Eka Kurniawan

Eka Kurniawan adalah salah satu penulis yang saya kagumi di era syawal 1437 H. Pasalnya, pada lebaran kali ini, uang yang saya miliki langsung saya bawa ke Gramedia untuk merasakan salah satu buku beliau berjudul Corat-Coret di Toilet.

Sebelumnya, saya telah berkenalan dengan beliau lewat buku O, sebuah novel yang mengisahkan Seekor Monyet bernama O yang jatuh cinta pada kaisar dangdut, yang dimiliki teman saya. Baru beberapa halaman saja saya membacanya.

Usai menuntaskan Corat Coret-nya, saya mulai stalking soal Eka. Beliau ternyata merupakan penulis yang andal. Melalui Novel-nya berjudul Lelaki Harimau, yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Man Tiger, ia mampu menjadi nominasi Man Booker Prize, ajang penghargaan bakat sastra tingkat dunia di bawah Nobel. Namanya bersanding dengan penulis papan atas semisal Orhan Pamuk asal Turki, dan lain sebagainya.

Beliau seangkatan dengan Puthut EA, kepala suku Mojok.co. Bukunya yang sudah beredar adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Novel,2014) , Cantik Itu Luka (Novel, 2002), Lelaki Harimau (Novel, 2004), Corat-Coret di Toilet (Kumcer), Gelak Sedih (Kumcer, 2005), Cinta Tak Ada Mati (Kumcer, 2005), dan O (Novel, 2015). Ia produktif menulis di jurnal onlinenya, www.ekakurniawan.com

Terkhusus buku Cantik Itu Luka, ia telah diterjemahkan ke bahasa Jepang, Malaysia, dan Inggris itu mengalam awal yang buruk. Awal kali mengajukan buku tersebut, beberapa penerbit menolaknya, sambil mengatakan bahwa buku itu terlalu tebal. Butuh biaya besar untuk memasarkannya dan jaminan laris di pasar adalah sebuah teka-teki meresahkan. Namun kini buku itu sukses menunjukkan kecemerlangannya. Horison mengomentari, “Inilah Novel Berkelas Dunia!”

Tak lama akhirnya saya baca juga bukunya yang lain berjudul “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.” Kisah Ajo Kawir dan teman sunyinya mengantar kita menuju permenungan yang hakiki akan falsafah kehidupan.

Berikut yang bisa saya rangkum soal kedua buku Eka Kurniawan, Corat-Coret di Toilet & Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, yang sukses menemani kesepian saya di libur lebaran 1437 H.
***

Melawan Ketidakadilan Dengan Rentetan Kisah Inspiratif

Judul : Corat-Coret di Toilet
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016
Cetakan : Kedua (Cover Baru)
Tebal : 125 Halaman
Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek yang keseluruhannya ditulis pada periode 1999-2000. Ia bukan sekadar kisah, lebih jauh, ia merupakan jejak sejarah.

Menyaksikan masa lahir buku ini, tak ayal jika kemudian semangat perlawanan atas Orde Baru begitu kental diurai di dalamnya. Atas keliahain Eka meramu cerita, buku ini mendapat sambutan baik di kalangan pembaca.

Setidaknya ada 12 cerita yang dituang di dalamnya. Kesemuanya apik dan istimewa.

Ada Kisah Peter Pan yang berkisah soal mahasiswa aktivis era Orde Baru. Semangatnya yang gigih memperjuangkan keadilan di tanah air tercintanya membuat ia harus menelan pil pahit kehidupan. Segala yang ia lakukan akan ia lakukan, demi tegaknya kebenaran. Hingga pada akhirnya, saat orasi yang dilontarkannya kian berpengaruh pada pemerintahan, menggoyahkan lawan, ia diringkus dan dilenyapkan. Peter Pan, begitu ia disapa, bermakna sosok yang tak pernah tua. Saat kawan-kawannya meluncur keluar kampus, Peter Pan tetap menjadi mahasiswa yang setia memperjuangkan moral kekuasaan. Saat ia tiada, banyak orang menangisinya.

Ada Kisah Dongeng Sebelum Bercinta, menarasikan kisah Alamanda, gadis cantik yang terjebak penatnya perjodohan ayahnya, sehingga ia harus merelakan dirinya dinikahkan dengan Kakak sepupunya. Ia mencoba mengelak untuk disetubuhi suaminya hingga beberapa lama dengan melakukan ritual Dongeng Sebelum Bercinta. Kisah Alice’s Adventure In wonderland dikisahkannya begitu lambat. Malam demi malam sebagaimana Syahrazad mengisahkan kisah Seribu Satu Malam-nya pada suaminya saat ia mencoba mengelak dari kematian.

Ada Hikayat Corat-Coret di Toilet, mengisahkan bahwa toilet di sebuah tempat menjadi buku harian milik umum. Dinding toilet yang baru saja di cat dijadikan media pelampiasan. Seluruh lapisan masyarakat menuang gagasan di tubuhnya. Dari yang penting hingga yang kurang penting. Hingga saat ada seorang menanyakan mengapa mereka tega mengotori dinding toilet, kenapa tidak menyampaikannya ke anggota dewan, tentunya dengan pena memagut dinding, seorang lain akhirnya menimpali, “Aku Tak Percaya Bapak-Bapak Anggota Dewan. Aku Lebih Percaya Kepada Dinding Toilet”. Dan seratus komentar dibawahnya mengatakan dengan nada yang sama, “Aku Juga.”

Ada cerita Teman Kencan, mengisakan seorang mahasiswa aktivis yang hendak malming dan mencari teman kencan. Setelah semua perempuan yang ia kenal ia telpon, ia ajak untuk mengentaskan kesendiriannya di malam minggu, ia teringat pada mantan kekasihnya yang meninggalkan ia saat ia sibuk menjadi aktivis. Merasa diduakan. Ia terpukul karena saat ia ditawari untuk ke rumahnya, ia puji Ayu, nama kekasihnya, bahwa ia ternyata tambah subur dan lain sebagainya. dan ternyata, Ayu tengah hamil, tak lama, suaminya keluar. Memuaikan cita-cita yang dia rangkai.

Ada pula kisah dengan judul di bawah ini : 
Rayuan Dusta Untuk Marietje
Hikayat si Orang Gila
Si Cantik Yang Tak Boleh Keluar Malam
Siapa Kirim Aku Bunga
Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti
Kisah dari Seorang Kawan
Dewi Amor
Kandang Babi

Yang hingga tulisan ini di post, saya belum juga mampu mendeksiripsinya.

Bersambung....

Komentar

Google + Follower's