Abid al-Jabiri, Turats dan Modernitas

Abid al-jabiri, sebagaimana dikutip oleh Abdul Mukti dalam tesisnya (Abid al-jabiri dan Turats Arab, Sps UIN JKT 2008), berkata dalam karya monumentalnya,  al-Turats wa al-Hadarah, "Tujuan hidup manusia itu sendiri adalah untuk menegakkan peradaban. Peradaban jika diamati dapat terima nice atas ikan ke dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Mulai dari pengalaman spiritual, dalam lapangan seni yang kreatif dan arsitektur yang serba rumit, dalam bahasa tutur kata dan manuskrip-manuskrip tertulis, dalam perkembangan sosio-ekonomi, termasuk di dalamnya kemajuan ilmu dan teknologi. "
Sebagai pemikir kontemporer asal Maroko,  ditemani dengan pemikir asal Mesir Hassan Hanafi dan Muhammad Arkoun asal Aljazair, mendeklarasikan pentingnya menjembatani pemahaman teks-teks keislaman dengan modernitas sebagai sebuah keniscayaan relevansi islam dengan kemajuan zaman. Menggagas kajian Kritik Nalar Arab juga menjadi konsentrasi pengembangan intelektualnya.

Dalam kontribusi intelektualnya, seorang pengagum filsafat Ibn Rusyd ini telah menulis karya2 seputar tradisi Arab (Islam) dengan kemodernan. Di antara karyanya yang ramai dikaji adalah : 1)  Nahnu wa al-Turats: Qiroah al-Mu'ashiroh fi Turatsina al-Falfasafi [Kita dan Tradisi: pembacaan Kontemporer atas Tradisi Filsafat Kita], 2)  al-Turats wa al-Hadatsah : Dirasat wa Munaqosyat [Tradisi dan Modernitas: Studi kajian dan perdebatan]

Kedua buku di atas mengulas wacana penjembatanan antara kearifan warisan keilmuan islam berupa teks-teks yang melimpah dengan modernitas.

Abu Rabi' dalam sebuah tulisannya "The Arab World" menyimpulkan bahwa sumbangsih terbesar al-jabiri adalah ketika ia meletakkan landasan epistemologi Arab dalam membangun peradabannya. Menurut Abu Rabi',  kritik al-jabiri terhadap peradaban Arab ialah peradaban Arab adalah 'Peradaban Fiqih'. 
Pakar filsafat kelahiran Maroko 27/12/1935 ini menghabiskan banyak umurnya dalam menimba ilmu di tanah kelahirannya. Maroko, sebagai bagian dari daerah Maghrib (bagian ujung barat Afrika yang bersinggungan dengan Eropa, Tunisia dan Aljazair juga termasuk ke dalam klasifikasi Negara Maghrib) yang pernah dikuasai dan diawasi kerja intelektualnya oleh Perancis sedikit banyak telah mempengaruhi alur berpikir mereka yang nasional-nasionalis.

Kekentalan Perancis dengan pengembangan filsafat juga memengaruhi nuansa berparadigma intelektual Maroko seperti al-jabiri. Cukuplah ketakjuban al-jabiri dengan membuat risalah tesis dan doktotalnya di Rabat, Maroko, yang mengulas Filsafat Ibn Khaldun sebagai bukti kecintaan beliau dengan bidang keilmuan yang satu ini.

Ketertarikan al-jabiri terhadap Ibnu Khaldun diantaranya karena menganggap bahwa Ibnu Khaldun telah memberikan jalan bagi empirisme penelitian sejarah, yang juga rasional.  Ukuran validitas sejarah Ibnu Khaldun adalah pengetahuan "thaba'i al-Umrab" (dinamika2 internal yang umum atau biasa terjadi dalam pengelompokan -pengelompokan sosial manusia)

Ahmad Baso (dalam "Kritik Nalar Arab: Sumber,  Batas-Batas,  dan manifestasi" jurnal Teks, vol 1, no. 1, 2002, h. 73) mengatakan bahwa para pemikir post-Modernisme dan liat q strukturalisme Perancis sedikit banyak mempengaruhi jalan pikiran al-jabiri.

Misalnya, dari Foucalt ia mengambil konsep tentang kritik nalar (arkeologi)  dan kritik nalar politik (genealogi)  yang kemudian diterapkan al-jabiri sebagai suatu bentuk naqd (kritik).  Dari Claude Levi-Strauss dan Lalande,  al-jabiri mengenal suatu pengertian al-aql.  Dan dari Aulthusser al-jabiri mengadopsi 'cara membaca' (reading) terhadap turats.  Pengenalan al-jabiri perihal Perancis dan pemikiran nya sudah dimulai semenjak beliau kuliah di Maroko.

Membaca al-jabiri adalah membaca kecemerlangan yang patut diapresiasikan.

Bintaro, 07/11/2017

Komentar

Google + Follower's