Teori Hermeneutika : Teori Yang Mengguncang. Benarkah?



Pada mata kuliah Metode Pendekatan dalam Penafsiran (Hermeneutika) yang diampu oleh Dr. Abd Mu’id Nawawi, direktur pascasarana PTIQ bidang Pemikiran Islam, beliau mengatakan, bahwa,

“Dalam kajian hermeneutika semua hal wajib dicurigai sebagai bahwa pendapatnya bukan dari dia pribadi, melainkan ada sesuatu yang melatarbelakanginya. Dalam bahasa hermeneutikanya adalah self, sesuatu yang tidak berdiri sendiri, mudah runtuh. Di dunia ini tak ada yang subjek, berdiri dan murni muncul dari diri sendiri.

Tugas hermeneutika adalah mengejar motif dan motivasi yang menjadi landasan suatu pemikiran atau sebuah penafsiran muncul.

Ada 3 pelabuhan pusat tempat gagasan hermeneutika yang saat ini terkenal di dalam khazanah pemikiran hermeneutika ini merebak.

Pertama adalah Hermeneutika ala Marx yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, berupa penafsiran dan pendapat serta tindak kegiatan, pasti terikat oleh motivasi  ekonomi. Menurutnya, segala yang dilakukan manusia pasti dilandasi dengan faktor ekonomi, demi mendapatkan ini, karena ingin meraih itu, dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, bahwa ternyata kalian (mengarah ke audien, semester 7 PTIQ jurusan IQT) bisa hadir kuliah sekarang itu adalah bukan karena murni keinginan kalian sendiri (subjek), ikhlas lillahi ta’ala, pasti ada faktor ekonomi yang melatarinya.

Yang kalian pikirkan adalah jika kalian kuliah maka kalian bisa lulus, jika lulus maka kalian akan mendapatkan kerja, menerima gaji, jika mendapat gaji, maka anda bisa makan. Jadi kalian sebenarnya kuliah untuk bisa makan. Dan, semakin anda pintar kuliahnya, maka semakin ciamik posisi jabatan anda, maka otomatis porsi menu makan di meja makan di rumah anda akan semakin beragam, dan melalui uang tentu anda akan lebih bisa bertindak leluasa.

Atau paling tidak, kalian kuliah karena faktor peduli atas apa yang orangtua lakukan kepada kalian, mereka berpeluh mencari harta, menggerakkan roda ekonomi untuk penghidupa anda, maka sebagai timbal baliknya kalian harus kuliah yang rajin demi menyeimbangi derasnya keringat orangtua.

Ingat, sekali lagi, ada faktor ekonomi yang melatarbelakangi tingkah laku kalian.

Kedua adalah hermeneutika ala Sigmund Freud yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini didasari motivasi libido. Sekian juta manusia berkerja di dunia memiliki tujuan puncak, yakni mendistribusikan hasrat seksual yang ia miliki kepada tempat terbaik yang ia dambakan.

Sebuah contoh, kalian (lagi-lagi mengarah ke sekumpulan mahasiswa yang di sekelas isinya cowok) kuliah di sini tujuannya adalah ingin pintar, jika kalian pintar kalian akan lulus, setelah lulus, karena anda pintar, maka gaji kalian akan tinggi, dan itu berarti anda memiliki potensi memilih perempuan yang cantik untuk anda konsumsi. Maka semakin anda giat belajar, semakin anda leluasa menentukan tempat terbaik meluluskan gelegak libido anda.

Ada peran libido yang mengendalikan apa yang kalian lakukan. Ingat.

Ketiga adalah hermeneutika ala Niecthsze, pelantun bahwa Tuhan sudah mati. Ia mengatakan bahwa semua yang dilakukan manusia selalu dilatari dengan hasrat berkuasa. Contohnya adalah Aburizal Bakrie, ia begitu giat melakukan sesuatu karena ada hasrat berkuasa dalam dirinya, ia hendak merajai partainya. Lewat bisnisnya pun ia mencoba melancarkan nafsu berkuasanya tersebut. Karena dengan berkuasa, ia akan leluasa berbuat semaunya.

Demikian, selain penjabaran soal 3 pandangan tokoh besar terkait Hermeneutika, ditekankan pula bahwa kita ini adalah jenis self, rapuh, sesuatu yang tak mungkin mampu berdiri sendiri. Bias dari itu adalah bahwa kita wajib curiga atas apa diperbuat orang lain, perlu kita teliti lebih dalam, atas dasar apa ia berbuat demikian, karena apa ia berpendapat demikian.

Juga, Tidak ada ikhlas dalam kacamata hermeneutika.

Tidak hanya itu, melalui hermeneutika kita  digembleng untuk ber-statement “tidak usahlah kita saling menyalahkan”, karena sejatinya tak ada manusia yang bersikap objektif, pasti ada sesuatu yang melatarinya. Pasti ada kepentingan atas sesuatu yang tak bisa dijadikan alat untuk menjajah pihak lain. Kolonialisme atas klaim kebenaran harus dirajam.

Bertalian dengan kajian Hermeneutika, Ulumul Qur’an memunyai fungsi memagari subjektifitas mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an. Tafsir Maudhu’i, menurut pendapat sementara, dianggap mampu membatasi subjektifitas sang penafsir. Karena dengan diadakannya tema kajian, ia lebih semakin terikat.

Kendati demikian, mufassir tak boleh dikekang. Biarkan pikirannya bermain dan aturan-aturan dalam Ulumul Qur’an bertugas untuk menganalisasi pendapat sang penafsir agar tidak terlalu liar.

Merupakan Ciri-ciri liberal adalah bahwa ia semakin banyak mengguncang kemapanan paradigma yang selama ini telah berakar-berurat di sanubari masyarakat. Khususnya soal keagamaan.  

Ada beberapa contoh terkait hal-hal yang mengguncang. Ada teori Farag Frouda soal pemprofanan sakralitas adalah sahabah dan purnanya sistem khilafah, teaori Mun'im, dalam satu tulisannya soal pelegalan LGBT, dan lain sebagainya.

Kendati ia sanggup didebat kembali oleh pakar pemegang pendapat awal dan sang penentang mampu ditekuk lutut ringkihnya, ia tetap tidak efektif jika dikaitkan antara relevansi teori dengan lapangan, yakni masyarakat awam.

Hermeneutika menimbulkan efek realtivitas berantai, dan itu cukup mengguncang. Namun, dalam beberapa perkara, khususnya yang berkaitan dengan keagamaan, ada (atau lebih tepatnya harus diadakan) sesuatu yang dirancang untuk kedap guncangan. Wajib disepakati soal adanya wilayah yang tak tersentuh gempa.

Karena bagaimana mungkin sebuah keyakinan dibauri dengan kecurigaan?

Dari pendapat ini kiranya bisa disimpulkan bahwa hermeneutika, untuk sementara waktu, tidak terlalu atau bahkan berbahaya jika dipraktikkan di lapangan masyarakat awam. Kalau kemudian beliau pernah mengatakan bahwa Hermeneutika hanya untuk kebutuhan kerenitas semata, dan kita tetap bisa hidup tanpanya, maka saya setuju dalam hal ini.

Sebagai penutup beliau menyuguhi sebuah tips dalam membuat skripsi. Langkah yang harus diayunkan saat merampungkan skripsi bahwa kita harus banyak mengguncang tema pembahasan. Tak bisa kita berhusnudzon atas topik yang akan kita kaji. Semakin kita mengguncang, semakin gemar kita menggugat dan mendebat, maka akan semakin berkualitas hasil yang kita dapatkan.

PTIQ Jakarta, 20 September 2016 

Komentar

Google + Follower's