Menakar Kadar Syukur Kita



Dan pada diri kalian, apakah kalian tidak menyaksikan bukti kasih sayang Tuhan? (Dzariyat : 21)


Mata : Dengannya kita bisa menikmati suguhan panorama yang diberikan Allah. Saat kau kehilangannya, kau menjadi gelap, meski barangkali mata hatimu malah yang makin menyala. Namun, sungguh, memiliki mata yang sehat lagi jernih merupakan dambaan seluruh masyarakat tunanetra. Maka, sudahkah kita mensyukurinya dengan cara hanya menggunakan mata untuk hal yang berguna dan menjauhkan dari kesia-siaan bahkan yang membahayakan buat kita?

Berkacalah pada pria di perpustakaan PTIQ itu, dengan matanya yang bermasalah ia mengeja bacaan dengan jarak antara mata dan kertas buku hanya 5 cm saja! Lha, bagaimana dengan kita?

Hidung : Salah satu panca indera yang dimiliki manusia adalah hidung. Dengannya kita bisa mencium sesuatu. Mengendus dan meraba-raba wujud benda dengan indera penciuman. Seorang yang mengalami kecelakaan parah dan harus merelakan hidungnya hilang rasanya amat perih dan nestapa. Dengan berbagai cara ia akan berusaha mengembalikan hidung yang di wajahnya. Bagi yang berpunya, ia bisa melakukan operasi. Bagi yang tak berpunya, rasa-rasa ia harus selalu siap menapaki realita sambil menggigit jari karena raibnya hidung yang dari permukaannya.

Dan kamu, yang hidungnya masih full fungtion, sudahkah mensyukurinya?
Mulut : Kemarin, tanpa diduga, saya berpapasan dengan seorang ibu bisu tengah mengawani dua anaknya dalam satu perjalanan. Betapa terkejutnya saya, ketika sang ibu memanggil dua anaknya yang berkeliaran, hanya dengan teriakan sengau  saja, seperti meracau, tidak membentuk kata-kata. Jleb! Sang ibu tak kuasa bertutur bahasa. Ia bisu. Ia ingin sekali berbicara namun tak bisa. Lagi, sudah berapa puluh juta ungkapan yang ia ingin suarakan dari hati namun memuai di ujung tenggorokkan. Memudar saat menapaki goa mulut. Membentur kebisuan.

Dan kita, yang punya lisan sempurna, sempurna dalam artian bisa full akses melantunkan kata-kata dengan tegas dan lugas, sudahkah kita memaklumi ribuan nasib saudara-saudara kita yang mengalami cacat dalam berbicara dengan cara memosisikan lisan dengan sebaik-baiknya. Sudahkah?

Telinga : Dalam al-Qur’an disebutkan, dan telah Dia jadikan untuk kalian Pendengaran, Penglihatan, dan Hati agar kalian bersyukur. Dentuman suara merupakan bahasa manusia yang amat urjen. Melalui ragam pembicaraan kita mengerti banyak wawasan dan informasi. Dengan telinga-lah kita mampu melangsungkan kesemuanya itu.

Ribuan pasang telinga sudah hilang fungsi dan kegunaannya. Mampus dikoyak penyakit atau kecelakaan yang menimpa. Sang pemilik tentu amat berharap bahwa kelak pendengarannya bisa pulih sebagaimana sedia kala. Banyak cara dilakukan untuk sekadar mampu kembali mengonsumsi dentum demi dentum suara kehidupan di sekelilingnya.

Sudahkah telinga kita yang sehat-sehat ini digunakan sesuai SOP yang dicanangkan Sang Pencipta Telinga tersebut? rampungkah?

Tangan : Tangan bagi manusia amatlah penting. Tak terhitung berapa banyak aktivitas keseharian yang bisa terlaksana oleh tangan yang dimilikinya. Makan, minum, bermain bulu tangkis, menyisir, dan lain sebagainya. Kendati demikian, manusia seringkali lupa dengan nikmat-nikat agung yang telah dianugerahkan. Saking familiarnya mereka dengan fasilitas-fasilitas gratis dari Tuhan.

Semisal terbitnya matahari dan bulan, pergantian siang dan malam, wujudnya mata, telinga, dan kaki, dan banyak lagi.

Padahal, saat kita kehilangan salah satunya, taruhlah misalnya kita mengalami kecelakaan dan tangan harus diraibkan, maka akan menangis sejadi-jadinya kita. meratapi masalalu, saat memunyai tangan, namun kita lalai mempergunakannya untuk kebaikan.

Kaki : Untuk yang masih muda dan tegar-tegar kakinya agar sejenak menengok bagaimana para penyandang cacat kaki atau sepuh-sepuh yang sudah menggonakan alat bantu tongkat sebagai sarana berjalan.

Barangkali kau menginsapi nilai yang dikandungnya. Jika demikian, sudahkah kau mensyukurinya?


Bintaro, 23 Juni 2016

Komentar

Google + Follower's