Menimba Ilmu di Pagi Buta


Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap manusia. Secara istimewa, umat Islam diperintahkan oleh Nabi-nya, dalam sebuah hadis shahih, mengenai hal ini. Ilmu-lah yang akan mengantarkan pemiliknya menuju kehidupan yang lebih sejahtera dan terarah.

Tuhan Maha Tinggi menyebutkan dalam al-Qur’an, bahwa manusia dilahirkan dari rahim ibunya tidak mengetahui sesuatu apapun. Lalu kemudian Allah beri mereka pendengaran, penglihatan, dan kalbu agar bersyukur.

Tanpa ilmu yang mengendalikan hidup, manusia ibarat mayat berjalan, atau laksana binatang yang bertebaran. Hendak melakukan ini tak berilmu, ingin melakukan itu tak memiliki pengetahuan. Apa nikmatnya hidup?

Hal demikian yang juga saya tanamkan dalam hati. Belajar tak kenal henti adalah langkah yang harus dilestarikan hingga kita berkalang tanah. Abdullah ibnul Mubarok, ulama hadis ternama, mengatakan, kendati telah menjadi ulama besar, dirinya mengaku tetap berstatus sebagai pencari ilmu, tholibul ilmi. Ilmu tak akan habis dieksploitasi. Manusia akan selalu bodoh di balik hamparan ilmu yang Allah pertunjukkan kepada manusia yang padahal, kata Allah, itu hanyalah bagian kecil dari ilmu yang Allah miliki. Masih sebatas tetesan di antara bentangan samudra

Maka, jika ada yang dengan bangga memproklamirkan bahwa ia adalah orang pintar, sesungguhnya itu pertanda bahwa dirinya masih belum menemukan kearifan.

Demi memaksimalkan sarana belajar mengajar, duduk di bangku perguruan tinggi di PTIQ yang menuntut hafalan al-Qur’an tidaklah cukup, saya pun mengambil kegiatan ekstra di sebuah institusi yang berkonsentrasi pada kajian hadis, Darus-Sunnah, yang berlokasi di Ciputat.

Tatkala Darus-Sunnah libur dan hanya tersisa Udrus, sambil lalu saya juga mengajar di rumah, mentransfer ilmu ke murid-murid di TPQ di rumah. Demi menyeimbangi kegiatan saya yang cukup padat itu, pada setiap pukul setengah empat pagi saya harus berangkat dari Bintaro rumah saya menuju Ciputat, tempat saya menimba ilmu.

Dengan amat rutin, ayah membangunkanku pukul setengah empat pagi, agar bersiap-siap menuju Darus-Sunnah. Mengejar waktu dimana saya harus aktif mengikuti pelajaran di pagi hari tepat setelah jama’ah subuh berhamburan usai melaksanakan shalat di Darus-Sunnah.

Memang tidak mudah melakukan semua itu, bangun di pagi buta, naik motor dan menembus jalanan yang lengah ditemani pekat serta suhu yang kadang membuat tubuh menggigil kedinginan.

Tapi, berkat gairah dan semangat untuk mencari ilmu membuat saya tetap melanjutkan langkah. Walau rasa malas kadang memasung jiwa, saya berusaha untuk mengempasnya jauh-jauh, dengan harapan penuh, bahwa semua ini tentu akan membuahkan hasil yang manis nan memuaskan. Itu do’a saya.

Tak lupa, demi meruncingkan nalar berpikir saya, setiap hari saya usahakan untuk mematuti aksara serta menggurat kata. Membaca menambah luas cakrawala berpikir, menjadikan paradigma tidak sempit dan bebal.

Membaca adalah membuka jendela dunia. Menulis melatih kita untuk peka terhadap peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Menulis adalah pengejawantahan puisi jiwa ke dalam barisan kata. Menulis adalah usaha kecil kita untuk merekam kehidupan yang kita alami, dan sebagai pelajaran buat generas setelah kita.


Bintaro, 20 Desember, menjelang maghrib.                                                        

Komentar

Google + Follower's