Usrah = Sebilah Pisau (?)


Keputusan ini bagai sebilah pisau. Bisa digunakan sebagai alat pencacah bahan makanan dan alat mengiris tubuh seseorang. Semua tergantung seberapa arif kita mengatur kendali sebuah fasilitas.
Di tangan seorang koki handal, sebilah pisau berfungsi sebagai pengantar keberhasilan karirnya di dunia kuliner. Di sisi lain, di tangan seorang pembunuh bayaran nan bengis, pisau meminta banyak korban berjatuhan.

Kalau mau kita telisik mendalam, pikiran seseorang begitu berpengah dalam hal ini. Pikiran positif mampu meramu fasilitas yang tersedia menjadi anugerah yang tak terkira buahnya, sebaliknya, pikiran negatif hanya akan membuntukan laju pikir kita serta mampu membumihanguskan sisi kebaikan yang ada dalam diri kita.

            Maka, teruslah beprikir positif, enyahkan jauh-jauh paradigma negatif. Semoga Tuhan membimbing kita menuju cita-cita kebaikan.

Keputusan yang dipilih oleh Dept. Pengajaran IMDAR 2016 soal penetapan ketua Usroh pengajian di Darus-Sunnah teramat mengejutkan. Tanpa diduga, saya termasuk jajaran ketua dari sebuah kelompok diskusi di Darus-Sunnah tersebut.

            Menjadi ketua usroh berarti mengepalai komunitas belajar yang beranggotakan 11 orang dan dihelat pada setiap pagi dan malam dengan jangka selama 4 bulan. Berhimpun di dalamnya mahasantri Darus-Sunnah dari berbagai semester. Mulai dari junior saya, semester 2, kawan sengakatan saya, semester 4, hingga senior-senior saya, semester 6 dan 8, semua tergabung di dalamnya.
            Usroh adalah kalimat berbahasa Arab yang berarti keluarga. Tidak mengherankan kalau istilah demikian yang dikenakan, mengingat bahwa selama kami mondok di Darus-Sunnah komunitas belajar ini memang kehadirannya mewakili keluarga. Pagi dan malam kita berkumpul bertukar wawasan. Pagi dan malam kita berhimpun membuka cakrawala intelektual.

            Usroh yang saya kepalai bernama Bukhari, berjumlah 12 orang. Dengan rincian nama sebagai berikut : Ja’far Tamam, As’ad Fauzan, Zhafirul Badri, Herli Ramdhani, Enceng Ahmad Zubaidi, Arinal Haq, Faris Maulana Akbar, Dimas Rahman, Abdul Aziz Matalih, Diki Ramdhani, Arif Syuhada, Ilham Pamungkas.

            Layaknya dalam keluarga, sang kepala memiliki tugas inti, yakni melestarikan kekamuran dalam rumah tangga. Yang dalam hal ini mungkin bisa ditafsirkan dengan terciptanya gairah intelektual yang meletup-letup saat diskusi, antusias saat mengkuti jalannya pelajaran, kesiapan setiap Penanggung-Jawab (PJ) atas materi yang hendak disampaikan, kesigapan hadir tepat waktu, dan menepati disiplin-disiplin lain yang telah ditentukan.

            Kembali menarik analogi yang dikemukakan di awal, keputusan ini bagi saya laksana saya diberikan sebilah pisau. Terserah saya mau dibagaimanakan. Apakah saya hendak tampil sebagai pembunuh nan bengis, yang berpikiran negatif dan teramat ceroboh menyikapi sebilah alat, atau menjadi seperti koki, yang dengan pikiran positifnya, benda setajam itu mampu ia gunakan untuk menyobek sekat-sekat penghalang menuju cita-cita yang didambakan.

            Pagi tadi saya mendapat sentilan dari Pak Kyai Mustafa. Biasanya, seorang mahasantri yang tidak mampu menjawab maka pertanyaan akan dilemparkan ke ketua Usroh. Diki Ramdani, anggota saya tidak mampu menjawab, maka saya yang harus menjawab. Entah karena memang tidak tahu, perasaan lupa, dan grogi karena baru pertama menjadi ketua Usroh dan segan di depan Pak Kyai, maka saya tidak mampu menjawab. Pertanyaannya mudah, hanya disuruh men-tashrif madda yamuddu saja. Namun demikianlah, saya tidak mampu memuaskan hati beliau deengan menjawab jawaban yang tepat. Saya harus banyak belajar ilmu gramatikal bahasa lebih mendalam lagi, agar selamat.
            
            Genderang peperangan telah ditabuh. Siapkan nyali dan strategi untuk menyiasati tantangan ini. Semoga berhasil.


            Ciputat, 01 Februari 2016

            

Komentar

Google + Follower's