terlalu mengagungkan akal dalam beragama. Sedang agama dalam praktiknya haruslah berlandaskan qur’an dan hadis yang teguh.

Sebelumnya, penting untuk diketahui, bahwa Abu Hanifah adalah seorang pandai lagi bijaksana dalam kajian keIslaman. Pendapatnya yang bagi sebagian orang cenderung berkesan mendewakan akal adalah hoax. Dalam menyampaikan ide-ide keagamaannya beliau adalah sosok yang cakap. Sebelum melahirkan sebuah pendapat terlebih dahulu Qur’an, hadis dan Ijmak ulama beliau perdalami dengan teliti. Segala macam pertimbangan dari olah pikirnya terkait sumber-sumber dikerjakannya dengan tidak main-main. Setelah dirasa cukup, ragam ajaran yang terkandung pada setiap sumber dihimpun dan dikolaborasikan, sehingga lahirlah pengejawantahan hukum keislaman dari sisi beliau, yang kemudian menjadi acuan mazhab hanafiyah.

Berbeda dengan Imam Malik yang nota bene pemikirannya dipengaruhi oleh ahlul atsar masyarakat Makkah, Imam Hanafi adalah sosok yang hidup di masyarakat kosmopolitan dan multikultural, dengan ratusan aliran pemikiran yang aktif lalu lalang di dalamnya, yang sudah pasti maka hal tersebut akan sedikit mengambil alih laju pemikiran Imam Hanafi.

Namun demikian, Imam Hanafi bukanlah sosok yang musda terbawa arus yang berkembang saat ia hidup, sebagaimana sudah saya singgung di atas, justru kecerdikan beliau dalam kajian keislaman yang disandingkan dengan budaya kosmopolitan tempat beliau menarik nafas akan melahirkan sebuah interpretasi keagamaan yang mampu diterapkan pada wacana kosmopolitan. Dan ini adalah hal yang istimewa.

Maka atas dasar itu, ungkapan pak Anshor yang mengatakan bahwa Yahya bin Ma’in tidak fair saat melemahkan Abu Hanifah, bisa ada benarnya.


PTIQ, 21 Oktober 2015

Komentar

Google + Follower's