Perbandingan Kritik Sejarah dengan Kritik Hadis

PENDAHULUAN

Anggapan bahwa istilah kritik hadis lahir dari luar islam adalah keliru. Karena dalam dunia hadis sudah dikenal jauh-jauh hari istilah kritik-mengkritik, hal ini sebagaimana dituturkan oleh Imam Ibnu Abu Hatim al-Rozi (W. 327 H). Kritik hadis adalah upaya untuk menyeleksi hadis sehingga dapat diketahui mana hadis yang shahih dan mana hadis yang tidak shahih. [1]

Kritik adalah sebuah teguran. Dan ia tidak melulu berkonotasi negatif. Kritik bahkan, pada beberapa konteks, ia bisa bermakna sebuah dorongan menuju kebaikan. Kritik bisa bermakna tanda cinta.

Ujian dari Allah yang ditimpakan kepada hamba-Nya adalah sebuah teguran. Kritik.Merupakan suatu yang sudah dimaklumi, kepada orang yang kita kasihi, jika ia tengah berjalan menuju marabahaya, tentu kita akan memperingatkannya. Bukan karena benci, tapi karena khawatir ia akan celaka.

Demikian dalam kajian hadis, bahasa kritik adalah membuktikan bahwa kita memerhatikan kajian sunnah Rasulullah Saw tersebut. Dikaji dan dipahami, dibersihkan dan dihilangkan segala penyelewengan yang masuk di dalamnya, untuk kemudian diimpelementasikan ke dalam tingkah keseharian. Dilangsungkan dalam aktivitas keberagamaan.

Masih pada tataran kajian yang sama, yakni melacak kredibilitas kualitas periwayatan sebuah berita, sejarah juga memiliki standar kritik dalam disiplin keilmuan-Nya.

Baik metode kritik dalam hadis maupun kritik dalam sejarah, keduanya menarik untuk kita kaji. Bagaimana bentuk keduanya? Bagaimana perbandingan keduanya? Mana yang lebih berkualitas? Bisakah dipadukan?

Pada makalah ini akan kami kupas sekelumit perbandingan antara kritik hadis dan kritik sejarah.


PEMBAHASAN

Berdasarkan pengamatan ahli, antara hadis dan sejarah, dalam ranah kritik, ditemukan satu rumpun kajian yang sama, yakni keduanya memusatkan kajian pada penentuan kualitas sumber berita periwayatan dari masa silam.[2]

Bentuk kerjanya adalah dengan melakukan pelacakan kualitas sang penyampai berita/narator, berikut keabsahan materi sejarah yang di bawa. Hal ini menjadi penting karena untuk mencari acuan pandangan, seorang tak bisa lepas dari warisan masa lalu, berupa peninggalan budi, etika, dan benda, yang menjadi patokan berkehidupan kita di masa kini.

Keduanya memiliki tujuan yang sama. Mencari keotentikan sumber pegangan sebuah landasan.

Tujuan mendalami perbandingan antara dua metode ini, kritik hadis dan sejarah adalah untuk mencari yang terbaik antara kedua metode, agar nanti bisa diberlakukan simbiosis mutualisme dalam ranah pemantapan teori penerimaan sebuah berita.

Apakah memungkinkan Hadis mengambil metode yang dipakai dalam sejarah terkait metode selektifikasi sebuah berita, atau malah sebaliknya.[3]

Kritk Menurut Sejarawan

Dalam kacamata sejarah, kritik sejarah bermakna mengulas unsur-unsur yang telah terjadi di masa lalu. Unsur-unsur itu dalam bentuk kongkritnya adalah jejak-jejak kehidupan masa silam. Tercakup di dalamnya segala hal peristiwa yang terjadi, dinamik dan romantisme yang terjadi di dalamnya. Jika semua unsur itu ada, maka sejarah dinilai utuh.

Jika tidak maka ada cacat di dalamnya. Maka dari itu, dalam kajian kritik sejarah ada sebuah ungkapan masyhur, “jika unsur-unsur masa lalu menghilang, maka lenyaplah sebuah sejarah.”[4]

Langkah-Langkah Sejarawan dalam Menghimpun Data

Dalam mengemas data-data sejarah, sejarawan setidaknya memiliki dua langkah sebagai berikut,pertama. peneliti mengumpulkan seluruh data-data sejarah yang dapat diperoleh. Kedua, setelah data berhasil dikumpulkan, peneliti mengadakan kritik, filter, dan pemurnian atas konten sejarah tersebut, demi membuktikan keabsahan dan otensitas sebuah sejarah.

Periode pertama dalam menyikapi data sejarah adalah memastikan keabsahannya.Mengulik dari berbagai perspektif kesejarahan soal objek yang tengah dikaji. Kemudian dilakukan penelitian ulang mengenai data terhimpun dari perspektif yang lain demi tercapainya keotentikan sebuah data yang mapan. [5]

Rangkaian Filterisasi Data Sejarah

Seorang ahli kesejarahan, Hasan Ustman, berkata mengenai tahap-tahap penyaringan sebuah data, “Usai data dikumpulkan, peneliti diharuskan memahami periodisasi penulisan. Karena semakin jauh waktu terjadinya peristiwa dengan penulisan sejarah maka akan semakin mengurang kualitas data. Karena ingatan tak bisa diandalkan. Ia berpotensi menghilangkan detil-detil khusus, meski ia memliki komitmen kejujuran yang kuat dan mudah mengingat masa lalu.”

Apa yang dikatakan Hasan Utsman merupakan sebuah gagasan yang patut direnungi dan diaplikasikan dalam penelitian di lapangan. Tradisi menghafal data menggunakan memori ingatan merupakan posisi rawan, menulis adalah sebuah solusi untuk mengabadikan ide dan gagasan.

Maka dari itu perlu diperhatikan dimana ia mencatat data tersebut. Apakah di tempat kejadian atau di tempat yang jauh, yang ia bawa catatan tersebut dalam ingatan. Dan itu jelas mempengaruhi kadar kualitas sebuah berita.

Walhasil, ketika praktik memastikan keotentikan zaman dan tempat dimana data sejarah usai ditulis dan dikumpulkan, maka peneliti baru mengadakan analisa.[6]

Dalam menganalisa, ada dua cara yang harus dilakukan bagi seorang peneliti,

  1. Naqd Batini Ijabi, menganalisa unsur sejarah dengan tujuan mendalami makna lafazh dan maksud dari penulis atas apa yang ia tulis
Pada konteks ini kita diperintah untuk mengkaji sejarah dari segi linguistik. Kajian kebahasaan yang lebih memeirntah pada penelisikan teks materi sejarah.

Unsur-unsur yang dikaji dalam Naqd al-Bathini al-Ijabi meliputi :

  1. Perubahan bahasa pada seiring berbedanya masa.
Perlunya dipahami dengan zaman penulis. Bahasa mempresentasikan budaya, demikian ungkap tokoh. Dari sana maka penting kiranya memahami bahasa tempat sebuah data direkam, karena ia akan menggambarkan sosio-kultural sebuah berita.
  1. Perubahan makna bahasa seiring berbedanya dialek.
Demikian karena pada setiap daerah memiliki kekhususan pelafalan bahasa (dialek). Hal ini menjadi penting mengingat kesalahan mengkontekskan dialek akan berimbas pada penyimpangan makna yang diusung.

  1. Perbedaan uslub bahasa yang digunakan seiring berbedanya penulis.
Menulis adalah aktivitas penyampaian gagasan. Dalam gaya penyampaian itu, terdapat subjektivitas yang berkelit-berkelindan. Seorang penulis bergenre perlawanan berbeda citarasanya dengan penulis berjiwa diplomat. Maka perlu diadakan pemeriksaan lebih dalam mengenai makna data sejarah tersebut.

  1. Diperlukannya penafsiran lanjutan atas konteks umum pembicaraan penulis mengenai sejarah.
Dalam penganalisaan data tak boleh ada kata-kata yang masing menggantung. Menyoal data sejarah adalah menyoal kepastian berita, penetapan tanggal dan pelaku sejarah tak boleh keliru.

Kajian akan dianggap menuai hasil yang komprehensif jika makna yang dikandung dalam teks sudah tersingkap dengan jelas.[7]

Langkah berikutnya adalah yang kedua, Naqd al-Bathini as-Salby.

Naqd al-Bathini as-Salby adalah praktik inti untuk menyingkap hakikat data sejarah dan menjauhkan kepalsuan darinya semaksimal mungkin.
Menurut Syaril Lanjelo, intelektual ternama, tujuan dilakukan langkah ini adalah agar tercapainya dua hal :

  1. Pemastian kejujuran dan keadilan pengarang/penulis
Otentik tidaknya sebuah berita banyak bergantung pada keotentikan sang pembawa/penyampai berita. Hal ini dikarenakan sebuah berita mampu dan berkesempatan dibaca oleh pembaca yang notaben-nya mereka berdiam beberapa generasi setelahnya.

Maka pendalaman atas sang penyampai berita amat signifikan demi keselamatan data berita.

  1. Pemastian kejujuran pengetahuan dan totalitas esensi yang terkandung di dalam karya tersebut.
Selain mengulas narator, objek yang dibawa juga penting untuk diteliti lebih saksama. Hal ini mungkin, dalam praktik pengkroscek keabsahannya, bisa disandingkan dengan keakuratan data-data lain yang menyinggung tema yang sama.[8]

Pemastian Kejujuran dan Keadilan Penulis/Pengarang

Untuk tujuan ini, Syaril Lanjelo menuliskan beberapa hal yang harus diperhatikan oleh sang penulis sejarah
  1. Penulis sejarah dilegalkan berbohong karena satu sebab.Maka dari itu perlu ditegaskan beberapa hal :
a)     Apa tujuan penulis dalam mengkodifikasi data sejarah.
Tujuan adalah kepentingan. Atas dasar kepentingan apa sejarawan mengumpulkan sejarah. Bertentangankah antara tujuan luhur sejarawan  dengan kepentingan profan. Hal ini perlu dtegaskan mengingat sejarah kerapkali dilumuri dengan distorsi pihak-pihak tertentu.

b)     Dari parsialitas tema, tujuan apa yang kira-kira hendak diangkat
Besarnya tema pembahasan hanya membuat hasil menggantung. Dari skala besar sebuah tujuan, butuh pengkhususan demi sebuah keterangan hasil pengolahan data.

c)     Apa keuntungan buat pribadi penulis
Jangan sampai tendensi individualis merangsek menuju tujuan ditulisnya sejarah. Hal ini tentu akan mengotori keluruhan sebuah berita mengenai peristiwa masa lalu. Ketika ini dilegalkan, maka sejarah tak lagi patut untuk dilirik dijadikan panutan, dan tak elok pula untuk terus kita perbincangkan.[9]

  1. Perlunya mengetahui apakah penulis melakukan pendustaan, dan adakah hal-hal memberatkan di atas kemampuannya yang kemudian menyebabkan dia untuk melakukan demikian?
  2. Potensi adanya kecenderungan penulis atas suatu golongan tertentu.  Apakah lantaran demikian penulis menyajikan data palsu demi mendukung golongannya?
  3. Apakah sikap kebohonganya mempengaruhi penulisan fakta dan menyandarkan sesuatu untuk kepentingan pribadi?
  4. Apakah ia terpengaruhi oleh maksud pemerintah saat itu?
  5. Apakah ia menulis dengan uslub yang disetujui pemerintah dengan mengesampingkan uslub hakiki dalam penulisan sejarah, meninggalkan sebagian dan mengambil sebagian lain di tempat lain.[10]
Seandainya semua pertanyaan sudah terang, maka sejarawan bisa memastikan soal kejujuran dan keadilan penulis sejarah, atau sebaliknya.
Kemudian, dalam memetakan pembahasan mengenai kepastian kejujuran materi sejarah, menurut Syaril Lanjelo, ada dua hal yang dibahas :

  1. Bagaimana seorang peneliti memanfaatkan kondisi fisik dan akalnya yang sehat dalam mengkaji data, yang dengan demikian ia dapat memberikan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan
  2. Apakah seorang peneliti memenuhi syarat penelitian dan kecakapan nalar sehingga dapat menyajikan hasil olah lapangan yang bagus.[11]
Ini semua adalah keseluruhan apa yang bisa dilakukan seorang sejarawan dalam mengumpulkan data dan mengkritisi penulisnya demi memastikan keotentikan penulis dan materi yang didapat.

Keseluruhan asas tersebut, jika diringkas menjadi seperti ini :
  1. Mengumpulkan segala data yang bisa ia dapat
  2. Memastikan otensitas data
  3. Analisa data dan praktik naqd al-batini al-ijabi untuk memastikan keabsahan makna dari lafadz dan tujuan yang dimaksudkan oleh penulis
  4. Naqd al-bathini as-Salbi terdiri dari dua komponen : memastikan kejujuran dan keadilan pencatat sejarah serta memastikan kebenaran data yang disampaikannya.[12]

Komparasi Dua Metode

1.   Mengumpulkan data secara keseluruhan.[13]
Keduanya memiliki kesamaan metode. Mengumpulkan data secara komprehensif membuat hasil kajian atas data-data yang terhimpun lebih matang. Lebih menemukan perbandingan dan nilai yang disimpulkan.

2.     Antara Hadis dan Sejarah keduanya sama-sama menuntut keabsahan dan keotentikan sebuah nash.[14]
Meski demikian, syarat-syarat yang diajukan dalam kritik hadis jauh lebih kuat dan lebih lengkap dari sekadar kritik sejarah.

Dalam penelitian, keduanya sama-sama mengulas seputar jenis kertas dan tulisan yang terdapat dalam sebuah teks. Anggapan awal bahwa hadis alpa dalam hal ini terbantahkan. Lebih jauh, bahkan hadis lebih unggul dalam hal ini.

3. Analisa nash agar ditemukan maksud lafazh dan pengarang.[15]
Muhaddis dalam hal ini banyak memainkan penelitian2 parsial, terperinci, hal ini tidak terjadi di kalangan sejarawan.

4. Melakukan    kritik dari sisi negatif pembawa berita demi tercapainya kredibilitas periwayat.[16]
Dalam hal ini, sekali lagi hadis lebih unggul, karena syarat diterimanya periwayatan, seorang perawi haruslah bersih dari segala keburukan.

Perbedaan Antara Keduanya

Pondasi tataran keilmuan dunia hadis dibangun dari kejujuran, kredibilitas, keberagamaan, akal, kesadaran, dan kematangan.
Berbeda halnya dengan standar baku yang dibangun dalam disiplin ilmu sejarah. Dimana seorang dianggap aman manakala ia membawa berita yang benar dalam penyampaian sejarah, meskipun dalam hal lain ia kerap melakukan kebohongan

Hal ini yang menarik untuk kita pertegas kajiannya. Dalam ranah sejarah, kebohongan yang bersifat individual yang dilakukan dalam keseharian tidaklah menjadi penghalang bagi keotentikan periwayatan berita ketika berita yang dibawa dianggap telah otentik.

Jika kaidah ini yang tetap dipertahankan, maka akan terjadi kerancuan periwayatan nantinya. Seorang yang dibiarkan leluasa berbohong dalam kesehariannya, dalam artian tak ada undang-undang yang memberlakukan persangsian atas kebohongan yang ia lakukan, maka dikhawatirkan akan keterusan dan kebablasan dipakai saat melakukan periwayatan.

Hal ini tentu berbeda dengan kaidah yang ditetapkan dalam metode kritik hadis. Jika ia ketahuan dalam kesehariannya pernah melakukan kebohongan, maka dalam periwayatannya pun kekeredibelannya dipertanyakan. Hal ini karena satu, dalam kajian hadis, materi yang dibawa adalah hal yang sakral dan tidak bisa dilakkan intervensi.

Seandainya dalam kajian sejarah juga melakukan demikian, maka sebuah berita sejarah akan terawat orisnilitasnya tanpa campur tangan orang-orang yang berkepentingan.
Sehingga hal demikian jelas akan mengurangi kualitas periwayatan.

Keunggulan Metode Kritik Hadis

Sehingga, dalam hal ini, metode yang dikemukakan oleh hadis lebih unggul ketimbang sejarah.  Hal demikian karena dalam kritik hadis ditemukan keketatan yang tidak ditemukan dalam krtik sejarah. Jadi kritik sejarah, belum, bahkan tidak akan, mampu menyaingi kualitas kritik hadis.[17]

Sebagai jawaban dari pertanyaan di pendahuluan, berdasarkan hasil pemeparan di atas, maka metode yang dipakai oleh hadis bisa menjadi penyempurna dalam kajian kritik sejarah.




[1]Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis, (Jakarta:Pustaka Firdaus, 2011), hal. xiv
[2]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 91
[3] Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 91
[4]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 91
[5]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 92
[6]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 93
[7]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 93-94
[8]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 94
[9]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 94
[10]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 95
[11]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 95
[12]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 95-96
[13]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 96
[14]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 97
[15]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 100
[16]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 100
[17]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 102

Komentar

Google + Follower's