Menulis Demi Kepuasan Pribadi



Saya adalah penikmat sastra. Lama saya bertualang dalam dunia literatur, menjamah fiksi atau non fiksi, merambah diktat perkuliahan, beringsut ke dunia cerita persilatan, melipir ke kisah seribu satu malam, digiring lagi pada belantara diskusi pemikian, sosial keagamaan, terbawa badai antologi cerita pendek, kemudian tenggelam di antara baris bait puisi. Pada kesimpulannya, sastra amat mendominasi, begitu berkesan.

Tutur kata yang disampaikan sastra lembut sekaligus renyah. Untuk mengonsumsinya amat mudah dan jarang kita mengernyitkan dahi tanda kesusahan mencerna materi. Kerapkali kita digiring pada andai yang tak berkesudahan, disingkirkan sejenak dari pekat realita yang menyesakkan dada menuju sebuah dunia yang amat purna berikut gemerlap yang diusungnya. Ah, aku mungkin menulis seperti ini sebab Eka Kurniawan dengan Lelaki Harimau-nya yang berhasil mengobah laju bahasa penulisan ku.

Atau mungkin karena liburan, sehingga buku-buku beraliran sastra begitu deras menjumpai saya. Biasanya, saat aktif perkuliahan dan pengajian, saya acapkali tenggelam dalam dunia non fiksi. Buku-buku serius berisikan kalimat-kalimat kekinian, dibarengi bobot berat teori pemikiran pakar intelektual, dibingkai dengan alur baris yang minim jeda, menjadi santapan hangat setiap waktunya.

Hmm. Entahlah.

Intinya aku jatuh hati pada kesusastraan. Terkhusus karena kata-katanya yang sering membuai, dan karenanya, kemudian saya menjadi pembual. Lewat permainan kata, orang yang dungu lagi pecundang bisa terkesan gagah dan elegan. Huahaha.

Berbicara soal nikmat-menikmati, tentu ada titik penghabisannya. Seorang anak kecil yang disuguhi Es Krim terlezat pujaan perutnya, saat ia tiba pada titik terpuasnya, ia akan merona bahagia seraya mengumandangkan kata, “ENAAAAAKKK!”

Juga Pasutri (Pasangan Suami-Istri), saat mereka berdua saling menghabisi di atas ranjang, menggelontorkan hasrat pada lawan, menggelinjang seraya menjerit keasyikan (efek baca buku Djenar Maera Ayu), akhirnya mereka tiba pada titik klimaks sebuah rasa, dimana saat itu, sebagaimana komentar yang pengalaman, tak ada nikmat yang melebihi nikmat saat mendesah berat tatkala berlangsungnya orgasme. Tssaaaahhh! (21+)

Setali tiga uang, demikian soal mengudap sajian sastra. Bukan hanya sastra sebenarnya, semua literatur bacaan yang dinikmati dari berbagai alur disiplin pengelompokan genre bacaan, tentu akan ada titik klimaksnya. Ada yang sebatas terharu-biru lalu sendu. Ada yang tegelak tawa, terpingkal-pingkal keasyikan. Ada yang menggaruk-garuk jidat lantaran kesal tidak menemukan puncak orgasme pembacaannya. Atau bahkan, dan ini yang paling dewa menurut saya, ia akan menumpahkan hasil bacaannya ke dalam sebuah tulisan penuh makna.

Ide-ide yang ia punya dikembangkan melalui pisau analisis yang didapat hasil pembacaannya tadi. Perbendaharaan kalimat dan gagasan-gagasan brilian tentu akan mensupport sebuah ide yang akan ditulis.

Menulis bisa menjadi ladang mengeruk pundi. Namun itu butuh proses yang tidak mudah. Sementara kita berproses, mending kita nikmati saja kenikmatan yang ada. Menulis, sebagaimana dikemukakan di depan adalah buah pelampiasan membaca.

Dan pohon disebut ciamik jika dia menghasilkan buah yang berbondong-bondong. Membacalah sebanyak-banyaknya, sekaya-kayanya, sekuat-kuatnya, sebadai-badainya, segila-gilanya, semampus-mampusnya, kemudian orgasmelah di lubang yang pantas. Kau bisa bersenggama sepuas-puasanya lewat membaca, lalu alirkan buncah dan gelegaknya lewat tinta yang kemudian luruh di atas pemukaan kertas.

Menulis untuk kepuasan pribadi itu penting.

Sepenting kehadiranmu untuk hilangkan sepi hidupku... agar hatiku tak berjelaga lagi, Cinta! (Dian Effect)

Bintaro, Jum’at 22 Juli 2016


Komentar

Google + Follower's