Pengenalan Kritik Hadis (Resume Kritik Hadis Pertemuan Pertama)


Musthafa A’zhami, dalam kitab Mahaj Naqd Indal Muhaddisin, pada bab pertama kitabnya yang menyoal soal pengenalan kritik hadis mengatakan :

Bahwa Sempurna syariat Allah dan kewajiban kita untuk beriman kepada Rasulullah. Juga Kewajiban kita menyebarkan sunnah nabawiyyah.

Urgensitas kritik hadis.

Perkembangan naqd. Naqd sudah ada zaman Nabi, dan itu hanya untuk memantapkan saja, karena nyatanya para sahabat tak ada yang berdusta kepada Nabi.

Hadis-hadis yang menunjukkan bahwa sahabat banyak yang bertanya langsung kepada Nabi soal sebuah hadis. Dan Nabi mengatakan, benar, benar, dan benar.

Sejarah naqd. Semenjak masa Nabi sudah ada, namun praktiknya masih dalam tataran yang sempir saja. Dan Abu Bakar sebagai sang proklomator. Beliaulah sang penggagas al-muqoronah baina riwayat

Menurut Ibnu Hibban, tokoh yang pertama kali mempersoalkan periwayat adalah Ali dan Umar.

Kemudian ada 10 tabiin yang tersohor dalam memberikan sumbangsihnya dalam hal ini, diantaranya adalah Said Bin Musayyab dan Urwah bin Zubair.

Dan Az-Zuhri, Hisyam bin Urwah

Di iraq ada Hasan Bashri, Sa’id bin Jubair, Thawus.

Ibnu Rajab menutukran bahwa awal yang menggagas kritik hadis adalah Ibnu Sirin

Seorang ahli hadis pada masa tabi’in pasti melakukan rihlah mencari hadis.

Orang-orang banyak mencari hadis kepada tokoh yang sudah terkenal. Contohnya adalah Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, Syu’bah bin Hajjaj, Hammad bin Salamah, Layts bin Sa;id, Hammad bin Zaid, Awza’i, dll.
Syu’bah adlah tokoh Iraq yang pertama menggagas krtik hadis.

Diantara tokoh yang mengetahui soal penyelamatan ahdis shahih dari ahdis cacat adlaah Abdullah bin Mubarok, Waki bin Jarroh.

Muhaddis Dan Naqd. Tatarannya adalah keadilan dan kedhabithan.

Abu Hatim Ar-Rozi adalah pionirnya.

Ada 3 golongan yang menyikapi kritik hadis :

1.      Kajian pentng yang mampu menyadarkan manusia dari yang salah menuju yang benar. Karena hal ini bisa dikethauo dengan ilmu ghabib

2.      Yang merasa itu adalah panggilan ilahi yang tidak usah membutuhkan bahasan ilmiah

3.      Bahwa kemmapuan mengkaji bukan sebuah ilham juga bukan hal yang butuh pembahasan ilmiah

Kajian hadis mengarah kepada dua objek,
1.      Keadilan periwayat


2.      Matan (yang dilirik dari tinjuan akal, yang akan terpenuhi dengan catatan sebagai berikut: ) pembawanya harus orang kredibel, apa yang disampaikan otentik, 

Komentar

Google + Follower's