Jum'at Mendidih

Jum’at siang yang panas mendidih. Ceritanya adalah pada siang hari, saat saya kembali dari mengantar ibu ke Peninggilan, di jalan raya, di tengah keramaian kendaraan, motor di depan saya tiba-tiba menginjak remnya. Berhenti secara tiba-tiba. Saya yang tepat berada di belakangnya juga ikut berhenti mendadak. Tak lama setelah itu terdengar bunyi benturan antar kedua motor, antara motor saya dan motor di belakang saya.

Sejenak berlalu, pengendara di belakang saya menghampiri saya, melabrak saya dengan kata-kata hewaninya yang berlompatan dari mulut tepat berada di bawah bentangan kumis hitamnya. Wajahnya yang legam menyemburatkan aura tak bersahabat. Saya berusaha menjelaskan, namun amarahnya segera membungkus segala perkataan yang saya lontarkan. Jiwanya tidak terima. Disuruhnya saya mengendarai motor dengan otak. Merasa tak akan ada yang mau mengalah maka saya minta maaf. Tensi amarahnya perlahan menurun meski sumpah serapah tetap mengalir mengiringi deru nafasnya.

Selamat jalan, bapak yang sempat mengisi siang hari saya dengan semburan kata-kata bernada pedasnya!
Sepajang perjalanan menuju rumah tak ada yang saya pikirkan selain warna perjumpaan saya barusan dengan lelaki tua yang tidak terima saya perlsayakan demikian. Betapa manusia, manakala amarah sudah mampir ke otaknya, ia akan gelap dan membabi buta menghantam apa yang ada di hadapannya. Meski kadang kebenaran bukan berada pada pihaknya!

Apakah saya kesal? Jelas. Hati saya dongkol serasa ingin melumat abis orang yang membuat hati saya memanas barusan. Namun, saya berusaha sabar. Sabar dalam arti sebenarnya. Tetap menahan diri dari melakukan hal yang malah yang akan melahirkan kekacauan lebih banyak, sambil terus berdo’a kiranya diberi ketabahan, dan semoga yang telah membuat kita jengah tersebut diberikan hidayah oleh Allah Swt.

Untung saya tetap bertahan sabar. Dan beruntung, saya mampu mempertahankannya hingga akhir. Saat saya tengah diliput kemarahan seperti itu, saya menggalakkan dalam diri saya tentang keutamaan bersabar, terlebih tentang bahaya menuruti hawa nafsu amarah yang menguasai kepala dan jiwa saya.

Bintaro, 18 Desember 2015

Komentar

Google + Follower's