Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Sebuah Resensi

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan adalah salah satu penulis yang saya kagumi di era syawal 1437 H. Pasalnya, pada lebaran kali ini, uang yang saya miliki langsung saya bawa ke Gramedia untuk merasakan salah satu buku beliau berjudul Corat-Coret di Toilet.
Sebelumnya, saya telah berkenalan dengan beliau lewat buku O, sebuah novel yang mengisahkan Seekor Monyet bernama O yang jatuh cinta pada kaisar dangdut, yang dimiliki teman saya. Baru beberapa halaman saja saya membacanya.
Usai menuntaskan Corat Coret-nya, saya mulai stalking soal Eka. Beliau ternyata merupakan penulis yang andal. Melalui Novel-nya berjudul Lelaki Harimau, yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Man Tiger, ia mampu menjadi nominasi Man Booker Prize, ajang penghargaan bakat sastra tingkat dunia di bawah Nobel. Namanya bersanding dengan penulis papan atas semisal Orhan Pamuk asal Turki, dan lain sebagainya.
Beliau seangkatan dengan Puthut EA, kepala suku Mojok.co. Bukunya yang sudah beredar adalah Seperti Dendam, Rindu Haru…

Kisah Pria Berwajah Semringah

Pada suatu pagi saat mentari mulai mengerlingkan matanya ke hamparan bumi, seorang perjaka bertubuh tinggi semampai tampak keluar dari rumah dengan wajah semringah. Semalaman ia tidak tidur, mengencani rembulan dengan detap tuts-tuts keyboard yang tertanam dalam laptopnya. Tugas akhir perkuliahan yang sebentar lagi menuju tanggal penghabisan dikebut sedemikian rupa, membuat dirinya seperti kerasukan malaikat intelektual. Penuh gairah.
Meski ia lembur namun ia tetap segar saat jalanan di depan rumahnya benar-benar ramai menandakan pagi tiba. Diedarkannya pandangan kepada sekitar. Rumah-rumah berbaris rapi, pepohonan yang tegap menjulang mengiringi tubuh jalan, dan tentunya, senyum masyarakat yang ramah dan hangat menyapa. Beberapa orang menyapanya dengan santun, dibalas pula dengan ungkapan mengindahkan hati, plus sesungging senyum yang menggelayut di wajah. Indah.
Dalam rumah yang ditinggalinya hanya ada dirinya dan ayah yang sudah renta. Oleh karena satu dua sebab, ayah dan ibunya cera…

Cerita Lelaki Nestapa

Menulis adalah membingkai peristiwa, menghidupkan gagasan, mengemas sejarah agar tidak hilang dilibas waktu. Menulis adalah bercerita, berkisah soal hari ini dengan jutaan pernak-pernik yang dikandungnya, untuk dituturkan kepada cucu-cucu kita mendatang, agar mereka paham, agar mereka arif menyesap masa depan. Menulis adalah membaca, membaca realita untuk disuling menjadi kata-kata.
Dikisahkan ada seorang pemuda tanggung bernama Akrom, berpenampilan necis, klimis, namun sayang hatinya seringkali gerimis. Hari-harinya bagai hujan Bulan Juni, sarat luruh bulir duka, lantaran perempuan-perempuan yang ia cintai selalu menolak peraduan rasanya.
Betapa perempuan tidak muak atasnya? Wong setiap kali ia melihat wanita-wanita baru, ia akan menilainya dengan kata-kata, Cantik. Kemudian ia terpincut, melupakan yang lain. Jiwanya mudah limbung seiring melimpahnya perempuan-perempuan baru yang datang dalam hidupnya. Perempuan mana yang sungkan untuk mempertahankan orang semacam dia? Tidak ada.

Merawat Lisan

Bintaro. Catatan Ja’far Tamam-Di antara ciri orang yang ingin sukses dan mau beruntung adalah bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Terkhusus lisan, manusia sering membuang-buang amunisi di medan ini. Tanpa ada objek sasaran, ia membabi buta menggelontorkan timah panasnya ke sembarang arah.
Lisan adalah karunia terbesar Tuhan. Tanpa lisan seseorang menjadi bisu. Wahai, betapa nestapanya menjadi bisu! Maka ia harus kita jaga dengan sebaik-baiknya, karena lisan adalah senjata utama umat manusia. Gunakan ia secara profesional. Pakai seperlunya dan jangan di-mubazir-kan. Eman.
To Lisan adalah sebuah kata yang berarti bicara. Bahkan, berdasarkan penialaian pakar, To Lisan (Baca : Tulisan) memiliki nilai manfaat yang lebih besar dibanding suara lisan semata.
Saat sang empunya lisan meninggal, maka buah katanya akan ikut dikubur Berbeda dengan tulisan. Saat penulis meninggal maka tulisannya akan kekal.
Menulis berarti bicara. Pun menulis juga butuh penjagaan yang ketat agar ia tepat guna dan m…

Pak Kiai Wafat

Ciputat, As-Shuffah- Kamis pagi, ketika mentari baru saja menyibak tirai cahayanya, ratusan mahasantri Darus-Sunnah baru saja menyelesaikan pengajian halaqoh di masjid. Baru saja menghirup udara pagi di luar masjid, tiba-tiba tampak beberapa orang tengah berlarian sigap seperti ada yang tidak biasa terjadi.
Salah satunya mendatangi saya, dengan lirih namun menyentak, ia berkata, “Pak Kyai Wafat!” Hatiku menggeledek-mengguntur. Dadaku sesak oleh tohokan berita yang tidak pernah diduga-duga ini. Kedua mataku menghangat. Meski demikian, aku tetap bergeming tidak percaya. Beliau kemarin masih sehat-sehat saja, kenapa tiba-tiba harus menutup usia.
Tak lama ratusan mahasantri tampak linglung mendapati berita ini, antara terkejut dan tidak percaya. Kaget setengah mati karena didapati orang yang dicintai diberitakan telah tiada. Beratus potong wajah yang kebingungan itu tak lama kemudian bergegas memastikan kebenaran berita duka yang segera tersebar.
Pesantren ramai. Hingar-bingar. Hiruk pikuk o…

Obrolan Soal Serpih Luka

Menyambut pagi dengan detap tuts di atas laptop adalah surga bagi saya. Betapa dalam kehidupan kita begitu melimpah rangkai kejadian yang amat rugi jika disia-siakan. Kalau kemudian Pram mengatakan bahwa menulis itu mengabadikan penulisnya, tentu saya sepakat dengan beliau.
Salah seorang Tokoh, sebut saja MM Azami, seorang pakar khazanah hadis asal India, mengatakan dalam buku “Sejarah Teks Al-qur’an”nya bahwa dimulainya sebuah peradaban ditandai dengan ditemukan sebuah tulisan.
Yeaah....
Pagi ini saya akan menulis tentang luka. Apa itu luka dan sejauh mana ia akan mempengaruhi aktivitas kehidupan saya.
Luka adalah saat kau merasa tidak nyaman menjalani rutinitas. Luka adalah cacat yang mengusik ketenangan hidup. Luka adalah saat kau dicampakkan seorang wanita hanya karena ia salah menilaimu. Shit This!
Okeh, langsung saja, luka yang saya maksud disini adalah sebuah kubangan perih di sebagian kujur tubuh saya yang tercipta akibat motor yang saya kendarai bersama Noris usai jalan-jalan men…

Pengenalan Kritik Hadis (Resume Kritik Hadis Pertemuan Pertama)

Musthafa A’zhami, dalam kitab Mahaj Naqd Indal Muhaddisin, pada bab pertama kitabnya yang menyoal soal pengenalan kritik hadis mengatakan :
Bahwa Sempurna syariat Allah dan kewajiban kita untuk beriman kepada Rasulullah. Juga Kewajiban kita menyebarkan sunnah nabawiyyah.
Urgensitas kritik hadis.
Perkembangan naqd. Naqd sudah ada zaman Nabi, dan itu hanya untuk memantapkan saja, karena nyatanya para sahabat tak ada yang berdusta kepada Nabi.
Hadis-hadis yang menunjukkan bahwa sahabat banyak yang bertanya langsung kepada Nabi soal sebuah hadis. Dan Nabi mengatakan, benar, benar, dan benar.
Sejarah naqd. Semenjak masa Nabi sudah ada, namun praktiknya masih dalam tataran yang sempir saja. Dan Abu Bakar sebagai sang proklomator. Beliaulah sang penggagas al-muqoronah baina riwayat
Menurut Ibnu Hibban, tokoh yang pertama kali mempersoalkan periwayat adalah Ali dan Umar.
Kemudian ada 10 tabiin yang tersohor dalam memberikan sumbangsihnya dalam hal ini, diantaranya adalah Said Bin Musayyab da…

Video Stunman Di Acara Ini Talkshow (Haniefan)

Gambar
D

Membumikan Nilai Islam di Bumi Pertiwi Ala Soekarno (Butir-Butir inti Surat-Surat Islam dari Endeh gubahan Ir. Soekarno)

Gambar
Selaku penghayat ajaran Islam ke-Indonesiaan, Soekarno amat cekatan mengkritisi nasib ajaran Islam dan pengaplikasiannya di lapangan. Bukan hanya karena ia lahir dan tumbuh besar di tanah yang menampung umat Islam terbesar di dunia tersebut, komprehensifitas ajaran Islam yang kemudian bertolak dari realita lapangan itulah yang membuat ia tercambuk untuk menumpahkan gugatannya tersebut dengan bijak dan cerdas.
Salah satunya adalah lewat Surat-Surat Islam dari Endeh, refleksi yang merupakan bagian dari buku beliau berjudul Di Bawah Bendera Revolusi yang tersohor itu.
Surat-Surat Islam dari Endeh menghimpun 12 buah surat. Surat-surat yang bersisi pergolakan sikap Soekarno menyikapi Islam ke-Indonesia-an itu dilayangkan kepada Tuan A. Hassan selaku Guru “Persatuan Islam” di Bandung.
Di dalamnya diurai bagaimana Soekarno amat memerhatikan kondisi Muslim Indonesia, praktik kesehariannya, karakter ideologinya, seraya tak lupa mengkritik kecacatan yang dikandungnya, menggugat kebobrokan yang ac…

Google + Follower's