La Tanam!

Ada beberapa alasan mengapa anda (wahai penulis) seringkali tertidur. Dalam sehari, anda mampu tidur dalam jangka yang mengagumkan. Waktu yang dibentangkan sepanjang hari sirna begitu saja tatkala anda lebih memiliki tidur sebagai opsi berlibur. Orang yang sukses tentu tak akan rela waktunya disita oleh aktivitas bernama tidur. Waktu, bagaimanapun juga, merupakan harta berharga yang dimiliki manusia yang jika raib tak akan bisa direngkuh kembali. Pertanyaannya kemudian, apakah yang menyebabkan manusia seringkali tertidur? Ngantuk seperti menjadi kawan karibnya dalam menapaki hari.
Demikian uraiannya,

Eng-ing-eng... (penulisnya mau tidur dulu....) fiuh... :) 

1.     Banyak Makan

Ajaran agama menuturkan bahwa “makanlah kamu sekadar untuk menegakkan tulang punggungmu”. Tidak lebih. Dan tentu, sebagaimana lazimnya kiat-kiat hidup yang ditawarkan oleh sebuah wahyu, ia merupakan triks yang jitu meraih idealisme dalam hidup.
Makan berlebih memang tidak diharamkan selama makanan tersebut ditempuh/didapat dengan cara yang halal. 

Namun, melakoni aktivitas keseharian seraya menggendong sampah yang berat di perut kita itu tentu merupakan sebuah kesukaran tersendiri buat kita.

Penggelembungan atas kadar tampungan yang diemban oleh lambung kita hanya membuat gerak kita menjadi lamban dan tidak progresif. Saking bahayanya, ia kerap melenakan kita agar merebahkan diri saja di atas kasur yang empuk. Mengajak serta membisiki kita agar istirahat sejenak memberi jatah tubuh memuaskan birahi hewaninya.

Maka jika demikian, perpaduan antara perut yang membengkak dan aduhainya kasur empuk dengan bantalnya hanya akan memotivasi kita membuang-buang waktu dengan tidur. Kita dibuai mimpi padahal masih banyak tugas yang harus kita lunasi.

Dalam hal ini, anjuran disunnatkannya amalan puasa terasa menjadi solusi bagi orang yang ditakhlukkan oleh ngantuk/tidur tidak pada porsi yang semestinya.

Minimalisir Makan Apalagi Makan Malam dan Berpuasalah!

2.     Jarang Olahraga

Meski saya tidak menguasai teori kedokteran, namun dalam praktiknya, berdasarkan banyak penuturan orang, ternyata olahraga memiliki banyak kegunaan bagi pelakunya. Termasuk salah satunya mengurangi ngantukitas dalam hidup kita.

Hal demikian, barangkali, dikarenakan dengan olahraga seluruh raga kita diberikan waktu untuk memaksimalkan perannya. Mengeluarkan keringat menurut banyak ahli adalah hal yang sehat buat tubuh. Dan olahraga adalah salah satu jalan untuk mendistribusikan keringat yang ada dalam diri kita untuk keluar dari pori menjumpai peraduannya. Menyatu dengan alam.

Barangkali ia seperti horman seksual seseorang. Yang jika tidak disikapi dengan pernikahan maka akan melahirkan penyelewengan-penyelewengan tak bermakna saja. Meronta dan memberontak, memberikan perlawanan yang agresif yang hanya bisa diatasi lewat panyaluran yang sah

3.     Banyak Bicara

Dalam hal ini saya ingin ber-cocokologi.

Pemberian Tuhan atas diri manusia berupa satu mulut untuk berbicara terkadang malah menjadi satu petaka sendiri bagi manusia. Lisan yang kita punya kerap digunakan untuk hal yang tidak subtantif dan mubadzir semata. Maka tak heran jika dalam sebuah hadis dituturkan siapa yang mampu menjaga apa yang terdapat di antara dua janggutnya maka ia akan dijamin masuk surga. Ketahuilah apa yang ada dia antara dua janggut itu adalah mulut.

Karena bicara membuutuhkan tenaga, maka banyak bicara tanpa menyelipkan makna sama saja melakukan pekerjaan dengan sia-sia. Lelah iya namun hasil tiada. Tidur kemudian menjadi pelampiasan terbindah bagi mereka yang sudah mengidap kelelahan.
Nah Loh!!

4.     Banyak Bercanda

Adagium bahwa “hidup sudah sulit maka tak usah lagi diperumit/dipersulit” tidak menyuruh bahwa hidup harus selalu dibarengi dengan canda. Ada kalanya kita harus serius, ada masanya kita harus rehat, melepaskan penat lewat gelegar tawa atau riuh canda untuk stabilitas hidup kita.

Tapi lagi-lagi, sesuatu yang berlebih selalu melahirkan kenihilan saja. Bersenda itu membutuhkan tenaga yang tidak sedikit, selain lewat perkataan, tak jarang ia menuntut gerak badan kita demi kepuasan bercanda tersebut. Maka takarlah porsi yang tepat dalam melakukan canda, dengan demikian hidup kita bisa lebih teratur dan alokasi daya pikir dan gerak kita bisa tiba di tempat yang bersahaja. Tepat guna. Nah, Itu!

5.     Kosong Aktivitas/Kewajiban

Tentu anda sering mendengar di tiv-tv bagaimana sebenarnya setan masuk pada tubuh seorang yang kesurupan salah satunya adalah lantaran korban tengah terbengong dan pikirannya tengah kosong, maka dari itu kemudian kita dianjurkan agar jangan sampai termangu dalam kebisuan tanpa arah pikiran yang jelas.Perbanyak zikir dan pikir kemudian menjadi solusi terbaik sebagai suplemen otak dan hati kita.

Sama pula halnya dengan nasib kesehariaan kita. 24 jam adalah bilangan yang cukup bagi kita untuk menentukan laju peradaban dunia atau menorehkan nama kita di buku sejarah.

Menurut satu qaul, Habibi pernah mengatakan bahwa antara dirinya dengan petani di pedesaan tidaklah beda soal ketersediaan waktu, sama-sama 24 jam. Yang membedakan adalah lantaran Habibi lebih kemaruk, beringas dan tangkas dalam menggunakan daya nalar, juga bijaknya ia menyikapi waktu ketimbang para petani di pedesaan.

Dalam satu pembicaraan dituturkan bahwa Habibi hanya memiliki jam tidur 4 jam pada setiap harinya! Bayangkaaaannn.....! Whaaaaw!

Demikian pula dengan Nabi Muhammad yang lewat 23 tahun masa dakwahnya beliau mampu menyulap ajarannya sebagai hal yang penentu dalam sejarah peradaban dunia,  ada Issac Newton yang mendefinisikan istirahat sebagai tenggat perpindahan antara satu aktivitas dengan aktivitas lain, Albert Eisntein, Syah Waliyullah, Bung Karno, Hasyim Asy’ari, Quraish Shihab, semua sama-sama dianugerahi 24 jam dalam seharinya.

Dan KITA juga tentunya! Perbedaan hanya pada seberapa santun, seberapa bijak, seberapa hormat, seberapa khidmat, seberapa menghargai, seberapa meresapi, seberapa menjiwai kita terhadap sang Waktu!

Tidak usah menunggu ada kewajiban dari atasan, atau dari perkuliahan, kalau memang masih ditemukan jeda waktu kosong dalam hidup kita. Garis sendiri target capaian-capaian yang bisa anda lakukan. Susun secara otodidak kerangka aktivitas anda yang kelak dengannya anda akan mereguk buah manis dari apa yang anda perjuangkan.

Memang melelahkan. Memang berdarah-darah. Memang menyimbahkan peluh. Pasti menjemukan. Tapi, kapan lagi kalau bukan sekarang! Mumpung badan masih bugar dan cetar! Mumpung masih ada batu tempat kitamengukir! Mumpung masih ada daya ledak, kejut, letup masa muda! Mumpung masih dijumpai beratus ke-mumpung-an yang lain?

“Jangan Lupa Sibuk!” Demikian pesan seorang bijak bestari suatu saat.

Wallahul Musta’an semoga menjadi cambuk dan renungan!


Kamar Kontemplasi, Senin 24 Oktober 2016. 16:15

Komentar

Google + Follower's