One Day One Hadith 18/03/2016


حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولا : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا

Diceritakan Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw.  bersabda: "Sebaik-baik hari adalah hari Jum'at, karena pada hari itulah Adam diciptakan. Pada hari itu pula ia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itu pula ia dikeluarkan dari padanya." (HR. Muslim)

Istifadah:

Semua hari adalah baik karena ia datang dari sisi Allah yang tak pernah menyematkan petaka pada hari-hari tertentu. Namun, karena beberapa alasan, Jum'at menjadi pilihan sebagai hari terbaik dalam kurun waktu satu minggu.

Jum'at, dengan beribu keistimewaannya, memiliki ruang khusus tersendiri dalam benak umat muslim di seluruh dunia. Jum'at, waktu kita melimpahkan lebih banyak senyum dibanding hari-hari lain.

Karena pada hari tersebut, umat Islam dipersatukan lewat shalat Jum'at, momentum pas untuk kita melempar senyum dan bertukar sapa kepada sesama. Menaruh kebahagiaan antara satu hati dengan hati lainnya.

"Pada riwayat lain diterangkan bahwa hari kiamat juga akan terjadi hari Jum'at.

Qodhi Iyadh berkata, hadis tersebut tidak dimaksudkan untuk menerangkan fadilah hari Jum'at, karena dikeluarkannya Adam dan dilangsungkannya kiamat bukan hal yang menunjukkan keutamaan, hal tersebut bertujuan bahwa hari Jum'at adalah hari dilangsungkannya peristiwa2 besar, yang pada akhirnya mengisayaratkan kepada kita agar selalu berbuat kebaikan.

Abu Bakr bin Al-Izzi menambahkan bahwa dikeluarkannya Adam adalah rahmat karena lewat tigkahnya bisa lahir keturunan2 mulia seperti Rasul2, Nabi2, Shalih2 dan Awliya'

Sedang hari kiamat menjadi istimewa karena pada waktu tersebut orang2 yang baik akan segera mendapatkan balasannya, orang2 tertindas memiliki wewenang menuntut sang penindas."

(Syarah Muslim Nawawi)

[Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika Darus-Sunnah, dengan sedikit perubahan redaksi]

Komentar

Google + Follower's