Mari Belajar Dari Pria Berkaki Enam

www.nonaina.wordpress.com

Seharusnya kita iri kepada pria berkaki enam tersebut. Lewat penuturannya, soal ia mesti berjalan selama setengah jam ke musholla demi melangsungkan shalat berjama’ah, tentu itu amat menyentak kita sebagai sosok yang mempunyai anggota tubuh sempurna namun enggan mensyukurinya. Tertampar kita olehnya.

Sebut saja Mas Ipung. Ia pria paruh baya yang mengalami tunas daksa. Kaki dan tangannya yang tak memenuhi standar kebanyakan manusia, membuat dirinya terpaksa harus menggunakan tongkat pemapah berkaki 4. Dengannya ia menjalani kehidupan sehari-hari, dikawani tongkat yang sudah menjadi bagian hidupnya.

Ia bertempat tinggal di Parung Panjang, Banten. Kemarin, tanggal 23 Juli 2016, baru saja ia bertandang ke rumah, bersilaturahmi dengan ayahanda dan keluarga. Sukar dilukiskan bagaimana sukarnya ia menempuh perjalanan yang kian jauh tersebut. Kendati demikian, alhamdulillah tuturnya, banyak orang selama perjalanan yang setia membantunya.

Di dalam rumah, ditemani sesuguhan ala kadarnya, ia mengisahkan soal geliat kehidupannya di rumah. Ia tinggal bersama mamak yang sudah sepuh berumur delapan puluhan. Sikapnya yang pikun membuat Mas Ipung harus waspada mendampinginya. Jangan biarkan sang Mamak memanaskan sayuran di dapur, tukasnya, karena ia nanti akan lupa memadamkan percik jago merah.

Pernah sesekali ia pergi ke mushallah, dengan anggapan bahwa mamaknya tak akan memanaskan sayur. Namun nahas, sang mamak malah memanaskannya. Pulang pulang, Mas Ipung kemudian dikejutkan dengan panci yang sudah menggosong dan kepulan asap yang pekat. Untung saja tidak merambat ke selang gas yang kemudian akan meramat menuju ledakan tak terhingga, serta untung saja atap langit rumahnya terbuat dari semen, karena kalau tidak, akan ludes rumah sekomplek, ujarnya.

Adzan Isya dikumandangkan dan kita menyudahkan pembicaraan. Di bawah kepungan gerimis kita melanjutkan aktivitas shalat berjama’ah bersama di Mushalla depan rumah. 10 meter jaraknya.

Pria berkaki 6 bangkit dari kursi menuju Mushallah. Oleh karena keterbatasannya, jarak 10 meter baginya adalah jarak yang lumayan membentang. Kalau dibiarkan berjalan tanpa payung, tentu hujan akan menertawakannya. Maka, dengan perasaan iba sekaligus terkagum-kagum, saya meraih payung dan meneduhkan Mas Ipung dari serbuan air langit yang semakin menderas.

Usai jama’ah Isya bubar, ia pamit, hendak pulang. Dengan pengiringan do’a agar kelak kita semua diberkahi Allah, senyum persaudaraan resmi menutup perjumpaan kita dengannya hari itu.

Ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari interaksi singkat saya dengan Mas Ipung barusan. Tuna Daksa yang ia alami memang agak mempersukar keseharian hidupnya, namun untuk melakukan kebaikan, ia tetap konsisten menjalankannya. Silaturahmi dan berjuang menolong orang lain tetap tidak dia tinggalkan.

Kalau yang seperti Mas Ipung saja bisa melakukannya, mengapa kita tidak?


Komentar

Google + Follower's