Menggapai Makna


Ternyata berpikir negatif itu tidak akan membuahkan apapun kecuali keburukan. Masa depan yang masih mengambang lebih bermakna jika kita sikapi dengan pikiran optimis, yakin bahwa semua akan baik-baik saja, asal kita mau berusaha.

Jangan sia-siakan waktu yang anda miliki, karena waktu merupakan harta yang paling berharga yang dimiliki manusia. Tidak akan kembali berulang hari-hari yang telah berlalu. Menggunakan waktu dengan hal-hal bermanfaat merupakan ejawantah dari rasa syukur kita kepada sang Pemberi Waktu.

Dalam rangka mempermanis pendistribusian waktu, saya pun kerap mempertimbangkan kegiatan yang akan saya lakukan. Membaca, menulis, bertutur lembut, serta membahagiakan orang lain merupakan rentetan aktivitas yang harus saya jalani.

Saat ini tengah tergenggam dalam tangan saya sebuah buku dengan judul Bahagiakan Dirimu Dengan Membahagiakan Orang Lain gubahan Jonih Rahmat. Sebuah buku berisi refleksi kehidupan yang dialami penulis dan dikait-kaitkan dengan hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman tersebut. Melalui bahasa yang lugas, dipadu dengan kearifan penulis soal keagamaan dan falsafah kehidupan, buku ini menjadi renyah dan ringan dibaca, tanpa meninggalkan sisi bernas yang hendak dikemukakan.

Kalau boleh saya menilai, buku ini sebenarnya berangkat dari pengalaman pribadi yang ditulis dengan teratur dan berkala. Satu yang membuat buku ini menjadi istimewa adalah kepandaian penulis dalam meraih sinyal pelajaran dari sebuah peristiwa yang dilakoni.

Hal demikian memancing saya untuk terus berkarya. Belakangan ini stamina menulis saya agak mengendur, entah karena apa. Di satu sisi saya tetap sadar bahwa ini merupakan malapateka yang harus dijauhi. Kebetulan saya menemukan buku ini di rak buku, berhimpitan di antara buku-buku bacaan lain. Saya mulai membuka lembaran dan menikmati uraian bijak di dalamnya. Saya tergerak.

Atas dasar itu saya mencoba menggalakkan daya baca dan menulis saya. Saya berikrar bahwa dalam hari yang saya tapaki tidak boleh ada kealpaan menambah wawasan melalui membaca serta pelampiasannya dalam bentuk tulisan. Mengaca kepada buku karya Jonih Rahmat tersebut saya teringat dengan sebuah ayat “Wahai Tuhan kami, tidaklah engkau ciptakan sesuatu di muka bumi ini dengan sia-sia.”

Penulis juga menceritakan dalam bukunya bahwa ia, awalnya, bukanlah seorang penulis yang pandai merangkai kata. Kemampuan menulisnya baru ia dapatkan baru-baru ini, begitu selorohnya. Akibat kegighan berlatihnya.

Tadi pagi, kira-kira jam empat pagi, dalam perjalanan saya dari Bintaro menuju Ciputat, saya menyempatkan diri membeli Koran Kompas. Usai merogoh kocek 4.000, koran saya masukkan ke dalam tas, dan saya kembali melesat membelah pekatnya malam.

Bukan tanpa alasan gairah saya membeli koran timbul barusan, pasalnya, kemarin, saat saya menjumpai Gramedia, saya temukan sebuah buku dengan judul “50 Tahun Kompas Memanggungkan Indonesia”, pada halaman 210 dengan judul “Kompas Merawat Toleransi,” dengan penulis Zuhairi Misrawi.

Dalam uraiannya tentang sepak terjang Kompas mengawal serta merawat toleransi di bumi pertiwi ini, diselipkannya di dalam bahwa “merupakan salah satu cara menjadi penulis adalah dengan rajin mematuti kabar Kompas dari halaman awal hingga halaman akhir,” demikian ungkapnya.


Ciputat, 21 Desember 2015

Komentar

Google + Follower's