Sekelumit Kisah Nabi Muhammad Saw oleh Paatje Agus Salim (8 Oktober 1884- 4 November 1954)



“Ia ada setiap kali dibutuhkan: di Volksraad, ketika sejumlah pribumi merasa sudah menjadi Belanda; di tangsi Pembela Tanah Air, yang kesulitan menerjemah istilah militer dalam Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia; di Badan Persiapan Kemerdekaan RI, saat kubu nasionalis dan kubu Islam nyaris mustahil bersepakat tentang dasar-dasar negara; dalam perundingan dengan Belanda di Linggarjati, lalu di atas geladak Renville; dalam hampir setiap masa genting negeri ini, sejak masih berupa embrio hingga pertengahan 1950-an. Indonesia beruntung punya...AGUS SALIM.[1]
***
Di bulan yang sama ketika tulisan ini diturunkan, Agus Salim, Pahlawan Kemerdekaan RI, genap 62 tahun sudah menghadap sang Pencipta. Sepak terjangnya dalam membidani kelahiran Republik ini sudah banyak diangkat oleh banyak peneliti yang berkecimpung di bidangnya. Kesimpulan besarnya adalah bahwa Agus Salim adalah orang Indonseia yang begitu istimewa. Yang tentu, tak pantas untuk dilupakan!

Prof. Dr. Ali Mustafa mengatakan, “Sebuah tulisan akan kekal sepanjang masa walaupun penulisnya terkubur di bawah tanah.” Demikian Agus Salim, lewat karya-karya yang diwariskannya, kita berusaha membaca lebih dalam kehidupan beliau. Memahami untuk meneladaninya.

Di antara 22buku yang dilahirkanAgus Salim serta 12 buku yang diterjemahkan, salah satu buku yang cukup tenar adalah buku berjudul Pesan-Pesan Islam terbitan Mizan. Buku ini adalah hasil kompilasiyang digagas oleh Dyon Soenharjo, cucu beliau, terkait materi beliau selama mengajar di Concell University, Amerika Serikat.

Kali ini kita akan menyinggung sekilas tentangKelahiran Muhammad & Perjalanan Dagang Ke Suriah pada buku Pesan-Pesan Islam karya Agus Salim tersebut.[2]

Ada dua pendapat mengenai kelahiran Nabi Muhammad Saw, ada yang mengatakan bulan 29 Agustus 570 M (Ramadhan, 50 hari pasca peristiwa Abrahah) ada juga yang mengatakan April 570 M (Rabi’ul Awwal).Pendapat kedua mengacu pada keserasian tanggal wafat Nabi pada 12 Rabiul Awal, juga berdasarkan kalkulasi hitung mundur usia Nabi. Keduanya terjadi pada tahun Gajah, bertepatan dengan tahun ke-40 pemerintahan Khosyrus Annusyirwan. Belum ada yang pasti benar antara keduanya.

Ada dua hadis yang mengatakan Nabi lahir pada tahun Gajah.

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضي الله عنهما - قَالَ: " وُلِدَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - عَامَ الْفِيلِ[3]
عن قَيْسِ بْنِ مَخْرَمَةَقَالَ: «وُلِدْتُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيلِ[4]

Selazimnya adat Arab, Nabi dibawa ke pedalaman untuk disusui. Keaslian dan kemurnian bahasa pedalaman adalah pertimbangan utama Nabi dibawa ke pedusunan, tujuannya agar Nabi memiliki tutur yang indah di kemudian hari. Halimah as-Sa’diyah dari Bani Sa’ad adalah nama perempuan beruntung yang berkesempatan melakkan tugas mulia itu. Tentu, dengan kisah perjumpaannya dengan Muhammad yang cukup menarik.

Muhammad tetap berada pada pengasuhan Halimah hingga beberapa tahun. Sampai pada tahun ke-4, Muhammad dibelah dadanya oleh Jibril untuk dibersihkan. Didasari kekhawatiran yang sangat bahwa Muhammad telah dirasuki Iblis, oleh Halimah Muhammad dikembalikan ke Aminah.

Disebutkan pula periwayatan saat Nabi dilahirkan memancarkan cahaya, dalam cahaya itu bisa dilihat benteng Basra dekat Damaskus. Serta riwayat mengurai peristiwa dibelahnya dada Nabi Saw.[5] Agus Salim juga menukil hadis bahwa seluruh utusan Allah pernah menjadi penggembala Kambing.[6]

Ibunya meninggal saat Muhammad berumur 6 tahun ketika tengah dalam perjalananpulang menuju kampung halaman. Ibunya wafat di Abwa. Setelah itu ia diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Tatkala kakeknya menutup nafas, Muhammad tengah berumur 8 tahun. Kemudian ia diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Kisah Kematian Abdul Muthallib dan tradisi meratapi calon mayat dibareng pujian-pujian. Hal ini selaras dengan tradisi Minang. Hingga lahir aliran kesenian tersendiri. Namun, pasca Perang Padri 1841, bersamaan dengan nyanyian-nyanyian ibadah lain, tradisi ratapan itu sirna oleh gelombang gerakan paham pembasmi bid’ah.

Belakangan, pasca berdirinya republik, harapan pelestarian itu muncul lagi.

Kisah perjumpannya dengan Bahira di perjalanan menuju Basra, Suriah. Mukjizat yang sudah tampak, juga sanggahan Muhammad atas sumpah demi Latta dan Uzza yang dilontarkan rahib,menguatkan tanda kenabian Muhammad Saw.Demikian pula peringatan agar menjauhi Yahudi oleh sang rahib.

Soal kenabian Muhammad, kata Salim, telah diramalkan dalam Injil, namun penyiarannya dianggap kontroversial oleh Voice Of America.

Pada Perdagangannya Ke Suriah Nabi menjelaskan kisahnya yang bermain dalam keadaan tanpa cawat, lantas datang suatu bisikan yang menyuruh Nabi untuk mengenakan kembali pakaiannya. Nabi pun memakainya. Persoalan ini memiliki hikmah bahwa Islam mengajarkan budi luhur. Islam menjunjung kehormatan diri.

Pada perang Fijar, meski belum baligh, ia diizinkan untuk berperang. Bertugas sebagai penjaga kesediaan anak panah.

Persinggungannya dengan Khadijah binti Khuwailid, dari mitra kerja menjadi mitra berkawan sepanjang hidup, merupakan satu hal yang romantis.Demi menghindari anggapan umum kaum Arab saat itu, Khadijah-lah yang kemudian melamar Nabi.Keduanya hidup langgeng selama 27 tahun. Melahirkan 2 putra : al-Qosim dan Abdullah, dan 4 putri : Zainab, Ruqoya, Umi Kaltsum, dan Fatimah.

Pernyataan seorang rahib bernama Jurjis bahwa Muhammad adalah Nabi merupakan penegasan bahwa bangsa Nasrani dan Yahudi tengah menanti kedatangan Nabi. Menunggu kedatangan al-Masih. Hal itu juga yang terjadi di daerah kelahiran Agus Salim. Menunggu tibanya Ratu Adil, dan ternyata orangnya adalah Tjokroaminoto, sahabatnya.

Terahkhir adalah ketika Nabi berusia 35 tahun, soal perselisihan mengenai siapa yang pantas untuk meletakkan hajar aswad ke ka’bah. Dengan cerdas, beliau menyiasatinya dengan pembawaan batu menggunakan kain dengan empat sisi, yang kemudian tiap sisinya dipegang oleh orang-orang yang bertikai tersebut. Demikian pula dengan pemasangan batu tersebut, di pegang tiap tepi dan dilesakkan ke tempat yang dimaksud secara bersamaan. Hal ini mengisyaratkan kebijakan Nabi Muhammad Saw dalam memutuskan sebuah perkara.

Demikian sekilas paparan mengenai kelahiran Rasulullah Saw dan kisah perdagangannya ke Suriah ala Paatje Agus Salim, sang poliglot yang rela hidup sederhana, jauh dari kaya, lantaran rajin mengkritisi kolonial Belanda. Meski demikian, beliau tidak lupa bahagia.

AGUS SALIM DAN KAJIAN HADIS

Mengulas pertalian beliau dengan kajian hadis Nabi Saw, hal ini yang menjadi salah satu topik penting untuk dipanggungkan. Dalam seri buku Tempo yang mengulas Edisi Bapak Bangsa, tepatnya pada buku berjudul Agus Salim : Diplomat Jenaka Penopang Republik, disebutkan di sana bahwa “Agus Salim pernah kehilangan iman dan susah payah merebutnya kembali hingga menemukan Islam untuk Indonesia: Islam yang tidak terikat adat kebiasaan, tapi dapat menggerakkan bangsa untuk menentukan nasib sendiri.”[7]

Hal ini terjadi karena sistem pendidikan kolonial yang, menurut beliau, amat mendiksriminasi masyarakat pribumi dan berpotensi membuat siswa Hindia Timur semakin menjauhi Islam.Bahkan, dalam satu kesempatan beliau pernah berkata kepada istrinya, Zainatun Nahar, agar ia banyak membaca memperkaya wawasan agar kelak mampu menjadi guru yang hebat bagi anak-anaknya.

Kata-katanya bukan tong kosong, terbukti kemudian, keseluruh anaknya yang berjumlah 8 orang hanya 1 saja yang mencicipi pendidikan formal. Ia adalah anak terakhir Agus Salim bernama Mansur Abdur Rachman Ciddiq yang mencecap pendidikan formal. Itu pun terjadi pada masa kolonial Belanda sudah raib dari bumi Indonesia. Meski tak mencicpi pendidikan formal, soal kualitas kecerdasan dan kematangan hasil didikan rumahan ini, ketujuh saudara Mansur tidak bisa diremehkan.

Kembali kepada bahasan awal, bahwa Agus Salim pernah digiring menjauh dari imannya lantaran sistem pendidikan Belanda yang ia cecap itu adalah benar. Namun, agaknya beliau perlu berterima kasih kepada Snouck Hurgronje, orientalis yang memiliki misi besar menjauhkan siswa Hindia Timur dari Islam, yang juga guru kesayangan Agus Salim inilah yang ternyata berjasa mengantarkan beliau ‘merengkuh’ kembali imannya yang sempat tercecer.

Melalui usul Snouck Hurgronje kepada pemerintah Belanda ia resmi didaulat sebagai amtenar (pegawai pemerintah) di Konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi, pada 1906-1911. Sambil menyelam minum air, di Jeddah ia beguru kepada banyak ulama, mendalami Islam. Salah satunya adalah paman beliau sendiri yang merupakan ulama terkenal Indonesia yang juga imam mazhab syafi’i di Masjidil Haram, Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1852-1915)

Pada kesempatan itu, pembelajarannya tentang Islam digalakkan. Berbekal sikap kritis dan kesenangannya berdiskusi, ia memeras banyak ilmu dari ulama terkemuka tersebut. Salah satunya adalah bidang pengetahuan hadis. Hal ini yang merubah pandangan hidupnya kehidupan.

Jika kemudian pada usia senja beliau dikenal sebagai pengampu mata kuliah Islam Rasional di Concell University, sejauh terkaan saya, itu adalah kepiawaian beliau menggabung kekayaan materi ketimuran yang beliau dapat di Arab Saudi yang kemudian dipadu dengan kecanggihan teori barat yang didapat semasa belajar di sekolah Belanda.

Mengenai kesan beliau mengajar di Amerika, beliau amat bangga karena Amerika merupakan corong dakwah yang jitu, yang mampu menjadikan pesan-pesan ke-Islaman lebih mendunia. Lewat ke-adigdaya-annya, Amerika berpotensi mendulang keberhasilan melayangkan pengetahuan keislaman yang lebih dibanding negara lain.

Meski seperguruan dengan pendiri organisasi Muhammadiyyah, KH. Ahmad Dahlan, dan pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari, Agus Salim memiliki haluan pemikiran yang berbeda. Sebagai contoh tatkala mereka merespon pemikiran Abduh yang berkembang saat itu. Ketiganya memilki sikap yang beragam.

Dalam satu laporan Tempo, diwartakan, “Haji Agus Salim meminta Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari mendidik santri agar tidak mendewakan guru. Lebih suka berdiskusi ketimbang menggurui.”

Ciputat, 26 November 2016





[1]Tim Tempo, Agus Salim:Diplomat Jenaka Penopang Republik, Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2016, hal. 159
[2]Pesan-Pesan Islam, hal 43-66
[3] Suhaib Abdul Jabbar, al-Jami’ As-Shohih Lis-Sunan Wal Masanid, jil. 14, hal. 212
[4] Al-Hakim, Mustadrok ala Shahihain, jil. 2, hal. 659. Hakim : Hadis ini diriwayatkan dengan syarat Muslim
[5] Suhaib Abdul Jabbar, al-Jami’ as-Shahih Lis-Sunan Wal Masanid,jil. 1, hal. 436. Bab Dalalil Nubuwwah SAW qoblal bi’tsah.
[6]Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, hadis no. 2262
[7] Bunyi cover belakang buku

Komentar

Google + Follower's