Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

Mari Belajar Dari Pria Berkaki Enam

Seharusnya kita iri kepada pria berkaki enam tersebut. Lewat penuturannya, soal ia mesti berjalan selama setengah jam ke musholla demi melangsungkan shalat berjama’ah, tentu itu amat menyentak kita sebagai sosok yang mempunyai anggota tubuh sempurna namun enggan mensyukurinya. Tertampar kita olehnya.
Sebut saja Mas Ipung. Ia pria paruh baya yang mengalami tunas daksa. Kaki dan tangannya yang tak memenuhi standar kebanyakan manusia, membuat dirinya terpaksa harus menggunakan tongkat pemapah berkaki 4. Dengannya ia menjalani kehidupan sehari-hari, dikawani tongkat yang sudah menjadi bagian hidupnya.
Ia bertempat tinggal di Parung Panjang, Banten. Kemarin, tanggal 23 Juli 2016, baru saja ia bertandang ke rumah, bersilaturahmi dengan ayahanda dan keluarga. Sukar dilukiskan bagaimana sukarnya ia menempuh perjalanan yang kian jauh tersebut. Kendati demikian, alhamdulillah tuturnya, banyak orang selama perjalanan yang setia membantunya.
Di dalam rumah, ditemani sesuguhan ala kadarnya, ia mengi…

I Love You, Mbak Dian!

Oleh karena peran akting Dian Sastrowardoyo di Ada Apa Dengan Cinta begitu eksotis, maka diam-diam, semenjak kutamatkan AADC 1 hingga stalking-stalking biografi beliau di internet lalu diklimakskan dengan menonton seri ke 2, aku jatuh kagum padanya.
Kagum, salut, takjub yang dengan sendirinya akan merambat kepada cinta. Aku cinta Cinta. Mbak Dian Sastrowardoyo.
Ost lagu-lagu soundtrack yang melatari jalan perfilman, puisi-puisi yang digubah oleh Rangga maupun cinta, selalu mengiang di kepala. Menyuguhkan nostalgia yang membahagiakan. Terutama wajah Mbak Dian yang manis dan imut, sikapnya yang manja, nalarnya yang cerdas, disempurnakan dengan tingkah lagunya yang menggemaskan, membuat diri ini klepek-klepek.

Berharap bahwa aku bisa mendapatkannya kelak. Tentunya dengan catatan Mbak Dian kembali muda dan seumuran dengan ku. Atau kalau tidak, semoga saja ada Dian-Dian lain yang semisal atau bahkan melebihi Dian yang asli, mbak Dian Satrowardoyo, yang kelak akan menjadi pasangan hidupku. Am…

KH Ghazi : Bersatulah Para Alumni!

Lora Ghazi Mubarok, putra Kiai Idris Jauhari, saat acara Silaturahmi Majlis Kiai Al-Amien bersama IKBAL (Ikatan Keluarga Besar Al-Amien Prenduan) Korda Jakarta di Trimaran Seafood, Lebak Bulus, pada 30 Juni 2016 kemarin, berkata,
“Kepada alumni semua kami harap kalian terus eratkan tali persatuan dan kesatuan. Jalin kebersamaan antara satu dan yang lainnya. Ketika kalian kumpul ciptakanlah barisan, bukan kerumunan. Kerumunan bisa dibentuk hanya dengan dihadirkannya gula di tengah-tengah manusia, ia tidak teratur, berbeda dengan barisan, ia rapi, teguh, dan bisa diandalkan seperti barisan tentara yang siap tempur di medan peperangan.”
“Kami juga minta do’anya kepada kalian semua. Pada generasi ketiga ini semoga kami diberikan kekuatan oleh Allah untuk mengembangkan kualitas almamater. Karena, sejatinya, saat beliau-beliau (kiai-kiai dahulu) itu sudah tiada, kami seperti kehilangan tempat untuk berpulang. Berpulang dengan makna tempat kita-kita mencari nasehat dan pertimbangan soal apa ya…

Menulis Serius-Serius Menulis

Satu hal yang saya ingin lakukan sejak lama, layaknya taubat yang didambakan jiwa pendosa. Saya ingin menulis serius dan bisa menuai manfaat.
Sudah cukup lama saya belajar untuk memaknai setiap apa yang terjadi dalam keseharian serta apa yang terlintas di pikiran ke dalam sebuah tulisan. Menulis, ya menulis adalah salah satu dari seribu langkah saya soal memuaskan hasrat jiwa muda saya yang sering berkecamuk.
Peristiwa berlalu bukan tanpa maksud dan tujuan. Fenomena yang berlangsung setiap detiknya senantiasa mengusung pesan bagi yang melihat dan merasakan. Demi memaksimalkan penglihatan dan penghayatan tersebut, manusia-manusia yang dituding lihai sebagai ahli dalam menyimpan kisah dalam aksara mencoba memotretnya dalam bentuk tulisan. Mengabadikan supaya dikenang zaman.
Tidak terhitung jumlahnya mereka yang pandai menangkap sasmita alam, yang kemudian diejawantahkannya ke dalam tulisan. Saya salut dengan orang yang diberikan Tuhan kemampuan demikian. Hobinya mampu mencipta manfaat buat…

Liburan Semester 5 dan "Senja dan Cinta Yang Berdarah"

Berceritalah malam ini tentang sebuah waktu yang kita lalui tanpa kebersamaan teman, betapa sunyi dan kedap keramaian. Meski malam begitu ramai oleh lalu-lalang kendaraan, suara debum rebana yang ditabuh oleh ibu-ibu PKK yang tengah menghelat pelatihan di mushalla depan rumah, kicau kerumunan anak melampiaskan naluri kekanak-kanakannya, derum televisi yang tengah menampilkan acara serial Antara Nur dan Dia, semua tak seramai saat saya bersama teman duduk berhimpun mengumpulkan gelak tawa.
            Sekarang waktu liburan, maka sesama kita terjadi perpisahan. Perpisahan untuk sekadar melepas kepenatan atas tugas-tugas yang kita emban selama aktif perkuliahan. Perpisahan yang kemudian ditutup dengan kebersamaan lagi, bukan seperti perpisahan yang dialami antara penumpang kereta Jogja bertujuan ke Negeri Senja dengan keluarganya dalam Senja dan Cinta yang Berdarah-nya Seno Gumira. kami akan bersua lagi pada tenggat yang telah ditetapkan.
            Liburan, bagi sebagian orang adalah be…

Menulis Demi Kepuasan Pribadi

Saya adalah penikmat sastra. Lama saya bertualang dalam dunia literatur, menjamah fiksi atau non fiksi, merambah diktat perkuliahan, beringsut ke dunia cerita persilatan, melipir ke kisah seribu satu malam, digiring lagi pada belantara diskusi pemikian, sosial keagamaan, terbawa badai antologi cerita pendek, kemudian tenggelam di antara baris bait puisi. Pada kesimpulannya, sastra amat mendominasi, begitu berkesan.
Tutur kata yang disampaikan sastra lembut sekaligus renyah. Untuk mengonsumsinya amat mudah dan jarang kita mengernyitkan dahi tanda kesusahan mencerna materi. Kerapkali kita digiring pada andai yang tak berkesudahan, disingkirkan sejenak dari pekat realita yang menyesakkan dada menuju sebuah dunia yang amat purna berikut gemerlap yang diusungnya. Ah, aku mungkin menulis seperti ini sebab Eka Kurniawan dengan Lelaki Harimau-nya yang berhasil mengobah laju bahasa penulisan ku.
Atau mungkin karena liburan, sehingga buku-buku beraliran sastra begitu deras menjumpai saya. Biasany…