Subtansi Vs Simbol


Dalam era yang serba kilat, manusia dituntut untuk bergerak dan menilai sesuatu secara kilat. Apalagi ditopang dengan kecanggihan teknologi, ketika peristiwa di ujung dunia terjadi dan dalam sekejap manusia belahan dunia lain sudah mengetahui ihwal kejadian tersebut, kearifan menakar permasalahan menjadi urgensitas tersendiri bagi manusia zaman now.

Berangkat dari hal tersebut kita perlu berintropeksi, menanyakan dalam hati, apakah bijak menilai sesuatu dari kulit luarnya saja, atau mengkaji maksud dan pola yang menyebabkan semua itu terjadi.
Dalam hal ini pertanyaan bisa kita kerucutkan, apakah kita harus mementingkan bangunan atau sistem yang dipakai di dalamnya.

Sebagai contoh adalah sebuah institusi pendidikan bernama pesantren. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa awal berdiri sebuah pondok besar bukan diawali dengan bangunan yang megah, melainkan lewat semangat menimba ilmu para murid dan tingginya dedikasi sang guru dalam  mengabadikan hidupnya demi pengetahuan.

Diawali dengan pengajian di surau kecil, yang hanya ada seorang guru dan beberapa murid, maka karena konsisten dan terarah langkahnya, lambat laun semakin banyak dan semakin berkualitas murid didik yang ada di sana. Dikarenakan lokasi yang semakin tidak muat, maka bangunan pondok semakin megah dengan cara yang susah ditebak alurnya.

Demikianlah. Maka, beberapa pondok, meski tidak semuanya, ada yang tergesa2 membuat bangunan yang megah, namun sistem yang digunakannya tidak ciamik, maka santri yang datangpun kian sedikit, hingga pada akhirnya akan sirna dengan sendirinya.

Pentingnya Menanam Karakter Unggul

Manusia memang dituntut untuk bersikap luhur baik dalam penampilan lahir dan batin, namun dalam banyak hal masalah batinlah yang paling banyak disorot.

Kita bisa bahasakan perihal batin ini sebagai karakter atau akhlak. Manusia yang tak berkarakter akan dipandang sebagai cela di mata masyarakat.

Sebuah ungkapan bijak mengatakan :

ليس الجمال بأثواب تزيننا، إن الجمال جمال العلم والأدب....

Bukanlah keangggunan itu terletak pada pakaian yang menghiasi kita, melainkan ada ada pekerti dan adab yang kita miliki.

Lebih dari itu, Baginda Rasulullah Saw pernah bertukas,

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق.

Sesungguhnya aku diutus (ke muka bumi ini) untuk mewujudkan manusia2 berakhlak (baca:berkarakter). 

Kedua ungkapan di atas jangan dimaknai sebagai ajaran yang memerintahkan kita untuk bersolek dalam hal batin saja, kemudian tidak memedulikan penampilan luar (jenis pakaian dan mode2 lainnya). Bukan. Hal ini hanya sebagai penegasan bahwa penampilan luar yang baik tanpa diimbangi dengan akhlak yang mulia hanyalah laksana bangunan yang tak berpondasi. Kurang maksimal kualitasnya.

Islam Subtansial dan Islam Simbolis

Dalam banyak tayangan baik di televisi maupun media sosial kerap kita dapati bahwa ber-Islam hanya urusan simbol saja. Lahiriah semata.

Hijrah, sebagaimana dimaknai oleh Nabi sebagai proses berpindahnya manusia dari tingkah laku buruk menjadi baik, sering disalahartikan dengan seruan berpisah dengan keluarga lalu diimbangi dengan embel2 harus berjanggut, bermodel pakaian tertentu, dan sebagainya.

Hal ini dikarenakan mereka bergerak sesuai harapan pasar. Pasar saat ini menghendaki hal2 yang bernuansa simbolis dan berwujud lahiriah, sehingga semua perubahan2 hrus dibarengi dengan perubahan model lahiriah saja. Padahal berbarengan dengn itu, banyak sekali yang secara moral masih banyak mengundang keluhan kesah masyarakat.

Mereka mengenakan simbol Islam namun melupakan substansinya. Mereka memegahkan bangunan namum lupa memperkokoh karakter pemghuni di dalamnya. Mereka memprioritaskan produk matang tapi lupa mematangkan sistem yang menjadi dapur pacu segala kreativitas di dalamnya.

Bintaro,  Selasa 24 Okt 2017. 21:32

Komentar

Google + Follower's