Suatu Pagi di Hari Lebaran

Pada suatu sore yang cerah. Saat mega merah mulai menampakkan batang hidungnya. Ditemani tawa ceria kawanan anak kecil yang larut bermain di pekarangan, bahagia jalani detik demi detik kehidupan. Angin segar menerpa diriku yang asyik menyaksikan geliat kehidupan nan menenteramkan.

Lazimnya, pada waktu senggang seperti sekarang ini, saat semesta seperti menjajakan ketenangan bagi jiwa, pikiran ku melanglangbuana menuju dunia masa lalu yang penuh nostalgia. Biasanya, tak lama kemudian, mengalir potongan-potongan masa lalu berkelebat meramaikan perasaan. Entah kenapa, hampir pada setiap jiwa manusia, tatkala tiba masa yang tenang dalam hidupnya, kepingan-kepingan hidup yang telah berlalu hadir kembali mengisi kehidupan. Tak jarang ia kemudian menciptakan sesungging senyum di pipi.

Kenyataan yang dialami oleh manusia memang terkadang penuh kepenatan, kejenuhan, bahkan kebusukan. Butuh penawar yang berfungsi sebagai asupan keseimbangan jiwa. Supaya hidup seimbang, memang dibutuhkan racikan rasa yang beragam, asam-manis-pedas-pahit-gurih-sedap-maknyus, dan jutaan formulasi rasa lainnya. Kembali menarik memori masa lalu yang menggairahkan di momen menenteramkan kehdupan merupakan salah satu varian, varian yang mempermanis kehidupan.

Menelusup ke dalam bilik kenangan, berusaha mengais lembar kehidupan yang indah untuk dikenang. Yang pahit biar saja kita ambil sebagai pelajaran. Semoga tidak terulang di masa mendatang. Gelak tawa penikmat hari di sekitarku tak mengusik petualangan ku menjamah masa lalu....

Syahdan, pada sebuah potong kehidupan yang hampir terlupakan. Jutaan umat Islam hari itu berduyun-duyun menuju masjid terdekat tempat mereka menunaikan shalat Idul Fitri. Usai berjuang memenuhi kewajiban berpuasa, kebahagiaan menyambut hati mereka saat bulan kemenangan tiba. Waktu lebaran, waktu umat Islam memanen keceriaan. Jerih payah yang mereka semai saat bulan menahan lapar tersebut berbalas guratan semringah yang berlabuh di jiwa mereka saat hari bermaaf-maafan tiba.

Tak terkecuali aku. Sembari memacu langkah menuju masjid al-Ikhlas, usai shalat nanti, aku akan bertandang ke rumah seseorang. Bukan sekadar menjulurkan tangan memohon maaf atas kesalahan dan kekhilafan yang kulakukan, lebih dari itu, rumah yang akan aku tuju nanti di dalamnya ada seseorang yang diam-diam aku sudah menaruh hati padanya. Hmm. Dadaku berdebar. Berdentum-dentum kencang.

Setibanya di Masjid aku mencari posisi duduk, lalu merebahkan badan, bertasbih membesarkan nama Tuhan, menenggelamkan diri dalam dzikir di hari kemenangan. Ratusan umat muslim tampak melimpah, mengentaskan keheningan yang tersisa dari malam-malam bertabur bintang. Saling tegur dan sapa adalah bahasa keakraban kita semua saat itu. Senyum satu yang dilontarkan kemudian disambut dengan sungging senyum lain adalah sajak-sajak sunyi yang mewarnai relung jiwa. Agama kita mengajarkan demikian. Betapa raut wajah yang berseri jika dipantulkan di hadapan orang lain akan bernilai kebaikan. J like this.

Iqamah dikumandangkan, menggerakkan ratusan hati untuk menyucikan diri, lalu menghadap Tuhan. 7 takbir di raka’at pertama disusul 5 takbir di raka’at kedua, shalat. Tak menunggu lama, khutbah Idul Fitri berlangsung dengan saksama. Isinya soal kiat-kiat cerdas bagaimana kita umat Islam mampu mengimplementasikan nilai idul fitri sebagai hari kemenangan ini dalam realitas kehidupan. "Kita harus menang dari segala macam perbudakan!" Lantang Ustadz mengingatkan jama’ahnya.

Kurang lebih 15 menit khatib mengutarakan materi khutbahnya. Saat kalimat penutup dan salam diucapkan, beberapa detik kemudian, ratusan jama’ah tumpah ke halaman masjid. Meneruskan perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Bertemu keluarga dan bersua dengan tetangga. Bermaaf-maafan. Hampir semua demikian kecuali beberapa orang saja, salah satunya adalah aku. Aku, yang kemudian lebih memilih ke rumah seseorang yang diam-diam aku melabuhkan harapan padanya.

Dengan perasaan yang tidak keruan, percampuran antara senang dan khawatir kian bergema. Langkahku mantap, tegas dan berani. Sepanjang perjalan degup di dadaku kian berdentam, bayang-bayang wajahnya berkelebat tak henti-hentinya. Menyisakan senyum yang murni, yang lahir karena ketulusan mendalam.

Tak lama, aku tiba di beranda rumahnya. Memberanikan diri mengatur laju nafas.

“Assalamu’alaikum....”

“Wa’alaikum salam...”

Rahma namanya. Gadis jelita yang selama ini kudamba. Yang kalau malam-malam sunyi dialah yang mengisi kesenyapan tersebut menjadi malam-malam yang penuh warna. Hmm. Ia bagaikan bintang yang mengisi pekat malam. Menyulap sepi menjadi ramai dan berarti.

Ia kini berdiri di hadapanku, membukakan pintu. Mantra-mantra yang sudah kurapalkan tadi agar tidak goyah saat berhadapan dengan sosok istimewa ini seakan tidak berguna. Daya magisnya seolah sirna dihempas wibawa dan kharisma kecantikannya. Waw....

Masih terpaku di posisi dimana aku berdiri. Antara terpukau dan terkesima. Tak menyangka kalau peristiwa ini memang terjadi di kehidupan nyata. Seperti mimpi yang mencuat berlompat ke alam nyata, menawarkan kenyamanan yang sukar dilukiskan. Aku seperti terbang, menjajal kebebasan angkasa, menukik dan manuver sepuas jiwa.

Dari dalam terdengar sayup panggilan orang tua Rahma, menyuruh agar masuk ke dalam. Kami berdua masuk, di dalam ada ibunya Rahma dan kakak lelaki nya yang ternyata juga teman dekatku. Anang namanya. Aku menyapa ramah kepada semuanya. Merayakan maaf-maafan dengan bersalam-salaman. Menanyakan bagaimana kabar dan lain sebagainya.

Kami duduk lesehan. Tuan rumah menyediakan jamuan kecil-kecilan. Sekedar mengeluarkan kue-kue lebaran serta sirup-sirup marjan dipadukan dengan es. Menyegarkan. Kami mengobrol hangat. Dan,,, beginilah aku. Selalu tidak siap untuk memandang sosok yang karenanya hatiku bergetar-getar kencang. 

Tatkala kami sudah dalam satu perkumpulan, menjadikan aku dan dirinya duduk bersebrangan, mata ku malah mengalihkan pandangan. Sebaliknya, ia biasa saja menatap ku, seperti tidak ada apa-apa, dan, memang nyatanya tidak ada apa-apa. Aku saja yang mencintainya dalam diam. Sebenarnya, naluriku mengatakan bahwa ia juga memiliki rasa denganku, hanya saja ia butuh keterangan lebih dalam dariku soal ini. 

Perempuan, menurut sebuah teori, ia malu untuk mengungkap rasa, harus lelaki dahulu yang mengungkapnya. Pada peristiwa ini, perempuan malu mengungkap rasa, lalu disambut dengan laki-laki yang meski ia mencintainya namun toh ia malu pula untuk sekadar menyatakan rasa. Nah, Loh? Jadilah seperti seorang berteriak memanggil seorang lain yang hendak dimintai bantuan, namun lidahnya kelu, angin yang begitu kencang menyapu teriakan sang lelaki yang kurang lantang. Whussss. Laksana debu dihempas beliung.

Meski demikian kami tetap mengangatkan suasana. Menanyakan bagaimana perkembangan sekolah, keluarga, dan yang bertalian dengan keduanya. Aku tidak cukup berani untuk menanyakan sesuatu yang sebenarnya pertanyaan tersebutlah yang membuatku melangkah ringan ke tempat ini.

Kami bernostalgia bercanda bersama. Mengingat masa lalu yang pantas diperbincangkan. Hmm. Pembicaraan mengalir halus dan terkendali, tanpa ada yang sadar satupun, selain Aku dan Tuhan, bahwa selama kunjungan ini berlangsung sebuah jiwa dan seperangkat hati meletup-letup memancarkan kerinduan yang indah dan menteramkan.

Kira-kira satu jam berlalu kami mengakhiri pembicaraan. Aku mengucapkan terima kasih atas jamuan yang diberikan, sambutan hangat yang dihatukan, dan, atas senyuman yang diberikan “tuan rumah” yang hingga kini masih sering terbetik dalam jiwa. Menghadirkan nostalgia-nostalgia pemantik kebahagiaan. J

Aku pamit dan pulang ke rumah. Setibanya di Rumah, seluruh isi keluarga bertanya, “Kamu darimana saja? Kok shalat lama banget?”

Hmm. Aku hanya tersenyum simpul. Menjawab sekenanya saja. Yang penting, di hari di mana semua orang mampu membahagiakan hati mereka, saya telah memuaskan dahaga yang selama ini menghantui diriku. Perjumpaan yang darinya lahir seribu macam keriangan telah ku tunaikan. J

Selamat hari Lebaran, hari jiwa-jiwa menemukan peraduan.


Ciputat-10 Maret 2016

Komentar

Google + Follower's