Menista Agama

"Menista Agama" menjadi trending topic di kisaran Oktober-November-Desember 2016 di jagad daring ataupun realita kehidupan Indonesia.

Pasalnya, seorang gubernur DKI, Basuki Tjahya Purnama, yang sekaligus mencalonkan sebagai kandidat PILKADA DKI 2017 nanti, mengatakan bahwa masyarakat Jakarta yang tidak setuju kepada dirinya sejatinya telah dibohongi pake al-Qur'an surat al-Maidah ayat 51.

Permasalahan ini semakin merebak mengingat isu PILKADA DKI 2017 coba dilibatkan.  Penistaan ini kemudian dicampuri dua unsur : penjelek2an agama & pelabcaran kampanye hitam (black campaign) dari pihak musuh.

Buah dari ini adalah permintaan rakyat Indonesia, bukan saja Jakarta, yang katanya sangat religius itu, agar memenjarakan Ahok atas kasus penistaan ini.

Pemerintah rupanya lamban merespon gejolak masyarakat dalam hal ini. Kasus tak diusut secara matang, masyarakat kembali meradang.

Pada 4 November 2016, dengan komando FPI, dihelatlah aksi Bela Islam yang melibatkan puluhan ribu umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia melakukan demonstrasi damai ke Istana Negara menjumpai Presiden RI menuntut agar Ahok dipenjarakan.

Pucuk dicinta Ulam gak tiba.

Pak Presiden, ketika banyak masyarakat berbondong2 menuju Istana meminta kejelasan, malah asyik ke Bandara untuk memeriksa keadaan di sana. Entah penasehat presiden yang mana yang menginstruksi beliau agar beranjak saja meninggalkan Istana, fenomena ini menyisakan rasa kecewa di hati masyarakatnya, mengapa Presiden tak hadir ketika rakyat membutuhkan penjelasannya.

Dampaknya adalah sedikit kerusuhan pada akhir demonstrasi damai hari itu. Hal itu kemudian dibantah oleh sejumlah ulama sebagai ulah penunggang2 kepentingan yang tak bertanggungjawab.

Tak puas akan respon pemerintah waktu itu, Umat Islam mengadakan Aksi Bela Islam jilid 2 keesokan harinya.

Melalui berbagai ajuan ke Bareksrim, perdebatan dua belah pihak di media, beserta tuntutan rakyat banyak, Ahok akhirnya dikenai status Tersangka atas kasus penistaan agama.

Lalu.

Entah lewat motivasi apa, mungkin menyaksikan Ahok, meski sudah dijatuhi status Tersangka namun belum dipenjarakan, Umat Islam, yang entah dalam hal ini dokomandoi pihak mana, kembali akan menggagas Aksi Bela Islam jilid 3 yang akan diselenggarakan 2 Desember nanti.

Kita perhatikan saja bagaimana selanjutnya nanti ~ ~ ~

Dalam menyikapi ini semua, kita perlu tafakur soal kata menista. Apa yang dilakukan oleh Ahok, terlepas dari berbagai agumen pro-kontra dari berbagai pihak, jika dilihat dari teks "dibohongi" yang digunakan oleh Ahok itu adalah satu jenis penistaan. Penistaan yang tekstual.

Maka kemudian, di sisi lain, di seberang pemahaman tekstual, ada diskursus penistaan dari segi subtansitf. Penistaan nilai2 keagamaan, yang dilakukan bukan hanya melalui perkataan, melainkan lewat sikap keseharian.

Penistaan ini menurut saya yang lebih berbahaya. Ia bukan saja menyoal kulit, tapi juga menyinggung isi dari ajaran yang ada. Dan, umumnya, masyarakat atau orang lain tak memahami adanya pneistaan ini.

Seseorang memahami ajaran ini, namun malah melanggarnya...
Seseorang paham bahwa berkata tidak baik adalah cela, tapi ia mengonsumsinya dengan lahap...

Dan lain sebagainya.

Hanya kepada Allah kita mengharap pencerahan-Nya....

PTIQ, 21 November 2016, 10:45

Komentar

Google + Follower's