Merawat Lisan

Bintaro. Catatan Ja’far Tamam-Di antara ciri orang yang ingin sukses dan mau beruntung adalah bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Terkhusus lisan, manusia sering membuang-buang amunisi di medan ini. Tanpa ada objek sasaran, ia membabi buta menggelontorkan timah panasnya ke sembarang arah.

Lisan adalah karunia terbesar Tuhan. Tanpa lisan seseorang menjadi bisu. Wahai, betapa nestapanya menjadi bisu! Maka ia harus kita jaga dengan sebaik-baiknya, karena lisan adalah senjata utama umat manusia. Gunakan ia secara profesional. Pakai seperlunya dan jangan di-mubazir-kan. Eman.

To Lisan adalah sebuah kata yang berarti bicara. Bahkan, berdasarkan penialaian pakar, To Lisan (Baca : Tulisan) memiliki nilai manfaat yang lebih besar dibanding suara lisan semata.

Saat sang empunya lisan meninggal, maka buah katanya akan ikut dikubur
Berbeda dengan tulisan. Saat penulis meninggal maka tulisannya akan kekal.

Menulis berarti bicara. Pun menulis juga butuh penjagaan yang ketat agar ia tepat guna dan memiliki kontribusi yang efektif buat kehidupan. Seseorang yang menulis tanpa tujuan yang jelas biasanya tulisannya mudah diremehkan.

Sebagai gambaran bahwa ia gampangan untuk mengomentari segala hal yang temeh, dan kalau menulis agak serius, tema yang diangkatpun tidak subtansial. Mengendap lalu menghilang seiring datangnya tulisan lain yang lebih subtanstif.

Cirinya juga ia kerap membuat status di jejaring sosial dengan ungkapan yang kita bahkan diwajibkan untuk tidak melihatnya, menakar kadar yang rendah dan betapa alay status yang dia unggah.

Ke depan, semoga kita arif menjaga lisan dan tulisan. Orang yang beruntung, di mata Allah, adalah segerombolan orang yang menjauhi perkara-perkara tak bermakna.

Walladzina Hum Anillaghwi Mu’ridhun.

Wallahu A’lam.

03 Juni 2016


Komentar

Google + Follower's