Malas Menulis (?)

Semakin hari semakin nyata warna kegelisahan yang merundung jiwaku. Pasalnya, sudah sekian lama saya tidak membubuhkan tinta di atas word dalam laptop-ku. Rasa malas begitu kuat menyergap diri, ide seakan buntu, inspirasi seakan mengangkat kopernya dan pergi entah kemana. Ada apa gerangan, saya juga tak tahu persis detailnya.

Mengapa keresahan mencuat tatkala tangan ini terdiam tak menggoreskan pena. Adakah alasan mengapa jiwa seolah berdenyut tak keruan manakala didapati bahwa kanvas yang terbentang di hadapan sudah sekian lama tak dituangi tinta penggugah makna.

Iya, ada. Adalah kearifan saya tentang manfaat menulis yang begitu dalam sudah mengakar dalam pikiran, urgensi dunia kepenulisan telah tertanam begitu dalam di tataran paradigma, signifikansi pengabadian diri kita melalui aksara yang kita toleh usai tersemai di pelataran hati, yang kemudian, hal demikian diimbangi dengan perlakuan tidak senonoh saya dengan tidak merangkai kata cukup sekian lama. Dan kegelisahan pun kian merebak bak cendawan di tengah musim hujan.

Jika sudah demikian, saat yang kita cintai sudah tak lagi dekat dengan kita, apakah keliru jika kemudian menguar dari dalam hati ini semacam kelinglungan. Seakan ada yang hilang, lenyap tak tentu rimbanya. Dia, yang kita kasihi, timbul tenggelam dari peredaran, lamat-lamat gaungnya terdengar, sayup di pendengaran, kabur di penglihatan.

Oh, tuhan, mengapa demikian.

Usai perenungan jeli dan mendalam, simak pengalaman dari teman-teman, serta melalui hasil pembelajaran kepada beragam guru, satu pelajaran inti yang bisa kupetik dari keterjerembaban ini, yakni minimnya penguatan target yang harus saya jalani ke depan.


Bintaro, 11 Desember 2015

Komentar

Google + Follower's