Membaca Semesta

(1)   Definisi Membaca Semesta

Peka membaca sasmita alam adalah guru paling berharga. Alam terkembang jadi guru. Semesta membentang bukan tanpa perlambang. Terjajar isyarat yang ditebar sang pengatur semesta. Orkestra alam dicipta penuh pertanda. Teruntuk umat manusia, Tuhan sengaja menjadikan pertanda sebagai salah satu petunjuk kehidupan yang amat mempesona.

(2)   Anjuran Membaca Semesta

Allah Swt dalam Qur’an mengungkapkan bahwa hikmah dibalik diturunkannya hujan adalah untuk menghidupkan bumi yang sudah mati. Pada kalimat berikutnya, Allah menegaskan, bahwa itu adalah bukti bagi mereka yang mempunyai pendengaran. Dalam banyak ayat lain, Allah menggunakan term “sungguh pada demikian terdapat bukti bagi mereka yang berakal/berpikir/melihat/mendengar/merasa” dan lain sebagainya. Dia Maha Pandai Mencipta Sasmita.

(3)   Manfaat Membaca Semesta

Dengan demikian, nelayan bisa dengan cermat mengatakan bahwa angin kecepatan sekian adalah berbahaya dan pada kecepatan sekian adalah waktu berharga. Bintang yang bertaburan di langit dengan berbagai rasinya mampu dikaji oleh para pelaut terkait arah yang akan ditempuh. Sukarya, sepuh dukuh Paruk, pun mampu membaca sasmita manakala tercium gelagat bahwa akan segra datang kehancuran bagi tanah kelahirannya (detailnya silahkan baca “Tragedi 1965 dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk” karya Eka Kurniawan)

(4)   Larangan Mengabaikan Membaca Semesta dan Akibatnya

Sudah ditegaskan di awal bahwa membaca perlambanga dalah sebuah kewajiban. Maka alam tak pernah bohong, siapa yang mencela maka akan dicela, siapa yang menebar kebaikan maka akan meraih kebaikan pula, itu adalah sedikit representasi dari hukum alam.

Dukuh Paruk, karena tak mengindahkan isyarat yang diajukan oleh Sukarya, maka ditimpa kegetiran akibat ketelribatannya dengan partai besutann Karl Marx. Ronggengnya ditangkap, perdukuhannya diluluhlantak. Semua berduka tiada tara.

Demikian umat-umat terdahlu, sudah dikabarkan kepadanya sebuah perintah “Belajarlah dari kaum terdahlu, bagaimana mereka akhirnya dihancurleburkan karena mendustai rasul-Nya”, mereka menyepelekan maka mereka menanggung malapetaka berkepanjangan.

Demikian kita.

(5)   Saya dan Pembacaan Semesta

Terima kasih Tuhan karena telah memeringati saya dari kekeliruan. Pertanda sudah ditabur di depan mata. Perasaan sudah dibuka untuk memnacanya. Namun tinggal satu, sudahkah jiwa meneirmanya.

Karena saya tidak ikhlas, tidak senang shalat malam, tidak rajin mengaji, senang bercanda, senang berkata yang tidak-tidak, mengaplikaskan cinta bukan pada tempatnya, maka Tuhan memberi tanda.
Saya dibuatnya tidak tentram, memikirkan perempuan yang tak jelas kemana akan dibawa perasaan, gundah-gulana menyergap, prestasi tak ada yang digurat, mengejar perhatian kepada selain-Nya, mengejar dunia, dan lain sebagainya.

Ini adalah sekian pertanda yang bisa saya baca. Untuk mengatasinya saya butuh menghempaskan sebab-sebab terjadinya pertanda ini. Ketenangan bisa saya dapat kalau saya tanggap sasmita.

Bismillah...

Ikhlas
Shalat Malam
Mengaji
Kurangi Bercanda
Permanis Kata
Berkarya
Sejatikan Cinta 

(Ust Rozi: Rindu “yang bukan pada tempatnya” hanya akan menyiksa jiwa)

Ciputat, 05 Nov 15

Komentar

Google + Follower's