Liburan Semester 5 dan "Senja dan Cinta Yang Berdarah"

www.sangmediaku.blogspot.com

Berceritalah malam ini tentang sebuah waktu yang kita lalui tanpa kebersamaan teman, betapa sunyi dan kedap keramaian. Meski malam begitu ramai oleh lalu-lalang kendaraan, suara debum rebana yang ditabuh oleh ibu-ibu PKK yang tengah menghelat pelatihan di mushalla depan rumah, kicau kerumunan anak melampiaskan naluri kekanak-kanakannya, derum televisi yang tengah menampilkan acara serial Antara Nur dan Dia, semua tak seramai saat saya bersama teman duduk berhimpun mengumpulkan gelak tawa.

            Sekarang waktu liburan, maka sesama kita terjadi perpisahan. Perpisahan untuk sekadar melepas kepenatan atas tugas-tugas yang kita emban selama aktif perkuliahan. Perpisahan yang kemudian ditutup dengan kebersamaan lagi, bukan seperti perpisahan yang dialami antara penumpang kereta Jogja bertujuan ke Negeri Senja dengan keluarganya dalam Senja dan Cinta yang Berdarah-nya Seno Gumira. kami akan bersua lagi pada tenggat yang telah ditetapkan.

            Liburan, bagi sebagian orang adalah bersenang-senang tanpa batas dan aturan.  Rehat dari tugas-tugas nan melelahkan. Namun, ada juga justru yang menjadikan liburan sebagai waktu kerja tambahan.

Baginya, liburan justru masa dimana kita mampu bekerja menggapai pencapaian dengan target yang kita sendiri menentukan. Hidup yang ringkas dan sekejap ini terlalu sia-sia kalau dibuang sekadar untuk kebahagiaan fana. Cukuplah liburan itu sebentar saja, bahkan menghilangkan gerah kebosanan bisa diberlangusngkan di sela-sela kesibukan.

            Saya tidak hendak memperkuat mana makna yang lebih bernilai antara kedua definisi di atas. Tapi dalam realita saya beprihak kepada yang kedua.

            Pada liburan kali ini, saya dituntut untuk merampungkan beberapa permasalahan. Pertama, soal tugas kewajiban hafalan di kampus. Kedua, soal melestarikan budaya membaca dan menulis agar tidak sirna dari agenda keseharian.

            Untuk semester 5 yang telalu lalu, saya masih menyisakan beberapa lembar lagi yang belum saya hafal. Untung saja, biro tahfidz di kampus, memberikan keringanan pada UAS kali ini, terkait kebebasan agar tidak menuntaskan tenggat hafalan sebelum ujian. Kendati dengan demikian, PTIQ seperti kehilangan taringnya

Dua minggu lagi saya akan menginjakkan kaki di semester 6. Tumpukan kewajiban hafalan semakin meningkat. Menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Pada liburan kali ini, dengan awal terpaksa namun akhirnya pikiran terbuka juga, saya mencoba menyicil tugas-tugas kewajiban tersebut.

            Juga, liburan bagi penikmat sastra serta penggandrung belantika penulisan adalah surga dunia yang mengasyikkan. Jika pada masa aktif perkuliahan mereka harus mencuri waktu untuk sekadar membaca buku ataupun menulis, maka pada masa liburan mereka lebih leluasa untuk mendalami apa yang selama ini mereka geluti.

Membaca adalah memperluas perspektif dan paradigma, semakin gemar membaca maka semakin terbuka wawasan kita, dan kita mampu lebih arif menyikapi fenomena kehidupan yang beragam. Termasuk soal toleransi atas perbedaan yang berlangsung di sekitar kita.

            Menulis adalah orgasme intelektual yang dihasilkan dari pergumulan kita dengan buku-buku bacaan. Meski menulis bisa dihasilkan tanpa membaca, namun dengan terlebih dahulu kita mematuti aksara berisikan pengetahuan, maka tulisan akan menjadi lebih semarak dan kaya makna. Maka, sungguh merugi bagi mereka yang rajin membaca namun amat anti untuk menggurat pena di atas kertas. Menuang makna sebagai bias dari jutaan hikmah yang kita serap dari berbagai belantara.

            Diantara teman setia yang mengawani liburan kali ini adalah sebuah antologi cerpen gubahan Seno Gumira di harian Kompas pada periode 1978-2013 (35 Tahun), yang terhimpun dalam sebuah buku berjudul Senja dan Cinta Yang Berdarah. Ada 85 cerita yang terangkum dalam buku ini, disusun berdasarkan periode penulisan. Dengan sistematika demikian, tampak penulis memang ahli dalam memasukkan pesan moral atas realitas yang berlangsung di Indonesia selama perjalanan kepenulisan beliau yang dikemas secara rapi di dalam uraian kisah yang ia gubah.

            Tentang detail buku tersebut mungkin tidak akan diurai disini. Intinya saya merasa dibuat terpana oleh Seno Gumira Ajidarma. Beliau memang mampu menyihir pembaca dengan sebegitu antusiasnya.

            Selamat berlibur. Sudah dulu ya, saya ingin main Hill Climb Racing dulu nih, lanjut makan indomie telur 2 plus nasi. Hmmm.


            Bintaro, 09 Januari 2016

Komentar

Google + Follower's