Ya Ahlal Qur'an!

Yang terpenting bagi seorang penghafal al-Qur’an adalah tenang dan khusyuk dalam segala keadaan. Ia sanggup bangun shalat malam saat kebanyakan orang tertidur, mampu khusyuk di siang ketika yang lain hiruk pikuk menyoal dunia, mampu diam ketika yang lain berbicara kesia-siaan, mampu bersedih tatkala manusia tenggelam dalam gelak yang menistakan.

Seorang yang benar memahami kandungan al-Qur’an ia tidak akan bersikap berlebihan. Di kala tetimpa musibah ia akan menakar diri, apa yang salah pada dirinya sehingga Allah berbuat demikian kepada-Nya, musibah malah akan membuat dirinya berpikir tentang kadar ketaatan ia pada Allah. Tidak membuatnya berduka-lara. Hanyut dalam kesedihan saja.

Juga di saat ia dianugerahi nikmat oleh Allah. Ia akan bersyukur, berhati-hati dalam mendistribusikan curahan karunia yang diberikan, ia akan bertindak seadil mungkin dalam menyikapi nikmat. Apa yang dikehendaki oleh Allah atas nikmat yang diberikan itu ia pertimbangkan matang-matang. Jangan sampai ia sia-siakan nikmat tersebut. Nikmat haruslah berdampak positif dengan mendatangkan ketaatan yang lebih kepada Sang Pemberi Nikmat. Bukan malah menjauhkan ia dengan Tuhan-Nya.

Menjadi penghafal al-Qur’an bagai berdiri di tebing yang memiliki dua tepi. Ada tepi yang mengantarkan kita kepada jurang kenikmatan dan tepi satunya menggiring kita menuju kehancuran. Mematri teks qur’an dalam memori kepala membuat kita memiliki potensi ke surga dan neraka. Hujjatun lana aw alayna.

Persoalan besarnya ada pada apakah kita mengamalkan apa yang kita hafal, mengokohkan dalam diri agar teks yang kita hafal tersebut berikut makna yang dikandungnya menjadi mercusuar segala laku kita, atau malah kita tega mengkhianatinya.

Menista al-Qur’an tidak mesti seragam dengan apa yang dilakukan oleh Ahok pada masa Pilkada 2017 terkait surat al-Ma’idah ayat 51, lebih jauh, para penghina subtantif al-Qur’an itu jauh harus lebih kita perhatikan. Ayat-ayat harus dihayati lalu diamalkan. bukan ditelantarkan! 


Komentar

Google + Follower's