Review Skripsi


Judul : Pemahaman Hadis Secara Tekstual dan Kontekstual (Studi Analisis Hadis-Hadis Tentang Menafsirkan Al-Qur’an Dengan Ra’yu)
Penulis : Muhammad Arwani
Kampus : PTIQ Jakarta (S1)
Tahun : 2012
Tebal : 66 Halaman
@@@

Merebaknya tafsir bir-ro’yi dalam memahami al-Qur’an di kalangan umat Islam, padahal ada sebuah hadis yang mengungkapkan bahwa menafsirkan al-Qur’an dengan akal adalah hal terlarang menjadi latar belakang mengapa skripsi ini lahir.  Apakah yang dilakukan para penafsir-penafsir al-Qur’an yang secara metode menggunakan bir-ro’yi benar termasuk ancaman Rasulullah Saw atau tidak? Penelitian ini menjawabnya.

Dalam tugas akhir kesarjanaannya ini, penulis, Muhammad Arwani, merumuskan dengan detail soal pemahaman hadis secara tekstual dan kontekstual terkait hadis larangan menafsirkan al-Qur’an dengan akal.

Penelitian ini bertujuan mengetahui makna hadis-hadis larangan menafsirkan al-Qur’an dengan akal, kedudukan tafsir bir-ro’yi dalam mengulas sumber al-Qur’an serta mengetahui batasan larangan yang diisyaratkan dalam hadis tersebut.

Hasil karya ilmiah ini juga diharapkan mampu menambah wawasan serta memperkata khazanah intelektual terkhusus dalam bidang hadis juga kiranya mampu melengkapi koleksi perbendaharaan perpustakaan kampus, fakultas maupun jurusan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan. Analisis data dilakukan melalui metode deduktif yaitu melalui penghimpunan data yang masih umum diinterpretasikan guna mendapat kesimpulan yang khusus.

Pada akhir penelitian, penulis, Muhammad Arwani, menyimpulkan beberapa poin penting pembahasan : (1) Hadis larangan menafsirkan al-Qur’an dengan akal bermakna jika penafsiran tidak menggunakan kaidah yang telah ditetapkan, sehingga dengan demikian dikhawatirkan akan terjadi pemerkosaan makna teks al-Qur’an. (2) Jika antara sahabat terjadi perbedaan pendapat mengenai tafsir al-Qur’an, maka langkah awal adalah dikompromikan, jika tidak maka diambil pendapat Ibn Abbas karena Ibn Abbas diakui kepakarannya dalam bidang ini, atau kalau tidak dipersilakan mengikut kepada pendapat yang mana saja, asal argumentatif. (3) Al-Qur’an boleh ditafsirkan dengan akal dengan catatan tetap memperhatikan lafaz lewat kajian sastra Arab, pengertian teks dan penggunaannya berdasarkan konteks turunnya al-Qur’an, juga mematuhi kaidah-kaidah tafsir yang telah dibakukan.

Kajian ini melibatkan 36 refrensi yang berfokus pada disiplin keilmuan al-Qur’an dan hadis serta yang bertalian dengan keduanya.

Dengan terbata-bata akhirnya saya menyelesaikan pembacaan skripsi yang digagas oleh Muhammad Arwani ini. Terkesan sekali bahwa skripsi ini ditulis dengan ketelatenan tinggi, dibubuhi perjuangan yang tidak sedikit dari penulis.

Karya ilmiah yang disajikan sebagai pelolos syarat wisuda kesarjanaan ini memberi saya banyak pengetahuan soal pemahaman hadis yang melarang menafsirkan al-Qur’an dengan akal manusia.

Bahwa ternyata, ya, begitulah, kitab sakral semacam al-Qur’an memang akan jauh panggang dari api jika ditafsirkan menggunakan akal semata, maknanya akan kabur dan tergelicir dari yang dimaksud penyajinya, yakni Allah Swt.


Maka perlu kiranya saat akal kita mencoba menjajaki kedalaman al-Qur’an ia dipandang dengan wahyu. Mengingat akal manusia yang terbatas dan wahyu Allah Swt yang tanpa batas.

Sekian. Wallahu A'lam.

Komentar

Google + Follower's