Berkacalah Kepada Seorang Tak Bermata Sempurna Di Perpustakaan Itu !

“Bercerminlah kepada seorang tak bermata sempurna di perpustakaan itu.”

Pada suatu hari Aku berkunjung ke perpustakaan kampus yang terletak di gedung lantai dua. Seperti biasa, perpustakaan ramai dipadati mahasiswa yang hendak menimba wawasan atau mencari klimaks pengerjaan tugas perkuliahan. Larut dalam lembar demi lembar buku yang terjajar di rak-rak perpustakaan.

Semua tersaji rapi. Mulai dari koran harian, majalah mingguan, buku-buku novel ataupun pemikiran yang terbaru hingga kitab-kitab lusuh yang jarang disentuh meski sebenarnya buku itu mengandung kadar keilmuan yang menggunung dan menyamudera. Tak lupa seperangkat komputer dan kuota wifi juga berandil memuaskan dahaga intelektual mahasiswa saat itu.

Rak-rak tinggi berbaris rapi bak labirin. Tampak beberapa mahasiswa tengah meronda mencari buku yang hendak ia jelajahi. Memicingkan mata untuk lebih jelas membaca judul buku dan penulis yang terpagut kecil di cover buku. Ruangan ber-Ac itu sejuk dan senyap. Hikmat.

Ketika kaki melangkah menyusuri baris demi baris rak perpustakaan kudapati pemandangan yang tak biasa. Seorang mahasiswa tengah berdiri dengan pose meletakkan buku 5 cm dari matanya. Matanya mengeja kata-kata dengan jarak yang begitu dekat, bola matanya bergerak mengikuti laju kalimat dalam lembar yang tengah ia baca.

Tak lama ia menolah ke arahku sejenak. Aku terhenyak. Matanya tidak seperti kita yang sehat bugar jernih menatap dunia. Untuk menerawang suatu objek dari jauh matanya tidak kuasa meladeni. Kepalanya harus mendekat atau objek penglihatannya yang harus didekatkan agar terlihat jelas dan tidak kabur. Aku terperanjat dan terkagum-kagum.

Kemudian Aku berpikir.

Semisal dia, iya, semisal dia, masih rajin melecut diri menuju perpustakaan untuk menghirup harumnya aroma keilmuan yang meruap di udara ruang baca. Seperti dia, iya, seperti dia, masih gemar mengayuh langkah menuju ruangan yang terpampang dan tersaji di dalamnya jutaan aksara yang terajut dalam helai-helai kertas bergemerisik.


Membaca adalah jendela dunia. Seorang yang membaca sejatinya telah memilih untuk memasuki dunia yang lebih luas dari yang ia pijaki sekarang. Seorang yang tak bermata sempurna itu mencoba memberontak dari keterbatasan menuju ketakterbatasan. 

Pasang matanya memang tidak kuasa melihat jarak 10 meter ke depan, namun, dengan membaca, ia bisa mengetahui pesona pantai Raja Ampat Papua, mengarungi negara demi negara Eropa yang eksotis, menyimak gemericik deras air terjun Kaieteur di pedalaman hutan Amazon, bertualang di belantara rumus matematika, menyelami samudera sastra hingga bertemu Tuhan lewat sajak-sajak cinta Rumi yang indah menawan jiwa.

Lalu bagaimana dengan kita? Dengan pasang mata yang sempurna tiada cacat ini apa yang telah kita hasilkan? Sudahkah kita membaca yang, sebab olehnya, kita mampu melanglangbuana ke seluruh dunia lewat untaian kata-kata yang tersaji pada lembar demi lembar buku yang tampil gagah di perpustakaan kampus kita?

Mereka menunggu untuk Kita gauli. 

Selamat berselancar di atas lautan tanpa batas ini!

Kamar 9 Darus-Sunnah, 12 April 2016

Komentar

Google + Follower's