Kisah Munier



Tidak ada semburat cahaya jingga keemasan dari ufuk timur tempat mentari menampakkan batang hidungnya. Pagi ini awan mendung. Tirai raksasa berwarna kelabu digelar di angkasa. Embusan angin sepoi meneduhkan suasana. Kendati demikian, Jakarta tidak tidur. Kota metropolitan yang tak pernah mati ini tetap semangat memancal aktivitas kesehariannya.

Tersebutlah seorang pria lugu bernama Munier sedang asyik mendekam di hadapan laptop merk HP-nya. wajahnya tampak serius memandangi layar kaca di depannya. Dua-tiga nyamuk yang berusaha merebut perhatiannya tidak digubris sama sekali. Lantaran kesal, satu nyamuk menghunjamkan serumnya ke tengkuk Munier. Nyamuk berhasil, namun nahas, gerakan Munier yang amat cepat itu keburu meringkus gelagat nyamuk. Nyamuk mati tertepuk. Dan, Munier kembali asyik dengan laptop kesayangannya.

Munier merupakan mahasiswa di suatu perguruan tinggi ternama di bilangan Pasar Jum’at. Kini ia tengah menempuh semester 7 di fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Hadis. Di kelas setinggi ini ia disibukkan dengan penggarapan skripsi dan kewajiban merampungkan hafalan al-Qur’annya.

Maka, di tengah naungan mendung itu, sambil lalu menyaksikan aktivitas Jakarta yang tak kunjung padam, ia asyik tenggelam dengan gawai mengetiknya. Jari-jemarinya lincah bermain di atas tuts-tuts keyboard.

Awan boleh tidak cerah. Tapi soal penyelesaian tugas akhir ini tidak boleh ada kata menyerah.


#STRONG!

Komentar

Google + Follower's