MEMBACA PERADABAN

Manusia, dalam pepatah Arab disebutkan bahwa tidak ada anugerah teragung yang diberikan Tuhan kepadanya melebihi akal dan adab. ما وهب الله لامرئ هبة أشرف من عقله و ادابه.. Akal beserta nalar yang diberikan oleh Allah berfungsi sebagai filter sorot pandang manusia dalam kehidupan dunia. Melalui akal manusia mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Dengan akal pula manusia mampu mempelajari sejarah dan darinya bisa lebih arif Membaca Peradaban.

Pasca-Modern, demikian bisa kita sebut masa sekarang untuk sekadar melukiskan betapa gegap gempita perubahan-perubahan yang terjadi dewasa ini. Ditopang kecerdasan teknologi dan canggihnya temali teori, wajah modernitas kian teguh dan menguarkan aura kejumawaannya.

Dalam konteks ini, manusia yang bijak adalah manusia yang menjejak bumi. Manusia kontekstual. Ia harus lihai menyaksikan dan memahami watak peradaban dimana dia tinggal. Di masa yang sangat menguntungkan untuk perubahan positif namun berpotensi pula memperparah wacana negatif, kita dituntut untuk sigap merespon perubahan. Charles Darwin pernah berujar, “Bukan yang terkuat yang mampu perubahan, melainkan yang mampu adaptif merespon perubahan.” Bahkan ada sebuah buku self improvement berjudul “Berubah atau Punah.”

Mari, mulai sekarang kita berusaha menjadi lebih bijak menyambut gemuruh perubahan modernisasi ini. Harapan ke depan adalah, dengan arifnya teknologi dan canggihnya sirkulasi informasi, tercapai pula kemaslahatan maksimal cita-cita kebangsaan dan keberagamaan kita.
Selamat berkhidmat! Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti!



Komentar

Google + Follower's