Kisah Pria Berwajah Semringah

Pada suatu pagi saat mentari mulai mengerlingkan matanya ke hamparan bumi, seorang perjaka bertubuh tinggi semampai tampak keluar dari rumah dengan wajah semringah. Semalaman ia tidak tidur, mengencani rembulan dengan detap tuts-tuts keyboard yang tertanam dalam laptopnya. Tugas akhir perkuliahan yang sebentar lagi menuju tanggal penghabisan dikebut sedemikian rupa, membuat dirinya seperti kerasukan malaikat intelektual. Penuh gairah.

Meski ia lembur namun ia tetap segar saat jalanan di depan rumahnya benar-benar ramai menandakan pagi tiba. Diedarkannya pandangan kepada sekitar. Rumah-rumah berbaris rapi, pepohonan yang tegap menjulang mengiringi tubuh jalan, dan tentunya, senyum masyarakat yang ramah dan hangat menyapa. Beberapa orang menyapanya dengan santun, dibalas pula dengan ungkapan mengindahkan hati, plus sesungging senyum yang menggelayut di wajah. Indah.

Dalam rumah yang ditinggalinya hanya ada dirinya dan ayah yang sudah renta. Oleh karena satu dua sebab, ayah dan ibunya cerai. Ayahnya menikah lagi dengan janda asli Betawi. Tidak serumah, meski kehadirannya untuk mengajar TK membuat dirinya sellau tandang ke rumah, karena TK tempatnya mengajar adalah di rumah sang Ayah. Namun, sekali dua kali dalam seminggu disempatkannya menginap di rumah sang suami. Demikian sebaliknya.

Yang perjaka itu tahu bahwa ternyata tidak semua ibu tri itu galak, garang, sebagaimana dipertontonkan dalam sinetron-sinetron murahan. Ia baik dan ramah. Familiar dan ringan tangan dalam memberikan bantuan. Sang anak tentu saja senang.

Perjaka itu bernama Aku.

Aku tengah menjalani bangku perkuliahan di sebuah sekolah tinggi ternama di bilangan Lebak Bulus. Demi terciptanya fokus belajar, Aku memilih tinggal di sebuah asrama di daerah Ciputat. Bukan hanya karena ia lebih dekat dengan kampusnya, gairah intelektual yang berkembang lewat pengajian yang digelarnya membuat ia semakin mampu mengasah kepribadiannya. Emejing.

Namun, tatkala libur, ia beralih tempat tinggal di rumahnya di bilangan Bintaro. Kampus libur dan asrama libur. Hmm. Ia langsung bergegas pulang untuk memperbaiki gizi dan meningkatkan gairah makan. Biasanya, kalau libur seperti ini, Aku sering mengalami berat badan.

Meski demikian obesitas tak akan merenggutnya, karena Aku saat di rumah aktif membantu orang tua kerja sebagai penjaja warung sembako. Semenjak pagi berkibar hingga malam jam sembilan-an, warung buka melayani kebutuhan masyarakat. Mengangkat galon, memindahkan tabung gas, dan sebagainya menjadi ganti olahraga yang harus dilakukan.


Komentar

Google + Follower's