Hikayat Legenda



Motor Astrea Legenda, peranakan pabrik tahun 96, seperti namanya, ia telah melegenda di hati saya. Bukan saja karena ia telah berjasa menghubungkan saya, Bintaro, Pasar Jum’at, dan Ciputat. Lebih dari itu, bertumpuk-tumpuk kilas kenangan telah terjalin antara kita berdua.

Eciye.... :)

Astrea Legenda, dua kata, 13 aksara, sebutannya menjulang harum mewarna. Namanya tidak asing di telinga. Mengucapkannya zikir tanpa suara. Astrea, Legenda, Astrea, Legenda...

Hati pun menjadi tenang.

Malam lembab ini, izinkan saya menyulam untaian-untaian hikayat soal Legenda.

Begini,

Satu hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam berkendara adalah bangga dengan kepunyaan sendiri. Peduli setan apakah itu motor kelas dewa, kelas kakap, teri, atau kelas rakyat jelata. Jangan hiraukan, toh ia lebih agung daripada pejalan kaki yang berdalih bahwa sambil jalan mereka bisa sambil mencari penyegar mata.

Menyehatkan, bela-nya.

Termasuk Legenda, sejauh saya menungganginya, dalam beberapa kasus saya terpaksa congkak dada. Saat motor sekelas Ninja, Verza, dan Vixion beserta kegarangannya, melesat di jalan raya di samping motor saya, maka hal tersebut, otomatis, berhasil memantik bara kompetisi di darah saya. Jiwa kompetitif mengurat nadi seketika.

Saya langsung tancap gas, geber-geber jika diperlukan, kemudian melesat tak keruan. Membabat habis musuh di depan. Bak kilat. Rasa gengsi lebih nyaring berdenging ketimbang oglak-oglek perkakas motor yang seolah mau tanggal dari tubuhnya.

Sshheeet! Saya membalapnya. Legenda menderum kegirangan. Sambil dua tiga mur di tubuh motor terkapar kelelahan. 

"Fiugghh," ucapnya, dan, kalau kau bisa mendengar, itu adalah erangan menyedihkan.

***

Akhi Legenda punya kebiasaan unik, ia sering menjebak di penampil kadar bensin. Mau bensin penuh atau tidak, jarum tetap berpihak ke bagian tengah penghitungan. Menyuguhkan PHP yang cerdas nan brlian.

Zein Hadi namanya, orang yang pernah tertipu tipu muslihat Akhi Legenda. Ia pernah meminjam ke saya motor Legenda saat bensin mendekati tetes-tetes terakhir. Dan, sekali lagi, jarum bensin berlagak tegar seakan siap diajak keliling Jakarta. 

Si Zein ke kampus, memarkirkan motor Legenda, dan masuk ke kampus. Saat waktu pulang berdentang, ia gelagapan, Akhi Legenda tidak bisa dihidupkan. Ia hela pedal manualnya tetap tak bergeming. Ia kayuh sekuat tenaga sambil melantunkan "Buka Kita Buka Hari Yang Baru"..... malah kesenyapan yang datang.

Kamu tidak peka, Zein. Dia itu butuh kasih sayang. 

Zein mengusap joknya perlahan, mengusap knalpotnya, dibubuhinya dengan kalimat cinta. Lalu, lalu, Akhi Legenda malah muntah. 

Whuek! 🤑 

Akhi Legenda tetap pada pendiriannya. Dingin.

Usai ditelisik bahwa ternyata Akhi Legenda kehabisan perbekalan. Bensinnya tandas. Dengan amat terpaksa, Akhi Legenda diinapkan di parkiran UIN. Baru kemudian besoknya dijemput sambil dijejali sekantong plastik bensin eceran untuk memacu gairah jalan.

Jeghhlek! Mesin menyala. 

Legenda menerobos pintu penagihan karcis parkir bertanggal sehari sebelumnya. Ia tersenyum girang. Karena ranjau yang ditabur menuai korban. Perlu diingat, Zein bukanlah korban satu-satunya. 

Semoga Legenda berubah menjadi sosok yang dapat memberi kepastian dalam menentukan keputusan. 

Amien.

Bersambung......

Komentar

Google + Follower's