Pesona Rumah Tuhan

Ketika kaki melangkah dan menginjak bagian dalam Masjid al-Hijrah, terletak di jalan Cempaka V no. 2, Bintaro, tiba-tiba menyeruak angin dari Air Conditioner berhembus menyejukkan kulit. Tempat umat muslim bersujud ini agak berbeda dari yang selama ini saya pijaki. Dengan penataan yang elegan masjid ini cukup memanjakan saya yang waktu itu hendak melaksanakan ritual shalat zuhur usai melakoni UAS di kampus PTIQ.

Cukup lama saya dibuat terhenyak. Saya menikmati ruangan tersebut dengan penjiwaan maksimal. Betapa rumah Tuhan jika dipelihara dan dirawat dengan baik akan mampu menghidangkan pekayanan istimewa bagi jama’ahnya.
Masjid ini tidak terlalu besar, kalau tidak ingin dikatakan terlalu kecil. Hanya terdiri satu ruangan inti saja, di luar dihampar beranda keramik yang lumayan luas, tempat orang bersantai atau musafir yang khidmat menanggalkan penat perjalanannya.

Ruangan mungil namun mewah. Di bagian depan, di mihrab, temboknya dilapisi dengan balutan kayu halus berwarna coklat. Dinding kayu yang kadang saya dapati di rumah-rumah atau kantor-kantor megah. Tergantung sebuah mini box neon yang berfungsi sebagai jam dan penghitung waktu iqamah. Di saat marak pelaksanaan waktu iqomah yang tak terorganisir, kadang cepat kadang pula lambat, menggunakan quick acount go iqamah ini merupakan gagasan yang brilian demi tercapainya totalitas pelangsungan shalat berjema’ah.

Beralaskan karpet hijau nan lembut, orang yang berdiam di dalamnya merasa nyaman. Ditingkahi embusan AC yang semriwing, jama’ah bertambah khidmat dan khusyuk saat pelaksanaan ibadah. Bahkan, saat sujudpun saya begitu khidmat menjiwai setiap desah AC. Niat untuk menulis kunjungan saya ke masjid ini merupakan bagian dari ide yang terlintas saat saya sujud.

Ada pula rak mini besi bertingkat 2 sebagai tempat menaruh al-Qur’an dan buku bacaan keagamaan. Ada pigura khot bertuliskan Allah Swt dan Muhammad Saw., bertengger menghiasai muka mihrab. Mimbar yang eksotis berdiri di samping lokasi imam. Semuanya indah, mampu menyegarkan kepala.

Sunyinya ruangan menjadi faktor utama penghadir ketenangan dalam beribadah. Berbeda dengan yang tidak menggunakan AC, masjid ini begitu kedap suara, selain karena ruangan memang tertutup (pada pintu masjid tertulis, “Ruangan AC, Mohon Ditutup Kembali), kehadiran AC sebagai penyejuk ruangan juga berpartisipasi menenangkan suasana. Dan lagi pula, disini tidak ada anak kecil yang hiruk pikuk bercanda saat shalat berjama’ah dilangsungkan.

Kemudian saya berangan, kalau saja mushalla di dekat rumah saya, yang luasanya kira-kira sama dengan masjid ini, disulap menjadi seperti masjid al-Hijrah ini. Itu ide brilian, mengingat bahwa kondisi di sana, meski ramai jama’ah, fasilitas yang ada kurang memadai. Waktu iqomah yang tidak menentu, penuh ketergesa-gesaan karpet yang agak kusam, ditambah hingar bingar anak-anak saat pelaksanaan shalat karena mnimnya pengawasan orang tua, dan sebagainya, merupakan bagian ilustrasi dari kondisi mushalla di dekat rumah saya.

Mungkin saya perlu membicarakan ini dengan pihak terkait. Saya sudah sedikit banyak belajar proposal di Darus-Sunnah, mungkin saja antara niat dan sedikit keahlian ini bisa dikolaborasikan, sehingga kemudian lahir-lahir hasil nan gemilang. Kemakmuran masjid akan terpenuhi.

Dan tidaklah seseorang memakmurkan masjid melainkan ia adalah orang beriman.


Masjid al-Hijrah , 05 Januari 2016 (Tulisan Blog saya yang pertama di tahun 2016)  

Komentar

Google + Follower's