Gosip : Budaya Dekonstruktif


Gosip, dengan beragam perkembangannya, telah mencapai titik stigma terparah. Iza utliqo kalimat gosip, fahuwa yusyiru ila sayyi’ah. Berikut 4 dalil tentang keburukan gosip yang diambil dari beberapa refrensi. Perhatikan!

1.     Dalil Pertama

Seno Gumira Ajidarma dalam Tiada Ojek Di Paris (Obrolan Urban) mengatakan, “Kalau anda ingin terlihat sebagai orang terhormat, tentunya anda memperlihatkan diri sebagai manusia yang tak suka bergosip. Karena kata gosip (dari gossip) telah mendapat beban makna secara dominan sebagai membuang waktu, dan-yang berbau pelecehan gender-Cuma merupakan “perilaku perempuan”. Dalam kenyatannya, gosip di antara lelaki pun sama saja bukan? Bahkan tak jarang isi gosipnya (apalagi tentang perempuan) jauh lebih jahat dan mengerikan.

Benarkah gosip itu membuang waktu dan tidak bermutu?

Gosip diawali dengan terdapatnya rumor, yakni wacana tak resmi dan tak jelas sumbernya, sebagai hasil informasi yang belum diperiksa kebenarannya, yang telah berkembang sekian tahap dalam sistem komunikasi (Saunders, 1994:274)[1]

2.     Dalil Kedua

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna..” (QS:Al-Mu’minun : 3)

3.     Dalil Ketiga

إِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (QS:Al-Qosos : 55)

4.     Dalil Keempat

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS:Al-Furqon : 72)

Darus-Sunnah, 04 November 2016



[1] Seno Gumira Ajidarma, Tiada Ojek di Paris, (Bandung:Mizan, 2015) hal. 43

Komentar

Google + Follower's