Fashbir!

Saat seorang guru tengah khusyuk mengajari anak didiknya membaca Iqro, beberapa temannya yang duduk tidak jauh dari keduanya malah ramai bercanda. Perpaduan antara suara anak mengaji yang kecil dengan bising kawan di sebelahnya memicu tensi amarah pada diri seorang guru yang tengah mengajar. Otaknya membara karena ia ternyata berdarah muda.

Diiringi kegeraman yang kian memuncak, sang guru tiba-tiba menghentakkan telapak tangannya kencang-kencang ke lantai, sambil berucap tegas, “Diam! Ini teman kalian tengah mengaji, jangan ramai, jadi tidak kedengaran,” lalu anak-anak terdiam. Antara takut dan segan pada guru, mulut mereka kunci.

Sang guru mencoba bernalar ketika ia tengah dalam keadaan marah seperti itu. Dirinya adalah seorang mahasiswa semester 5 yang cukup berprestasi di kampusnya, mengajar privat ia bisa, menulis di majalah pun ia mampu melakoninya. Pada dirinya terbersit sebuah gambaran, bagaimana misalnya nanti, saat ia sudah menapaki s2 atau s3 yang selama ini ia dambakan, namun masih disibukkan dengan mengajar anak-anak kecil yang sulit diatur tersebut. Betapa gengsinya ia. Mengajari anak-anak yang sukar diajak diam, menguras banyak waktu, meminta pengorbanan yang tidak sedikit, dilengkapi dengan bayaran yang tidak sepadan. Baginya, mending mengajar di SMP, SMA, atau menjadi dosen sekalian. Tentu, gaji yang didapat pun lebih berharga dibanding sekadar menjadi guru ngaji di desa tempat ia tinggal. Dirinya kalap.

Ia memang kuasa melakukan semua itu, meninggalkan profesi mengajar Iqro/al-Qur’an, hijrah menjadi pengajar sekolahan atau bahkan kampus, lebih tenang dengan bayaran yang mampu membuat bibir tersenyum.

Kendati demikian, bermunculan rasa iba dalam hatinya. Siapa kelak yang akan melanjutkan estafeta profesi yang ia geluti. Pasalnya, pada daerah tersebut hanya ia yang diunggulkan soal belajar mengajar al-Qur’an. Jika ia pergi meninggalkan anak-anak untuk memperdalam agama, siapa selanjutnya yang akan membimbing mereka? Siapa yang akan menunjukkan jalan menuju “Surga”.

Ia berpikir dan terus berpikir. Sambil mengurai kisahnya ini ia tercenung begitu dalam. Mengais pencerahan lewat do’a-do’a yang dipanjatkan. J

Melakukan sesuatu dan mendapat ganjaran uang yang setimpal adalah hal yang diimpi-impikan. Ia bukti kemakmuran. Tetapi, mengabdi tulus tanpa bayaran bahkan tetap tegar meski mendapat perlakuan tidak baik oleh masyarakat adalah lebih istimewa dari segalanya, in kuntum ta’lamuun. Jika saja kita mampu memahaminya. Demikian, Allah selalu menaruh rahasia tersembunyi pada lokasi yang tidak diduga-duga. Sang Guru berargumentasi.

Semoga pengajar anak-anak itu diberikan pilihan yang terbaik.

Bintaro, 08 Januari 2015



Komentar

Google + Follower's