Menekuri Makna Ghazwul Fikr dan Realitas Kehidupan Kita

Ghazwul Fikr (invation of ideas) atau yang bermakna perang pemikiran adalah suatu hal yang lazim terjadi dalam kehidupan manusia. Usia Ghazwul Fikr sama tuanya dengan umur manusia. Yakni, semenjak mnausia tercipta dengan perbekalan akal yang tertanam dalam dirinya, maka sejka itulah perang pemikiran meniscaya dalam kehidupan manusia. Pertarungan akan selalu tercipta.

Dimulai dengan kisah Iblis yang berhasil mempengaruhi manusia, maka semenjak itu ghazwul fikr ada. Dan demikianlah, dalam kehidupan kita, melalui interaksi kita dengan banyak golongan beserta pemikiran, dengan banyak buku beserta ide-ide yang diusungnya, maka saat itulah interaksi bernuansa pertukaran ideologi dan karakter budaya terbentuk.

Manusia yang banyak membekali dirinya dengan banyak mmebaca dan belajar akan teguh identitas dirinya, saat bertemu dengan pihak lain (al-akhor) ia tidak sedang berada dalam keadaan kosong, melainkan sudah mempunyai bekal, ia tidak akan menelan mentah-mentah informasi yang didapat melainkan dibandingkanya dengan perbendaharaan intelektual yang dia punya. Berbeda dengan mereka yang minim karakter, identitasnya tidak kokoh, maka layaknya gelas kosong, ia akan terisi dengan sesuatu yang datang dari luar. Dirinya bukan mewarnai, melainkan diwarnai.

Ghazwul fikr pada akhirnya akan berujung pada pembentukan karakter pribadi. Lewat ghazwul fikr yang secara sadar atau tidak akan terus berlangsung, maka kita bisa menjadi pribadi yang malas atau bahkan menjadi insan yang penuh progresifitas.

Dalam keseharian yang kita jalani misalnya, saat kita membiasakan diri untuk malas membaca, malas beribadah, malas menulis, bahkan malas berkomunikasi dengan orang yang lebih pintar dari kita, maka sejatinya kita sedang dalam posisi terjajah, terwarnai, terpengaruhi oleh sekumpulan persekongkolan jahat yang hendak meruntuhkan integritas kita.

Sebaliknya, saat kita membiasakan diri untuk rajin membaca dan menulis, rajin mengaji dan mengkaji, rajin bertukar pikiran dan berdiskusi, rajin berkomunikasi dengan sosok yang pakar dan ahli, maka buah yang akan kita petik adalah anda akan menjadi manusia progresifitas. Yang dibutuhkan oleh kemajuan zaman dan peradaban.

Maka, berada dimanakah kita sekarang?

Komentar

Google + Follower's