Penyair Senja Mengulas Kopi


Seni kopi telah berkembang, hal itu bisa dilihat dari pilihan menu “kafe kopi” yang tentu bukan Cuma kopi tubruk. Mulai dari cofee latte sampai mocha latte, dari capucino sampai espresso, dari cofee noir sampai kopi luwak, semua itu menunjukkan terdapatnya the art of coffee-sebagai bagian juga dari science of coffee.

Adalah ilmu kopi yang mengembangkan snei kopi, setidaknya bagi saya, peegetahuan atas riwayat suatu kopi memberi nuansa tambahan kepada rasa kopi itu. Demikianlah the art dan the science melebur dalam the culture.

Namun dengan “budaya kopi”, saya tidak memaksudkannya sebagai duduk-duduk di kafe sambil ngopi, melainkan berkembangnya the science of coffe dari sekadar memproses dan mengolah kopi, menjadi perbincangan ilmiah atas kopi-bukan sebagai tanaman, tetapi sebagai kebudayaan.

Artinya “kopi” dari kata benda telah menjadi kata kerja, maksudnya bukan menjadi “ngopi”, melainkan segala pembermaknaan yang terhubungkan dengan kopi. Ambil contoh laporan The Jakarta post edisi 23 Februari 2015 lalu. Di bawah judul Coffe and its effect on culture,a popular topic on college campuses, Muray Evans dari Associated Press melaporkan berlangsungnya diskusi “The Cafe and Public Life” di Centre College, Dallas Kentucky, yang memperdebatkan kopi sebagai bagian dari (citra) kelas.

Tesis diskusi itu, kopi bukan sekadar minuman, karena konsumsinya telah mengubah masyarakat dari abad ke abad. Topik ini mungkin tampak aneh, tetapi justru menunjukkan eksistensi kopi, bahwa makna kehadirannya bisa dibongkar dalam perbincangan yang serius dan berbobot.

Betepapun, Coffee House sudah hadir semenjak abad ke-17 di Eropa. Tentu ini memancing studi dengan pendekatan pascakolonial. Apa yang hanya tampak sebagai tanaman, telah membentuk jalannya sejarah:bukankah Belanda menjajah 9dan memeras) penduduk Nusantara melulu karena rempah-rempah, tembakau, dan segala macamnya?

Kopi jelas menjadi bagian dari tersusunnya konstruksi sejarah:bahwa ada manusia yang memperbudak manusia lainnya supaya bisa menjual biji kopi dengan keuntungan yang berlimpah.

Dalam proses yang semula dianggap hanya merupakan sejarah perdagangan, sebetulnya tersusun sejarah kebudayaan. Tepatnya, faktor ekonomi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari studi kebudayaan, karena terbentuk dan terkembangkan oleh faktor ekonomi yang paling vital, yakni distribusi.

Jadi, kebudayaan itu bukan cuma “pameran lukisan”:ngopi itu juga kebudayaan, karena di sana bukan Cuma ada perkara selera, melainkan juga soal pilihan dan citra diri. Masalah repotnya orang bercitra diri ria dengan pilihan tempat ngopi mungkin bukan urusan kita, tetapi tetap saja menarik bahwa apapun yang terhubungkan dengan kehendak bisa dibaca secara ideologis.

Kopi tak lagi bermain di atas kompor, kopi telah merangsek ke ruang publik dan mendapat konteks intelektual. Bukankah kata cafe memang terhubungkan dengan coffee? Dalam Evans di atas, disebutkan bahwa Emory University di Atlanta, University of Washington, dan University of California telah menyelenggarakan berbagai mata kuliah dalam konteks itu, dengan para professor yang berlatar belakang dari kimia sampai antropologi dan sejarah.

Di Kafe, demokratisasi dan distribusi pengetahuan sedikit banyak lebih terjamin kemeratannya, mengingat campur aduknya pengunjung, dari yang akademis sampai non-akademis. Yang saya maksud tentu bukan diskusi sebagai gaya untuk mengangkat “derajat” kafe, melainkan bahwa secara nonformal hal itu sudah berlangsung tanpa label diskusi.

Tentu bukan maksud saya agar di kampus-kampus segera berlangsung diskusi tentang kopi, tetapi laporan tentang fenomena kopi dalam kajian ilmiah itu telah membangunkan saya dari “tidur-kritis” saya:menyadarkan betapa yang kecil-kecil juga sama pentingnya dengan yang (tampaknya saja) besar-besar, yang hanya luput karena suatu kebutaan teoretis (theoretical blindness) tentang mana yang penting dan tidak penting.[1]



[1] Seno gumira Ajidarma, Tiada Ojek di Paris, (Bandung:Mizan, 2015) hal. 69-71

Komentar

Google + Follower's